Guling sebagai Warisan Budaya dan Bukti "Kesetiaan yang Pelit" dari Orang Belanda

03 Juli 2017
|Atik Kencana S.
356SHARES

Salah satu kegiatan dalam hidup yang paling menyenangkan adalah tidur atau hanya tidur-tiduran semata. Pastinya, dalam kegiatan tersebut ada banyak orang yang merasa tidurnya tidak lengkap kalau tidak ada yang namanya guling. Sahabat setia bantal ini memang nyaris gak pernah absen di tiap ranjang umat manusia. Betul gak?

Nah, namun gak semua orang tau mengenai asal-usul guling yang ternyata menyimpan beragam kisah menarik. Penasaran dengan asal usul guling? Yuk, langsung aja kita kepoin bareng YuKepo!

Siapa yang sangka ternyata proses penemuan guling tidak terjadi tanpa ketidaksengajaan? Teman setia di ranjang ini ternyata sudah ada sejak zaman kolonialisme Belanda dulu. Hal tersebut pernah diceritakan oleh sastrawan terkemuka Indonesia, yaitu Pramoedya Ananta Toer. Pram pernah bercerita dalam salah satu novel tetraloginya yang berjudul Jejak Langkah. Asal usul guling tersebut diceritakan dalam sebuah percakapan antarsesama mahasiswa STOVIA yang merupakan sekolah khusus dokter bagi pribumi. Wilam bercerita kepada sahabatnya mengenai kehidupan para tuan tanah Inggris, termasuk pada Minke. Ceritanya adalah pada saat kedatangan Bangsa Belanda dan Eropa ke Hindia, mereka tidak bisa membawa perempuan untuk memenuhi hasrat mereka. Namun, bisa saja mereka menyewa para gundik atau PSK untuk menyalurkan nafsu birahinya. Akan tetapi, karena orang Belanda memang terkenal pelit, makanya mereka tak mau menggundik. Mereka membuat guling untuk menggantikan peran gundik sebagai teman tidur mereka. 

Kisah mengenai guling tidak cukup sampai di situ saja. Dulunya guling memiliki nama yang unik, yaitu “Dutch Wife” atau Istri Belanda. Sebutan unik ini dibuat oleh Thomas Stanford Raffles yang merupakan Letnan Gubernur Jenderal Inggris setelah berhasil melengserkan kekuasaan Belanda. Perselisihan antara Belanda dan Inggris di Hindia memang begitu pelik hingga menyangkut persoalan guling. Sebutan “Dutch Wife” yang dibuat oleh Inggris bermaksud mengejek Belanda. Apalagi penggunaan kata “Dutch” yang identik dengan sesuatu yang bersifat ejekan atau merendahkan. Hingga pada tahun 1934, pemerintah Belanda berusaha mengganti kata “Dutch” menjadi “Netherlands”. Sebaliknya, orang Belanda juga memberikan nama yang serupa tapi tak sama untuk guling ini. Mereka menyebut guling dengan istilah “British Doll” yang berarti Boneka Inggris. 

Keberadaan guling memang menjadi salah satu barang yang wajib dimiliki oleh setiap rumah. Bebas-bebas aja. Namun awalnya, guling merupakan salah satu simbol dan gaya hidup orang dengan derajat yang tinggi dibandingkan orang kebanyakan. Jadi, kalau dulu seseorang bisa tidur ditemani dengan guling, udah pasti ia bukan orang sembarangan. Pramoedya Ananta Toer juga pernah menuliskan bahwa kebiasaan menggunakan guling memang diikuti oleh orang pribumi yang dipelopori oleh kaum priayi atau golongan atas. Maka, sejak saat itulah guling menjadi teman tidur setia di Indonesia dan beberapa negara lainnya.

Nah, itulah tadi asal usul penggunaan guling di Indonesia. Gak nyangka ya ternyata guling memang dibuat untuk menemani orang Belanda tidur yang tidak mau menyewa gundik. Antara kesetiaan dan jiwa pelit memang agak beda tipis ya dalam konteks ini. 


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Atik Kencana S.
"Semper Fi"
356SHARES