Fakta dan Mitos Burung Garuda sebagai Lambang Negara, Apakah Benar-Benar Ada?

31 Maret 2018
|Muhammad Sidiq Permadi
0SHARES

Burung Garuda dinobatkan sebagai lambang dari Negara Republik Indonesia. Sejak resmi merdeka, burung yang satu ini selalu menghiasi dinding-dinding sekolah dengan bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika. Namun, yang menjadi perdebatan banyak pihak adalah apakah burung Garuda itu benar-benar ada atau hanya sekadar mitos belaka? Berikut fakta dan mitos yang menyelimuti sosok burung Garuda sebagai lambang Negara Republik Indonesia.

1. Asal usul kata Garuda

Berdasarkan catatan sejarah, Garuda merupakan salah satu dewa dalam ajaran agama Hindu. Ia merupakan wahana yang digunakan oleh Dewa Wisnu untuk menyebarkan kebaikan. Garuda digambarkan memiliki tubuh berwarna emas, berwajah putih, serta bersayap merah. Paruh serta sayapnya menyerupai elang, namun tubuhnya menyerupai manusia. Garuda memiliki ukuran yang sangat besar. Bahkan ukurannya tersebut dapat menghalangi cahaya matahari yang menuju ke bumi.  

2. Garuda dalam mitologi Hindu

Kisah tentang burung Garuda ditemukan pada bagian awal dalam kitab Mahabharata dan Purana. Berdasarkan kitab tersebut, Garuda merupakan anak dari Begawan Kasyapa. Begawan ini memiliki dua orang istri, yakni Sang Kadru dan Sang Winata.

Setelah sekian lama menikah, kedua istri dari Begawan Kasyapa tak kunjung melahirkan seorang anak. Akhirnya sang Begawan memberikan 1000 telur untuk Kadru dan 2 telur untuk Winata. Tak lama kemudian, telur milik Kadru menetas menjadi 1000 ekor ular sakti, sedangkan telur milik Winata tak kunjung menetas. Karena merasa malu, ia pun memecahkan satu telur tersebut dan keluarlah seekor burung kecil yang tampak belum sempurna dan cacat karena tidak memiliki kaki. Burung kecil tersebut diberi nama Anaruh. Sementara telur yang satu lagi dijaga dan diperhatikan dengan baik oleh Winata.

Suatu hari, Kadru dan Winata melakukan sebuah pertaruhan. Hasilnya, Winata kalah karena kelicikan Kadru dan harus melayani Kadru beserta 1000 ekor ular miliknya. Tak lama setelah itu, telur Winata yang satu lagi pun kemudian menetas dan melahirkan sosok Garuda. Garuda pun dengan segera menolong ibunya. Akan tetapi, ada satu syarat yang harus dipenuhi Garuda agar Kadru dapat membebaskan Winata. Ia harus mengambil air kehidupan milik para dewa yang disebut Amerta. Demi menolong sang ibu, akhirnya Garuda pergi dan terjadilah pertarungan antara ia dan para dewa penjaga.

Pada akhirnya Garuda berhasil mengambil Amerta dan membawanya kepada Kadru. Wanita licik tersebut beserta 1000 ekor ular miliknya sangat girang. Winata pun kemudian dibebaskan. Melihat sang ibu telah berada di sisinya, Garuda mencoba untuk mengembalikan air kehidupan milik para dewa tersebut. Ia pun kemudian mengibas-ngibaskan sayapnya agar ular-ular tersebut menjadi kotor tubuhnya. Ular-ular itu pun kemudian pergi ke sungai untuk membersihkan badan mereka. Di saat itulah Garuda kemudian mengambil Amerta dan pergi untuk mengembalikan air kehidupan tersebut. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan Dewa Wisnu. Ia pun kemudian menyerahkan air tersebut dan meminta agar air tersebut dikembalikan kepada para dewa. Sejak saat itu, Garuda pun kemudian naik tahta dan diangkat sebagai tunggangan Dewa Wisnu. 

3. Kenapa Garuda dipilih sebagai lambang Negara Republik Indonesia?

Pada suatu waktu, Soekarno tengah disibukkan untuk mencari sesuatu yang dapat menggambarkan jati diri bangsa Indonesia. Bung Karno pun kemudian melihat bahwa jati diri bangsa Indonesia yang asli terlihat pada masa kerajaan Hindu-Budha di Indonesia, terutama ketika masa Kerajaan Majapahit. Pada akhirnya, disepakati jika warna merah-putih dari bendera Indonesia mengadopsi bendera Kerajaan Majapahit.

Perihal lambang negara, Soekarno kemudian membuat sebuah sayembara. Ia pun kemudian tertarik pada rancangan Sultan Hamid II yang berbentuk burung garuda. Menurutnya, rancangan milik Sultan Hamid II tersebut sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia, yakni kehindu-an dan kebudha-an.

Bung Karno pun untuk pertama kalinya memperkenalkan lambang negara itu pada khalayak umum pada 15 Februari 1950 di Hotel Des Indes Jakarta. Lambang tersebut terus disempurnakan hingga pada 20 Maret 1950 didapatlah bentuk final dari lambang Negara Indonesia tersebut.

4. Lalu, apakah burung Garuda itu benar-benar ada?

Terlepas dari cerita yang terdapat dalam kitab Mahabharata tentang sosok Garuda, apakah benar-benar ada seekor burung garuda di kehidupan nyata? Atau burung tersebut hanyalah sebuah mitos belaka?

Menurut para ahli, keberadaan burung Garuda benar-benar ada meskipun memiliki nama yang berbeda. Berdasarkan kesamaan bentuk dan ciri yang dimiliki oleh sosok Garuda pada lambang Negara Indonesia, ada satu burung yang dinilai memenuhi kriteria tersebut. Burung itu adalah Elang Jawa atau Spizaetus.

Populasi dari Elang Jawa saat ini tersisa kurang lebih 600 ekor. Jumlah tersebut membuat ia ditetapkan sebagai satwa langka oleh pemerintah Indonesia. Elang Jawa memang cukup digemari oleh masyarakat Indonesia dan bahkan dunia.

Ketika dewasa, ukuran tubuhnya bisa mencapai 60 hingga 70 cm. Kepalanya rata-rata berwarna coklat dengan jambul yang cukup menonjol, yakni sekitar empat helai. Elang Jawa ini saat ini banyak terdapat di kawasan hutan yang ada di Ujung Kulon serta Semenanjung Blambangan.

Nah, berdasarkan cerita di atas, kamu sudah bisa menyimpulkan bukan apakah burung garuda itu benar-benar ada atau hanya sekadar mitos? Bagaimanapun, Burung Garuda adalah lambang kebangsaan kita yang mestinya kita pahami betul segala seluk beluknya. Karena kalau bukan kita, siapa lagi? Rela kalau orang asing lebih tau sejarah dan budaya kita?


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Muhammad Sidiq Permadi
"Linguistics - Semiotican"
0SHARES