Dari Rumah Gadang hingga Tempe, Inilah Teknologi Kuno Indonesia yang Masih Canggih hingga Sekarang

06 September 2017
|Atik Kencana S.
1SHARES

Indonesia memiliki serangkaian sejarah panjang agar mampu berada di posisinya seperti sekarang. Mulai dari masih disebut sebagai Nusantara hingga mendapatkan kemerdekaan melalui perjuangan atas penjajahan beberapa negara. Tentunya, sejarah panjang mengenai Indonesia tidak melulu soal politik dan kekuasaan. Berbagai kisah pengalaman dan penemuan nenek moyang Indonesia masih bisa dirasakan hingga kini. Oleh karena itu, kali ini YuKepo mau bahas mengenai beberapa penemuan kuno Indonesia yang masih bisa dirasakan hingga sekarang. Penasaran apa saja? Yuk langsung aja kita kepoin!

1. Candi Borobudur

Kecanggihan teknologi kuno di Indonesia yang pertama adalah Candi Borobudur. Candi ini diperkirakan dibangun pada tahun 824 Masehi oleh Raja Mataram yang bernama Samaratungga dari Dinasti Syailendra. Bangunan candi ini menjadi salah satu yang paling megah di dunia. Rasanya lumayan mengagumkan bagaimana orang zaman dahulu mampu membuat candi ini tanpa menggunakan paku bumi sebagai alat untuk mengokohkan bagian pondasinya. Bahkan, dengan kecanggihan teknologi masa kini saja masih terbilang sulit untuk membangun candi seperti ini. 

2. Keris

Tak hanya soal arsitektur bangunan, kecanggihan teknologi kuno juga menjangkau penempaan logam. Penempaan logam memang sudah berkembang saat awal masehi di kawasan Nusantara. Para empu terdahulu sudah mengenal kualitas dari masing-masing logam. Salah satunya adalah keris yang dibuat dengan teknik tempa yang luar biasa. Pemilihan batu meteorit yang berunsur titanium juga menjadi penemuan nenek moyang yang mengagumkan. Titanium dikenal sebagai bahan terbaik untuk membuat keris karena bahannya yang ringan, namun kuat. Kesulitannya adalah bahan titanium memiliki titik lebur yang mencapai 60 derajat celcius, jauh dari besi dan baja yang berkisar di angka 10 ribu derajat celcius.

3. Benteng Keraton Buton

Bangunan pertahanan yang berada di Buton, Sulawesi Tenggara ini dibangun di sebuah bukit seluas 20 hektar. Benteng ini memiliki arsitektur yang cukup menarik dengan batu kapur sebagai bahan utamanya. Bangunan bekas Ibu Kota Kesultanan Buton ini berbentuk lingkaran dengan panjang keliling seluas 2.740 meter persegi. Sebanyak 12 pintu gerbang dan 16 pos jaga juga turut menghiasi keindahan bangunan benteng ini. Setiap gerbangnya dikawal sebanyak 4 hingga 6 buah meriam. Di pojok kanan benteng terdapat gudang mesiu dan gudang peluru. Letaknya yang berada di puncak bukit dengan lereng yang cukup terjal menjadikan tempat ini menjadi situs pertahanan terbaik di masanya.

4. Karinding

Karinding awalnya adalah teknologi pengusir hama yang menggunakan teknik gelombang suara. Kini, karinding lebih digunakan sebagai alat musik dari tanah Sunda yang terbuat dari pelepah kawung dengan ukuran 20 x 1 cm. Pelepah kawung atau bambu tersebut dibagi menjadi tiga bagian, yakni tempat keluarnya nada, pembatas jarum, dan pemukulnya. Alat ini rupanya memiliki dua fungsi: Satunya sebagai hiburan, sedangkan yang lainnya menjadi alat pengusir hama di sektor pertanian.

5. Rumah Gadang

Para nenek moyang yang menciptakan arsitektur rumah gadang rupanya berpikiran sangat futuristik, bahkan melampaui zamannya. Konstruksi rumah asli Sumatera Barat ini rupanya dirancang agar dapat menahan gempa bumi. Rumah tradisional ini sudah membuktikan rekayasa konstruksi dengan daya lentur dan soliditas pada saat terjadi guncangan akibat gempa hingga berkekuatan melampaui 8 skala richter. Bentuk rumah ini akan tetap stabil saat menerima guncangan. Getaran dari tanah akan terdistribusi semua ke seluruh bangunan. Hebatnya, rumah gadang ini tidak menggunakan paku sebagai pengikatnya, melainkan sebuah pasak sebagai sambungan. Selain itu, tiang bangunan ini tidak menyentuh tanah, melainkan dialaskan dengan sebuah batu. Batu ini memiliki fungsi sebagai peredam getaran dari tanah sehingga tidak akan memengaruhi bangunan di atasnya. Jika ada getaran, rumah gadang ini akan berayun mengikuti gelombangnya.

6. Tempe

Tempe ini dibuat dengan menggunakan mikroorganisme atau mikroba di tingkatan sel untuk pangan. Sebenarnya Jepang, Tiongkok, dan India juga sudah mengolah kedelai dengan ragi. Namun, yang menggunakan ragi Rhizopus hanyalah Indonesia. Seperti yang tertulis dalam bab III dan bab XII manuskrip Serat Centhini yang menceritakan Jawa di abad ke-16, istilah "tempe" sudah masuk di sana. Tentunya, ini merupakan sumbangan nenek moyang Indonesia dalam hal kuliner dunia.

7. Pengindelan Danau Tasikardi, Banten

Bukan baru dilakukan di era modern, teknologi penjernihan air juga sudah dilakukan oleh nenek moyang kita. Pada abad ke-16 hingga ke-17, Kesultanan Banten sudah membangun bangunan penjernih air untuk menyaring air yang berasal dari Waduk Tasikardi hingga Keraton Surosowan. Sebelum air masuk ke Surosowan, air yang keruh dari Tasikardi disalurkan dan disaring melewati tiga bangunan yang bernama Pengindelan Putih, Abang, dan Emas. Kemudian air mengalir ke Surosowan melewati serangkaian pipa yang terbuat dari tanah liat berdiameter 40 cm. Sungguh luar biasa penguasaan teknologi pengolahan air keruh menjadi air siap pakai ini. 

Nah, itulah tadi teknologi kuno khas Indonesia yang canggih. Penemuan-penemuan di atas tentunya menjadi sebuah mahakarya bagi para nenek moyang. Dengan zaman yang masih belum semaju sekarang, beragam penemuan kuno di atas masih bisa dinikmati hingga kini. Bangga, ya?


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Atik Kencana S.
"Semper Fi"
1SHARES