Dr. Saharjo S.H., Tokoh Nasional Pencetus Istilah "Narapidana" yang Kini Dilupakan Publik

31 Januari 2018
|Median
0SHARES

Begitu banyak pahlawan dan tokoh nasional yang berjasa bagi negara di masa-masa kemerdekaan Indonesia, mulai dari yang angkat senjata melawan kolonial secara langsung,  merumuskan dasar negara, sampai dengan yang terus membangun dan memperbaiki sistem pemerintahan agar selalu pro-rakyat dan sesuai dengan kepribadian bangsa.

Saking banyaknya, ada juga di antara tokoh-tokoh tersebut yang namanya kurang begitu dikenal publik, terutama tokoh-tokoh di bidang pemerintahan, padahal jasanya juga tidak kalah besar bagi negara. Salah satu tokoh tersebut adalah Dr. Saharjo, S.H., seorang ahli hukum yang jasanya luar biasa bagi sistem hukum di Indonesia. Nah,  kalau kamu belum begitu kenal dengan Dr. Saharjo, S.H., sekarang waktunya untuk lebih mengenal beliau.

            Dr. Saharjo S.H. adalah seorang ahli hukum kelahiran Surakarta, 26 Juni 1909. Selama mengabdi di Departemen Kehakiman (sekarang Kementerian Hukum dan HAM RI), putra abdi dalem Keraton Surakarta, R. Ngabei Sastroprayitno, tersebut adalah tokoh yang berjasa dalam menemukan istilah-istilah hukum yang lebih tepat dan tidak berkonotasi kasar. Sebelum terjun di bidang hukum, Dr. Saharjo S.H. sebelumnya bercita-cita menjadi dokter dan bahkan sudah sempat bersekolah di sekolah kedokteran, STOVIA. Oleh karena ternyata kemudian merasa bakatnya bukan menjadi seorang dokter, beliau pun memutuskan untuk keluar dan pindah ke AMS (sekolah setingkat SMA). Sebelum kemudian melanjutkan ke Fakultas Hukum, beliau sempat bekerja sebagai tenaga pengajar di sebuah perguruan rakyat di Jakarta dan aktif menjadi anggota Partai Indonesia (Partindo).

Setelah melanjutkan ke perguruan tinggi dan lulus tahun 1941, kariernya di bidang hukum dimulai dengan bekerja di Departemen Kehakiman. Kariernya pun terus bersinar hingga pernah memegang jabatan sebagai Sekretaris Jenderal Departemen Kehakiman, Menteri Kehakiman dalam Kabinet Kerja I, II, dan III, dan Wakil Perdana Menteri bidang Dalam Negeri. Perjalanannya yang panjang tersebut akhirnya selesai sudah ketika beliau meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 13 November 1963, di usianya yang ke-54 tahun, karena pendarahan otak yang dideritanya.

Selama berkarier di Departemen Kehakiman, ahli hukum yang hidupnya terkenal sederhana tersebut telah mencetuskan usulan-usulan brilian di bidang hukum, seperti mengusulkan penggunaan lambang pohon beringin untuk mengganti Dewi Yustisia yang waktu itu digunakan sebagai lambang Departemen Kehakiman. Menurut beliau, pohon beringin lebih sesuai dengan Indonesia dan cocok dijadikan sebagai lambang pengayoman dan perlindungan bagi rakyat yang menginginkan keadilan hukum. Usul luar biasa tersebut akhirnya diterima oleh para peserta Seminar Hukum Nasional pada tahun 1963.

Selain usul penggunaan lambang pohon beringin, Dr. Saharjo, S.H. juga mengusulkan penggunaan istilah-istilah hukum yang lebih tepat dan sesuai, seperti penggunaan istilah 'narapidana' untuk mengganti 'orang hukuman' dan 'pemasyarakatan' untuk mengganti 'penjara'. Menurut Dr. Saharjo S.H., alasannya adalah bahwa hukuman yang diberikan kepada orang yang dinyatakan bersalah tidak dimaksudkan sebagai siksaan, tetapi mereka dididik untuk menyadari kesalahannya agar setelah bebas dan kembali ke masyarakat, mereka dapat memperbaiki kesalahannya dan menjadi orang yang lebih baik. Usul tersebut juga diterima dan disahkan melalui Konferensi Kepenjaraan di Bandung pada tanggal 27 April 1964.

Sebenarnya, jasa-jasa Dr. Saharjo, S.H. lainnya di dunia hukum Indonesia masih banyak. Penggunaan lambang pohon beringin serta penggunaan istilah 'narapidana' dan 'pemasyarakatan' hanya sebagian kecil bukti peninggalan tokoh yang dianugerahi pemerintah dengan gelar Satya Lencana Kemerdekaan dan Pahlawan Nasional tersebut. Sedikit-sedikit semoga kamu sekarang sudah lebih mengenal pahlawan kita satu ini, ya.

 


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Median
"Nata polah."
0SHARES