Hanya Diongkosi 6000 Rupiah Untuk ke Tapanuli, Inilah Kisah Dibalik Lukisan Sisingamangaraja XII

historia.id

Sisingamangaraja merupakan sebuah sebutan atau gelar kehormatan untuk seorang raja/pemimpin di Negeri Toba, Sumatra Utara. Berdasarkan sejarah, Sisingamangaraja XII menjadi tokoh yang paling dikenal publik. Beliau merupakan anak dari Sisingamangaraja XI yang bernama Ompu Sohahuaon. Dalam perjalanan hidupnya, Sisingamangaraja XII merupakan seorang nasionalis yang turut berperang melawan penjajah Belanda. Ia sendiri memiliki nama kecil Patuan Besar. Beliau lahir di Bakara pada tanggal 18 Februari 1845 dan wafat di Dairi pada tanggal 17 Juni 1907 di usianya yang ke-62.

Perlawanan Sisingamangaraja XII terhadap Belanda dimulai ketika para misionaris di Silindung dan Bahal Batu yang diancam untuk diusir oleh Sisingamangaraja XII meminta bantuan kepada Belanda. Pada awalnya, Belanda hanya ingin menyerang markas Sisingamangaraja, namun lambat laun rencana tersebut berubah dan pada akhirnya mereka ingin menguasai seluruh Toba.

gardanasional.id

Meski dengan pasukan seadanya, Sisingamangaraja XII berhasil mempersulit tujuan dari Belanda. Namun, setelah Belanda menambah pasukan dengan mendatangkan Residen Boyle yang dipimpin oleh Kolonel Engels sebanyak 250 orang tentara, akhirnya pahlawan nasional ini berhasil dipukul mundur oleh Belanda dan mengalami berbagai kesulitan dalam perlawanannya meski belum juga tumpas. Akhirnya, pada bulan Desember 1878, beberapa kawasan seperti Butar, Lobu Siregar, hingga Gurgur berhasil dikuasai Belanda.

Pada tanggal 17 Juni 1907, Sisingamangaraja XII akhirnya tewas dalam sebuah pertempuran yang berlangsung di pinggir bukit Lae Sibulbulen yang terletak di desa Si Ennem Kodn dan berlokasi di perbatasan Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Dairi. Beliau pun akhirnya dimakamkan secara militer oleh Belanda pada tanggal 22 Juni 1907, sebelum dikebumikan, mayat beliau terlebih dahulu diarak di hadapan masyarakat Toba. Makamnya lantas dipindahkan ke Makam Pahlawan Nasional yang ada di Soporusung pada tanggal 14 Juni 1953. Untuk menghargai jasanya, pemerintah pun kemudian memberikan gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional kepada Sisingamangaraja XII.

pecintawisata.wordpress.com

Setelah peperangan panjang itu berakhir dan Ir. Soekarno serta Muhammad Hatta telah memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, cerita mengenai perjuangan heroik dari Sisingamangaraja XII seakan menghilang di telan bumi. Barulah pada tahun 1954, keluarga besar masyarakat Tapanuli mengadakan sebuah pertemuan yang diselenggarakan oleh panitia Panitia Sisingamaraja XII di gedung Adhuc Stadt (sekarang Bappenas) di Menteng, Jakarta Pusat.

Dalam pertemuan itu, Augustin Sibarani, seorang pelukis dan karikaturis termasyhur di Indonesia diminta untuk membuat lukisan Sisingamangaraja XII sebagai bentuk penghormatan. Sibarani diminta untuk melukis Sisingamangaraja XII berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Sultan Paguruban Pane, ayah dari pengarang terkenal, Sanusi dan Armijn Pane, yang pada saat Sisingamangaraja XII masih hidup bekerja sebagai klerk atau juru tulis di kantor pemerintah Hindia Belanda yang berlokasi di wilayah Sibolga.

 

cabiklunik.blogspot.co.id

Sibarani pun membuat lebih dari sepuluh sketsa berdasarkan keterangan yang didapatnya. Meski ada salah satu yang dirasa cukup mirip, namun Sultan Paguruban Pane menyuruh Sibarani untuk pergi ke Tapanuli guna menyempurnakan lukisannya. Pihak panitia pun kemudian mengumpulkan sejumlah uang untuk memberangkatkan Sibarani ke Tapanuli, namun uang tersebut tidak pernah sampai ke tangannya lantaran adanya tindak penyelewengan yang dilakukan oleh salah satu anggota panitia. Sejak saat itu, cerita tentang Sisingamangaraja XII dan lukisannya pun seakan menghilang begitu saja.

Setelah sekian lama isu mengenai lukisan Sisingamangaraja XII tidak terdengar, barulah pada tahun 1961 isu tersebut mencuat kembali setelah Ir. Soekarno memutuskan akan mengangkat Sisingamangaraja XII sebagai salah satu pahlawan nasional. Pada Agustus 1961, cerita tentang Sibarani dan lukisan Sisingamangaraja XII pun kembali dimulai. Pada waktu itu, ia didatangi oleh Kolonel Rikardo Siahaan, tokoh pejuang Medan Area, bersama dengan Kapten Sinaga. Mereka meminta Sibarani untuk merampungkan lukisan Sisingamangaraja XII karena akan diserahkan kepada Ir. Soekarno pada tanggal 10 November 1961. Sibarani pun kemudian diberikan uang sebesar Rp 6000 untuk pergi ke Tapanuli guna menyelesaikan lukisannya.

