Dikira Sebagai Lagu Pemanggil Kuntilanak, Inilah Makna Lagu Lingsir Wengi Sebenarnya

17 April 2017
|Atik Kencana S.
0SHARES

Semenjak kemunculan film Kuntilanak yang dibintangi oleh Julie Estelle pada tahun 2006 ini, kita jadi familiar dengan sebuah tembang Jawa yang berjudul “Lingsir Wengi”. Di film yang menceritakan tentang pemanggilan kuntilanak dengan menyanyikan durma Lingsir Wengi tersebut seakan-akan menjadi sebuah cara sungguhan untuk memanggil makhluk berambut panjang tersebut.

Bagi beberapa orang yang mendalami ilmu Jawa tentunya sudah tidak asing lagi dengan lagu dengan irama mendayu dan berkesan suram ini. Karena memang lagu ini memang diciptakan bukan untuk memanggil roh gentayangan apalagi kuntilanak. Sebenarnya lagu ini memang memiliki makna yang lebih dalam lagi dari hanya sekedar pemanggilan hantu. Gak heran kalau lagu ini memang sering dinyanyikan dalam lingkungan keluarga dengan darah Jawa yang sangat kental.

Kali ini YuKepo mau membedah mengenai makna tembang “Lingsir Wengi” yang ternyata sudah mengalami pergeseran sejak muncul di film horor tersebut. Makna yang dimiliki lagu ini ternyata sangat dalam. Penasaran kan? Yuk langsung aja simak ulasannya berikut ini:

Kalau sebelumnya kita mengenal lagu ini begitu melekat dengan suasana mencekam bahkan cenderung untuk mengundang makhluk dimensi lain untuk bergabung, ternyata beda banget dengan keadaan pemaknaan aslinya. Siapa yang sangka kalau lagu ini justru lebih bersifat religius dan hal itu berarti jauh sekali dengan lagu pemanggilan hantu yang bisa dibilang tindakan berdosa. 

Lagu ini diciptakan menggunakan pakem gending Jawa yaitu Macapat. Dari ke-11 jenis macapat yang ada, lagu Lingsir Wengi menggunakan pakem Durma. Karena menggunakan pakem Durma, gak heran kalau lagu Lingsir Wengi memiliki suasana yang suram, sangar, mengerikan dan mencerminkan kesedihan yang mendalam. Maka dari itu, tembang Lingsir Wengi memang dilantunkan dengan mendayu-dayu dan menggunakan tempo yang menyayat hati.

Sejarahnya, lagu ini merupakan ciptaan dari salah satu penyebar agama Islam di pulau Jawa yang sering kita sebut sebagai Walisongo. Lebih tepatnya, Sunan Kalijaga lah yang menciptakan lagu ini. Tembang ini memang diciptakan oleh Sunan Kalijaga dalam rangka penyebaran agama Islam. Perlu diketahui bahwa metode penyebaran Islam melalui kesenian memang merupakan cara khas Sunan Kalijaga dalam hal dakwahnya.

Tembang Jawa ini memang diciptakan oleh Sunan Kalijaga sebagai doa yang diucapkan setelah shalat malam untuk memohon perlindungan dari Allah agar tidak diganggu oleh makhluk halus. Selain itu, tembang ini juga berfungsi sebagai doa-doa yang diucapkan kepada Allah SWT. Jadi memang sangat bertolak belakang antara pemaknaan lagu ini versi asli dengan versi kuntilanak. 

Memang ada perbedaan mengenai lirik asli Lingsir Wengi yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga dengan Lingsir Wengi versi kuntilanak. Perbedaan lirik juga berarti perbedaan makna dong? Kalau yang versi Sunan Kalijaga memang untuk menangkal gangguan makhluk halus, kebalikannya versi kuntilanak malah justru digunakan untuk memanggil kuntilanak.

Versi asli Lingsir Wengi adalah “Lingsir wengi sepi durung biso nendro. Kagodho mring wewayang kang ngeridhu ati. Kawitane mung sembrono njur kulino. Ra ngiro yen bakal nuwuhke tresno. Nanging duh tibane aku dewe kang nemahi. Nandang bronto kadung loro. Sambat-sambat sopo. Rino wengi sing tak puji ojo lali. Janjine mugo biso tak ugemi”.

Artinya dalam Bahasa Indonesia adalah “Saat tengah malam sepi tak bisa tidur. Tergoda bayanganmu di dalam hatiku. Permulaannya hanya bercanda kemudian terjadi. Tidak mengira akan jadi cinta. Kalau sudah saatnya akan terjadi pada diriku menderita sakit cinta. Aku harus mengeluh pada siapa. Siang dan malam yang saya cinta jangan lupakan aku. Janjinya kuharap tak diingkari”.

Sedangkan versi kuntilanak yaitu “Lingsir wengi sliramu tumeking sirno. Ojo tangi nggonmu guling. Awas jo ngetoro. Aku lagi bang wingo-wingo. Jin setan kang tak utusi. Jin setan kang tak utusi. Dadyo sebarang wojo lelayu sebet”. Sedangkan artinya dalam Bahasa Indonesia yaitu “Menjelang malam dirimu mulai sirna. Jangan terbangun dari tidurmu. Awas jangan terlihat. Aku sedang gelisah. Jin setan kuperintahkan. Jadilah apapun juga, namun jangan membawa maut”. 

Kelihatan banget kan pergeseran maknanya. Lingsir Wengi versi Sunan Kalijaga dengan versi kuntilanak memang sangat berbeda. Tujuan dalam pembuatan lagu tersebut juga sudah beda sehingga hasilnya juga sudah pasti beda. Jadi sudah gak ada alasan untuk takut lagi kan kalau denger lagu Lingsir Wengi?


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Atik Kencana S.
"Semper Fi"
0SHARES