Guruku Sayang,Guruku Malang. Begini Nasib Tenaga Honorer Guru di Tahun 2018. Miris!

07 Maret 2018
|Muhammad Sidiq Permadi
0SHARES

Guru merupakan profesi yang paling mulia dari profesi yang pernah ada di dunia. Berkatnya, seseorang bisa menjadi pejabat, menteri, hingga presiden. Tanpa didikannya, mungkin negara akan menjadi kacau balau. Namun di Indonesia, nasib guru seakan terlunta-lunta. Terlebih bagi mereka yang masih berstatus sebagai tenaga honorer.

Kabarnya, tahun 2018 ini akan menjadi tahun kebahagian buat para guru honorer. Hal itu karena terdapat wacana akan diangkatnya tenaga kerja honorer di lingkungan tenaga pendidikan pada tahun 2018. Namun ternyata, kabar tersebut hanya sebatas angin surga sementara. Sampai saat ini, proses pengangkatan itu pun belum pernah terlaksana.

Kemenpan-RB kabarnya telah meminta kepada Kemendikbud untuk mendata jumlah tenaga guru honorer. Pendataan ini dilakukan untuk mengetahui jumlah guru honorer yang isunya akan diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada tahun 2018 ini. Menurut Asman Abnur selaku Menpan-RB, pemerintah harus menentukan kriteria guru honorer yang layak diangkat sebagai PNS karena ada sebagian dari mereka yang tidak lolos tes CPNS kemarin, namun tetap mengajar di sekolah-sekolah dengan status guru honorer.

"Kriterianya seperti apa, sekarang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sedang mendata itu. Jadi, sehingga tahu berapa sih angka (guru honorer) sebenarnya. Nanti saya berkoordinasi terlebih dahulu dengan Mendikbud, karena itu datanya dari mereka," ucapnya seperti yang dilansir dari detik.com.

Sementara itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan sangat menyetujui rencana pengangkatan puluhan ribu tenaga honorer di tahun ini. Bahkan, JK dikabarkan telah berbicara langsung dengan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi tentang rencana ini. Menurutnya, jumlah guru yang pensiun di Indonesia lebih banyak ketimbang jumlah guru yang diangkat. Atas dasar inilah wacana pengangkatan tenaga honorer ini dicuatkan.

"Karena itu saya sudah bicarakan, dan Presiden sudah setuju untuk mengangkat guru (honorer) yang puluhan ribu itu, kita angkat, tidak menjadi soal," ujar Jusuf Kalla, Rabu (7/2) seperti yang dilansir dari Republika.co.id.

JK pun bercermin pada kasus yang menimpa salah satu guru honorer di SMAN 1 Torjun, Kabupaten Sampang yang bernama Ahmad Budi Cahyanto (26). Ahmad meninggal akibat dianiaya muridnya sendiri. Menurut JK, status sang guru yang masih tenaga honorer menjadi salah satu faktor yang menyebabkan wibawa seorang guru direndahkan oleh para siswa.

"Tentu kita sedih sekali mendengar guru dengan gaji yang Rp 400 ribu, kemudian pula mungkin karena kurang berwibawa karena gaji rendah, maka akhirnya dilawan muridnya. Tentu itu sedih sekali mendengarkan itu, karena itulah kita harus perhatikan," kata Wapres.

Berdasarkan data pemerintah, Indonesia saat ini kekurangan ratusan ribu guru dan semuanya itu diisi oleh para tenaga honorer. Menurut Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Unifah Rosyidi, berdasarkan UU Guru dan Dosen, pemerinta daerah (pemda) dapat mengangkat guru jika suatu daerah kekurangan guru. Aturan yang membatasi rekrutmen secara umum harusnya tidak berlaku bagi tenaga pendidik jika mengacu pada UU Guru dan Dosen.

"Guru honorer itu dibayar pakai BOS, hanya 15 persen. Kita bicara mutu, kualitas, tapi kondisi kekurangan guru memprihatinkan," ucapnya.

Meski dengan berbagai wacana dan kabar baik tersebut, nasib tenaga honorer pun kini masih terlunta-lunta. Mereka yang telah menjadi tenaga honorer berpuluh-puluh tahun belum tentu bisa diangkat sebagai PNS. Mereka jadi abdi negara yang seakan terlupakan jasanya. Semoga wacana pengangkatan ratusan ribu tenaga honorer pada tahun 2018 ini bisa terlaksana, ya.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Muhammad Sidiq Permadi
"Linguistics - Semiotican"
0SHARES