Sesampainya di Tapanuli, ia disambut oleh pensiunan Bupati yang mengaku sebagai putra Raja Ompu Babiat Situmorang, raja yang turut berjuang bersama Sisingamangaraja XII di medan perang, tepatnya di wilayah Dairi. Sibarani yang kala itu ditemani oleh pelukis Batara Lubis dan Amrus Natalsya pun kemudian mengunjungi Harianboho (Samosir) yang terletak di tepi Danau Toba untuk menemui Raja Ompu Babiat Situmorang. Di sana, Raja Ompu menjelaskan ciri-ciri dari kawan seperjuangannya itu, seperti tingginya yang mencapai 2 meter, bentuk wajah yang agak lonjong, tidak berkumis, beralis tebal, jenggot yang agak kemerahan pada ujung-ujungnya dan sedikit mengarah ke atas, berambut panjang dan diikat seperti timpus (buntelan di belakang kepala), dadanya bidang dengan bulu yang sedikit kasar, berhidung mancung sedikit besar, dan dahi yang lebar.

harianboho.wordpress.com

Selain mendapatkan keterangan tersebut, Sibarani pun mendapatkan foto dari Putra Sisingamangaraja XII, yakni Raja Buntal dan Raja Sabidan dari tangan putri Sisingamangaraja XII. Setelah mendapatkan berbagai keterangan mengenai ciri-ciri dari Sisingamangaraja XII, Sibarani pun kemudian membutuhkan seorang model. Pada akhirnya, pilihannya jatuh pada putra dari Raja Buntal, Patuan Sori karena memiliki kemiripan dengan keterangan yang didapatkan. Selama beberapa hari, Patuan Sori pun diminta untuk mengenakan pakaian Sisingamangaraja XII. Setelah lukisan selesai, Raja Barita Sinambela selaku anak dari Sisingamaraja XII serta seorang tua marga Sinambela merestui lukisan Sisingamangaraja XII hasil tangan Sibarani.

Setelah lukisan Sisingamangaraja XII selesai dibuat, Sibarani pun berniat untuk menyerahkan lukisan tersebut kepada Kolonel Rikardo. Namun, hal tersebut tertunda lantaran terdapat penolakan dari seorang wanita tua berusia 72 tahun yang mengaku sebagai kakak dari Lopian, putri dari Sisingamangaraja XII yang turut wafat bersama ayahnya. Sambil melihat lukisan yang dibuat oleh Sibarani, wanita tua tersebut mengoreksi lukisan tersebut dengan mengatakan bahwa bulu dada dari Sisingamangaraja XII tidaklah terlalu tebal, jenggotnya tidak terlalu panjang, hidungnya kurang besar, dan alis matanya yang terlalu tebal. Keesokan harinya, Sibarani pun mengoreksi lukisannya itu dan akhirnya direstui oleh sang wanita tua. Sibarani pun menyerahkan lukisan Sisingamangaraja XII kepada Kolonel Rikardo. 

stomatarawamangun.wordpress.com

Pada hari upacara penyerahan lukisan Sisingamangaraja XII kepada Presiden Soekarno, turut hadir anggota panitia, tokoh-tokoh terkemuka sipil dan militer, serta keluarga keturunan Sisingamangaraja XII. Upacara tersebut berlangsung di Istana Negara pada Desember 1961. Ketika lukisan Sisingamangaraja XII diserahkan kepada Presiden Soekarno, wanita tua itu pun berteriak “Among (ayah)”, kemudian pingsan.

Sementara itu, pernyataan atas pengakuan lukisan Sisingamangaraja XII yang dibuat oleh Sibarani dan penandatanganan oleh semua tokoh yang memiliki hubungan kekerabatan dengan Sisingamangaraja XII tidak dapat dihadiri oleh Sibarani lantaran harus menghadiri perayaan hari ulang tahun dari sang ibu di Medan. Meski begitu, jasa dari Sibarani akan terus dikenang, terutama oleh masyarakat Tapanuli beserta para keturunan Sisingamangaraja XII.  

0%
Marah
0%
Gokil
0%
Lucu
0%
Kaget
0%
Suka
0%
Aneh
SHARES
Dibilang Mirip Yahudi, Ini 7 Fakta Menarik Ugamo Malim, Kepercayaan Asli Suku Batak

Dibilang Mirip Yahudi, Ini 7 Fakta Menarik Ugamo Malim, Kepercayaan Asli Suku Batak

Diutus Menggantikan Kapal Legendaris Indonesia, Dewa Ruci, Inilah KRI Bima Suci. Kece Badai!

Diutus Menggantikan Kapal Legendaris Indonesia, Dewa Ruci, Inilah KRI Bima Suci. Kece Badai!

Belajar Toleransi dari Dr. KH. Idham Chalid, Pahlawan di Uang Lima Ribuan yang Baru

Belajar Toleransi dari Dr. KH. Idham Chalid, Pahlawan di Uang Lima Ribuan yang Baru

Seru Tapi Rawan Bahaya, Tradisi Pasola Ini Jadi Olahraga Ekstrim dengan Kearifan Lokal!

Seru Tapi Rawan Bahaya, Tradisi Pasola Ini Jadi Olahraga Ekstrim dengan Kearifan Lokal!

Inilah Perbedaan Suasana Perkeretaapian di Indonesia Zaman Dahulu hingga Sekarang. Sudah Beda Banget!

Inilah Perbedaan Suasana Perkeretaapian di Indonesia Zaman Dahulu hingga Sekarang. Sudah Beda Banget!

Dari Perampok Sampai Pembunuh Berantai, Inilah 5 Penjahat Legendaris di Indonesia yang Menakutkan!

Dari Perampok Sampai Pembunuh Berantai, Inilah 5 Penjahat Legendaris di Indonesia yang Menakutkan!

loading