Diduga Penasihat Spiritual Soeharto Hingga Berpenampilan Nyentrik, Inilah Sosok Jenderal Soedjono Hoemardani!

19 Maret 2018
|Muhammad Sidiq Permadi
29SHARES

Tak ada jenderal yang punya potongan rambut seunik dan senyentrik Soedjono Hoemardani. Potongannya yang mirip Michael Jackson serta gayanya yang khas itu, Soedjono lebih pantas dianggap seorang seniman ketimbang jenderal. Meski begitu, ia merupakan jenderal kesayangan Soeharto. Ketika meninggal dunia pada 12 Maret 1986 dan akan dimakamkan di Solo, Soeharto dan istri terlihat berada di sana untuk mengiringi kepergian dari sang jenderal kesayangan.

Siapa sosok Soedjono sebenarnya dan kenapa Soeharto sangat sayang padanya? Berikut empat fakta tentang Soedjono Hoemardani yang dilansir dari berbagai sumber.

1. Masa muda Soedjono Hoemardani

Setelah lulus dari HIS Surakarta, dia melanjutkan pendidikannya di Gemeentelijke Handels School, sebuah sekolah dagang yang berada di Semarang. Ayahnya yang bernama Raden Hoemardani adalah pedagang di Carikan, sebelah barat Pasar Klewer. Pekerjaannya sehari-hari memasok berbagai jenis bahan makanan dan pakaian pamong serta abdi keraton.

Setelah lulus dari sekolah pada 1937, ia pulang ke Solo untuk mengelola usaha ayahnya sekaligus merangkap sebagai bendahara organisasi pergerakan bernama Indonesia Muda. Pada masa kependudukan Jepang ditugaskan sebagai fukudanco (wakil komandan) dari keibodan (pembantu polisi).

2. Karir sebagai seorang tentara

Dalam dunia militer, Soedjono atau yang akrab disapa Djonit berkarir hingga mencapai pangkat jenderal. Dia memulai perjalanan karirnya dari pangkat Letnan Dua karena dianggap sebagai orang yang terpelajar di tahun 1945. Dalam buku yang berjudul Soedjono Hoemardani 1918-1986 (1987:16), Harry Tjan Silalahi menyebut Djonit menjabat bendahara di Resimen 27 Divisi IV dengan pangkat Letnan Dua dalam kurun 1945-1947. Setelah itu, dia naik pangkat jadi Letnan Satu dengan jabatan perwira di bagian keuangan Divisi tersebut hingga 1949. Pangkatnya naik menjadi Kapten pada tahun 1950.

Pada tahun 1957 pangkatnya naik menjadi Mayor dengan jabatan Direktorat Administrasi Angkatan Darat (DAMAD) di Bandung. Kemudian pada tahun 1961, pangkatnya naik lagi menjadi Letnan Kolonel dengan jabatan Wakil Deputi III/KSAD.

3. Memegang peranan penting dalam bisnis Indonesia

Teguh Pambudi dalam Man of Honor: Kehidupan, Semangat, dan Kearifan William Soeryadjaya (2012:537) mengatakan,

“Untuk mendapatkan lisensi dari perusahaan Jepang, selain rekomendasi dari Menteri Perekonomian, rekomendasi dari Soedjono Hoemardani sangat penting. Sebab, pada tahap seleksi awal, Jepang lebih percaya kepada Soedjono yang dianggap sebagai utusan langsung Presiden.”

Djonit bersama Suryohadiputro dan Alamsyah Ratuprawiranegara termasuk jenderal yang sering didatangi oleh para pengusaha. Menurut Richard Borsuk dan Nancy Chng dalam Liem Sioe Liong dan Salim Group (2016:66), mereka bertiga digolongkan sebagai Jenderal Finansial.

4. Disebut sebagai penasihat spiritual Soeharto

Kabarnya, Soedjono sering disebut-sebut sebagai penasihat spiritual dari Presiden Soeharto. Hal itu dilatarbelakangi oleh kegiatannya yang sering dianggap dekat dengan hal-hal gaib dan klenik. Pria dengan penampilan yang tenang ini memang tergolong berbeda dari yang lain. Bahkan, kabarnya dia sering kali menerima tamu dengan bertelanjang kaki.

Hubungannya dengan Soeharto pun konon dikaitkan dengan wejangan dari Soediyat Prawirokoesoemo alias Romo Diyat, seorang guru spiritual. Sang Romo pernah berpesan kepada Djonit agar menjaga Soeharto karena dipercaya akan menjadi orang besar. Keduanya pun terlihat sering pergi ke tempat-tempat yang dianggap keramat.

Meski banyak yang menyangka jika Soeharto berguru pada Soedjono, namun, dalam autobigrafinya yang berjudul Pikiran Ucapan dan Tindakan Saya (1989:441-442), Soeharto menyangkal kabar tersebut.

“Sangkaan begitu tidak benar. Mengenai ilmu kebatinan, Soedjono lebih banyak bertanya ke saya daripada sebaliknya.” Soeharto sendiri bilang jika Soedjono pernah bilang: “Saya berguru kepada Pak Harto,” kata Soeharto.

Melihat kedekatannya dengan Soeharto, maka tak heran jika sang presiden merasa amat kehilangan ketika jenderal kesayangannya tersebut meninggal dunia di Tokyo. Pada akhirnya, mereka berdua kini telah kembali bersanding meski dalam dunia yang berbeda. Hmm, unik juga ya sosok jenderal yang satu ini.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Muhammad Sidiq Permadi
"Linguistics - Semiotican"
29SHARES