Hati-Hati, Para Pedofil Berkeliaran di Tempat Wisata Indonesia. Jaga Anakmu Baik-Baik!

03 Januari 2018
|Muhammad Sidiq Permadi

Musim liburan telah tiba. Seperti biasa, tempat wisata pasti akan penuh dengan orang-orang yang tengah menghabiskan waktu liburan mereka. Meski sudah tahu bahwa tempat wisata tersebut pasti akan padat, namun tidak banyak juga yang memedulikan hal tersebut dan tetap saja datang ke tempat itu. Namanya juga demi kebahagiaan anak dan keluarga. Namun, akibat terlalu ramai, masyarakat pun jadi berdesak-desakan. Dalam kasus ini, usahakan agar kamu jangan sampai terpisah dengan anggota keluargamu yang lain, terutama anakmu. Kenapa? Karena ternyata kasus pelecehan seksual kepada anak di bawah umur kerap kali terjadi meski di tempat wisata sekalipun. Dalam hal ini, kasus pelecehan seksual dan eksploitasi anak bisa dilakukan oleh wisatawan maupun para pedofil. Kok bisa? Lebih lanjut kita simak bareng-bareng penjelasannya. Yuk, kepo!

1. Pelecehan seksual dapat berupa praktik kekerasan dan eksploitasi seksual

Dalam hal ini, Koordinator ECPAT Indonesia, Ahmad Sofian mengutarakan pendapatnya.

“ "Praktik kekerasan dan eksploitasi seksual anak yang dilakukan sejumlah wisatawan berlangsung di destinasi wisata, dengan memanfaatkan fasilitas pariwisata,” ungkapnya dalam diskusi bertemakan Situasi Terkini Eksploitasi Seksual Komersial Anak di Destinasi Pariwisata Jakarta pada Kamis, 28 Desember 2017. Pernyataan Sofian tersebut membuat pemerintah harus lebih mengetatkan pengamanannya agar tidak kecolongan.

2. Hanya Gunung Kidul yang dikatakan sebagai destinasi wisata teraman

ECPAT Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak telah melakukan sebuah tes assesment pada periode 2016-2017 di 10 kota/kabupaten yang dijadikan sebagai sampel. Kota/kabupaten tersebut adalah Pulau Seribu, Jakarta Barat, Karang Asem (Bali), Lombok, Kefamenahu, Garut (Jawa Barat), Gunung Kidul (Yogyakarta), Bukit Tinggi (Sumatra Barat), Toba Samosir, dan Teluk Dalam (Sumatra Utara). Assesment dilakukan dengan cara observasi lapangan, wawancara, dan focus group discussion (FDG). Hasilnya adalah Gunung Kidul tercatat sebagai tempat yang paling aman dari ancaman kekerasan dan eksploitasi anak, sedangkan Jakarta Barat, Garut, Lombok, dan Teluk Dalam mendapatkan catatan merah sebagai sinyal waspada.

3. Indikator keamanan di tiap-tiap tempat wisata yang ada di Indonesia masih sangat rendah

Oneng Setya selaku asisten Deputi Tata Kelola Destinasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Pariwisata mengakui bahwa sektor pariwisata rentan disalahgunakan untuk eksploitasi anak. Dalam hal ini, pihak yang berkaitan harus saling bantu dalam hal peningkatan keamanan dan kenyaman. Tingkat keamanan di Indonesia sendiri menduduki peringkat ke-89 dari 141 negara.

"Kementerian Pariwisata belum maksimal, kami akui itu. Memang ada kendala di ranah kewenangan. Saat ini kita telah memasuki era desentralisasi, di mana kewenangan daerah ada pada Pemda,"

"Sektor pariwisata sangat menjanjikan, tak hanya meningkatkan devisa tapi juga produk domestik bruto (PDB) dan lapangan pekerjaan. Kesejahteraan masyarakat bisa naik dan tumbuh dari sektor pariwisata. Sebab itu, akademisi, pelaku industri bisnis, communitygovernment, dan media massa perlu bersinergi," pungkasnya.

4. Pedofil sang pemburu anak

Di musim liburan seperti ini, orang tua pasti akan mengajak anak-anaknya untuk pergi ke tempat wisata. Momen seperti inilah yang ditunggu oleh para pedofil di luar sana. Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Imigrasi RI sampai September 2017, sebanyak 107 orang terduga pedofil dari berbagai negara telah dideportasi dari Indonesia. Dari para deportan tersebut, ECTA Indonesia langsung bertindak dan melakukan analisis terhadap 13 WNA sebagai sampel. Hasilnya, sebagian besar pedofil berasal dari Australia.

5. Bali, surga para pedofil

Pulau Bali memang menjadi tujuan utama dari sebagian besar masyarakat untuk menghabiskan waktu liburannya. Dapat dikatakan, para pedofil menjadikan Bali sebagai sasaran utamanya karena merupakan tempat wisata yang mendunia. Berdasarkan analisis terhadap para deportan, mereka diketahui menggunakan maskapai yang tergolong low budget menuju Indonesia.

“Penerbangan murah dimanfaatkan untuk masuk ke Indonesia dan melancarkan aksi. Berdasarkan laporan berbagai media internasional, Indonesia menjadi salah satu pilihan destinasi para pedofil. Mereka menyaru sebagai wisatawan," ungkap Koordinator ECPAT Indonesia Ahmad Sofian.

6. Minimnya langkah pencegahan yang dilakukan

Sofian mengungkapkan bahwa pemerintah dan stakeholder pariwisata wajib bekerja sama dengan melakukan berbagai upaya pencegahan, perlindungan, dan penyelamatan berbagai tempat wisata Indonesia dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

"Kementerian Pariwisata dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) perlu berkolaborasi dalam menyelamatkan destinasi wisata dari para wisatawan tak bertanggung jawab. Selama ini kedua kementerian tersebut belum menunjukkan kolaborasi konkrit dalam mencegah dan melindungi destinasi wisata dari praktik kekerasan dan eksploitasi seksual anak," kata Sofian.

Berlibur memang sangat menyenangkan. Apalagi sama orang-orang tercinta. Jadi, jangan sampai kekerasan dan eksploitasi seksual mengganggu dan mengancam keselamatan anak-anak beserta keluargamu. Selalu dampingi anak dan ajarkan mereka agar tidak mudah mengikuti orang asing yang mencurigakan.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Muhammad Sidiq Permadi
"Linguistics - Semiotican"
SHARES