Dari Jari Terpotong hingga Terkena Bronkitis, Begini Derita Buruh Pabrik Es Krim Aice!

13 Desember 2017
|Muhammad Sidiq Permadi
656SHARES

Pada awal bulan November 2017 kemarin, tersiar kabar mengenai mogok kerjanya ratusan buruh dari PT Alpen Food Industry (PT AFI). Hal tersebut terkait tuntutan dari para buruh yang tidak kunjung didengarkan oleh perusahaan tempat mereka bekerja. Tuntutan dari para buruh di antaranya terkait jaminan kesehatan dan keselamatan kerja serta menuntut diangkatnya para buruh sebagai pegawai tetap di tempat tersebut. Selain itu, para buruh juga meminta PT AFI agar melaksanakan prosedur kerja sesuai dengan regulasi ketenagakerjaan yang berlaku di Indonesia. PT AFI sendiri merupakan anak dari Aice Group Holdings Pte. Ltd., sebuah perusahaan yang terdaftar di Singapura dan memproduksi salah satu merk es krim kesukaan kita, Aice.

Seperti yang kita ketahui, es krim Aice ini menjadi salah satu sponsor resmi Asian Games 2018 mendatang. Namun, di balik harganya yang murah serta enaknya es krim yang satu ini, banyak sekali penderitaan yang harus dipikul oleh para pekerja. Puncaknya, sebanyak kurang lebih 644 buruh dari PT AFI melakukan mogok kerja pada awal bulan November kemarin. Berbagai keluhan pun diutarakan oleh para buruh. Dari berbagai keluhan yang diutarakan oleh para pekerja, pihak perusahaan selalu bersikeras telah memenuhi standar operasional prosedur sesuai dengan undang-undang ketenagakerjaan yang berlaku di Indonesia. 

Para buruh yang bekerja di pabrik Aice ini juga banyak yang diterima melalui jalur perusahaan outsourcing bernama PT Mandiri Putra Bangsa yang berpusat di Tangerang. Dalam catatan, PT AFI dan PT MPB memulai kerja samanya terhitung sejak Agustus 2015 hingga November 2017. Namun, ketika ditanya perihal ijazah yang disita oleh PT MPB sebagai bentuk jaminan agar mendapatkan kunci loker di pabrik PT AFI, pihak dari PT AFI mengaku bahwa kesepakatan pemberian ijazah sebagai bentuk jaminan tidak diketahui oleh pihak perusahaan. Sebagai itikad baik, PT AFI pun akan membantu untuk mengembalikan ijazah dari para pekerja. 

Kemudian perihal jaminan kesehatan, sikap dari PT AFI yang dilaporkan tidak memberikan berbagai tunjangan kesehatan wajib kepada para buruh dianggap telah melanggar pasal 14 UU 24/2011 tentang BPJS, pasal 18 UU 40/2004 tentang sistem jaminan sosial nasional, dan PP 84/2013 tentang Jamsostek. Pasal 14 UU 24/2011 tentang BPJS berbunyi, “Setiap orang termasuk orang asing yang bekerja paling singkat enam bulan di Indonesia, wajib menjadi peserta program jaminan sosial. Pemberi kerja juga secara bertahap wajib mendaftarkan dirinya dan pekerjanya sebagai peserta BPJS sesuai program jaminan sosial.”

Sementara itu, untuk jaminan sosial nasional sendiri terdiri atas lima poin, yakni jaminan kesehatan, keselamatan kerja, hari tua, pensiun, dan kesehatan. Kemudian, PP 84/2013 berbunyi, “Pengusaha yang mempekerjakan tenaga kerja sebanyak 10 orang atau lebih, atau membayar upah paling sedikit Rp1 juta per bulan, wajib mengikutsertakan tenaga kerjanya dalam program jaminan sosial tenaga kerja. Jika tidak, pemberi kerja bisa dikenai sanksi administratif. Isinya teguran tertulis, denda, dan tak mendapatkan pelayanan publik tertentu dari pemerintah.”  

Dalam laporan yang dilansir dari laman tirto.id, dalam kontrak kerja PT AFI dengan para buruh pada pasal 10 poin 2 tertulis jika terjadi kecelakaan kerja, maka sepenuhnya ditanggung oleh buruh itu sendiri dan dianggap sebagai human error. Banyak sekali kecelakaan kerja yang terjadi di sana, mulai dari jari yang terpotong mesin hingga buruh yang terkena bronkitis akibat seringnya terkena gas amonia yang bocor dari pipa mesin pendingin es krim di tempat tersebut. 

Hingga saat ini, masih belum ditemukan penyelesaian yang tepat perihal perseteruan antara para buruh dengan PT AFI selaku tempat diproduksinya es krim Aice ini. Namun para buruh telah menyelesaikan aksi mogoknya sembari menanti itikad baik dari PT AFI untuk menjawab tuntutan mereka. Disini, PT AFI dituntut untuk melihat para buruh pabrik sebagai manusia, alih-alih hanya sebagai komponen dalam roda produksi yang biayanya harus ditekan seminim mungkin. Semoga perkara ini lekas mendapatkan penyelesaian yang menguntungkan bagi kedua belah pihak, ya!


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Muhammad Sidiq Permadi
"Linguistics - Semiotican"
656SHARES