Dulu Gemerlap dan Mewah, Kota Judi Marina City di Batam Kini Jadi Kota Mati

destinasian.co.id

Batam menjadi satu dari banyaknya sejarah kelam di Indonesia. Salah satunya adalah Marina City, kota yang dulunya dikenal sebagai markas perjudian yang kini telah berubah menjadi kota mati. Bukannya berlebihan, namun kenyataannya memang demikian. Gemerlap lampu dan musik di Marina City kini tak pernah lagi terdengar semenjak dilumpuhkan oleh pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Mau tahu lebih jauh tentang kota mantan tempat perjudian terbesar di Indonesia ini? Yuk, kita simak bersama-sama.

1. Markas judi yang dekat dengan Singapura

bloggerpapua.org

Lokasi Batam yang memang dekat dengan negara tetangga, Singapura menjadikan kawasan ini cukup bebas dalam hal jual beli. Penduduk di sini hidup dengan kondisi berkecukupan. Bahkan, di sini saja tukang ojek mampu membeli mobil mewah. Kawasan ini selalu didatangi oleh turis asing setiap harinya dan perjudian telah menjadi hal yang umum atau bisa dibilang sebagai gaya hidup masyarakat di sini. Setiap malamnya, kawasan pelabuhan selalu penuh oleh lautan manusia dan rumah gadang menjadi meja tempat peruntungan mereka hingga tengah malam.

2. Lumpuh sejak era SBY

www.liputan6.com

Seperti yang dikatakan sebelumnya, kota ini berubah total menjadi kota mati semenjak pemerintah SBY melarang perjudian di Indonesia. Para penduduk pun merasa sudah tidak bisa lagi menggantungkan hidupnya di sini dan perlahan kota ini pun mulai ditinggalkan.

3. Kota hantu

www.sisidunia.com

Semenjak ditinggal pergi oleh para penduduknya, suasana di kota ini pun berubah 360 derajat. Dari yang tadinya ramai, penuh hiruk pikuk serta dentuman musik, kini hanya ada suara angin serta pemandangan menyedihkan yang tertinggal di kota ini. Rumah-rumah megah yang ada di sini tidak terurus bahkan catnya banyak yang mengelupas serta mulai dipenuhi oleh rumput dan semak belukar. Menurut penduduk sekitar, suasana ketika malam di kota ini sungguh horor dan menyeramkan.

4. Menjadi destinasi wisata gratis
www.boombastis.com

Pemerintah Batam kemudian menyiasati tempat ini dengan cukup cerdik dengan menjadikan Marina City sebagai destinasi wisata gratis bagi para pelancong. Namun, karena gratis dan pemerintah gak terlalu campur tangan, maka jangan heran jika tidak ada pengawasan berlebih ketika berkunjung ke sini. Kamu pun harus ekstra hati-hati karena bangunan di sini sudah benar-benar gak keurus dan sewaktu-waktu bisa saja runtuh.

Meski disebut sebagai kota hantu, tapi sebenarnya Marina City tidak benar-benar seperti kota mati. Bahkan, beberapa warga negara asing pun ada yang tinggal di sini dan mereka membuka bar kecil-kecilan untuk konsumsi pribadi mereka. Perekonomian di tempat ini bisa saja kembali terangkat jika ada tindakan yang cukup bijak dari pemerintah Indonesia untuk mengatasi hal ini. Kalau kamu penasaran seperti apa suasana di Marinia City, silakan saja berkunjung langsung ke tempat ini.

0%
Marah
0%
Gokil
0%
Lucu
0%
Kaget
0%
Suka
0%
Aneh
SHARES
Kisruh Puisi Sukmawati yang Dianggap Menistakan Agama, Karya Sastra Ini Pun Bernasib Serupa!

Kisruh Puisi Sukmawati yang Dianggap Menistakan Agama, Karya Sastra Ini Pun Bernasib Serupa!

Banyak Untungnya, Inilah yang Akan Terjadi Jika Ibu Kota Negara Pindah Ke Papua!

Banyak Untungnya, Inilah yang Akan Terjadi Jika Ibu Kota Negara Pindah Ke Papua!

Diperkarakan Banyak Orang, Begini Lika-Liku Keributan Puisi Kontroversial Sukmawati. Bikin Ngelus Dada!

Diperkarakan Banyak Orang, Begini Lika-Liku Keributan Puisi Kontroversial Sukmawati. Bikin Ngelus Dada!

Menebak-nebak Cawapres yang Akan Mendampingi Jokowi pada Pilpres 2019 Mendatang, Siapa ya?

Menebak-nebak Cawapres yang Akan Mendampingi Jokowi pada Pilpres 2019 Mendatang, Siapa ya?

Cerita Cinta The Smiling General: Dijodohkan dengan Ibu Tien, Soeharto Grogi Bukan Kepalang!

Cerita Cinta The Smiling General: Dijodohkan dengan Ibu Tien, Soeharto Grogi Bukan Kepalang!

Dari Ujung Barat Hingga Ujung Timur, Inilah 8 Tempat di Indonesia yang Diakui UNESCO!

Dari Ujung Barat Hingga Ujung Timur, Inilah 8 Tempat di Indonesia yang Diakui UNESCO!

loading