Bukan Siluman Buaya, Tapi Suku Chambri Memiliki Kulit Bersisik Seperti Buaya! Kenapa ya?

24 April 2018
|Galih Wisnu Brata
137SHARES

Papua Nugini merupakan negara yang berbatasan langsung dengan Indonesia. Bahkan Papua Nugini masih satu daratan dengan Indonesia, khususnya dengan provinsi Papua. Karena masih satu daratan, sama halnya dengan Papua, negara ini pun memiliki banyak bahasa dan suku. Bahkan, kabarnya negara ini memiliki 850 bahasa lokal. Jumlah sukunya pun sangat banyak walaupun populasinya kurang dari 6 juta jiwa.

Salah satu suku asli di Papua Nugini adalah Suku Chambri. Suku ini terbilang unik karena oleh para petualang dijuluki manusia buaya. Kok bisa gitu ya?

Suku Chambri tinggal di daratan dekat Danau Chambri, provinsi Sepik, Papua Nugini. Sehari-hari, pria Suku Chambri melakukan dua aktivitas utama, yaitu berburu dan memancing. Untuk aktivitas utama perempuannya adalah berkebun.

Suku Chambri dijuluki manusia buaya karena tubuhnya memiliki sisik seperti buaya. Sisik tersebut tidaklah muncul dengan sendirinya, melainkan sengaja ditorehkan di kulit. Hal tersebut dilakukan karena buaya oleh Suku Chambri dihormati sebagai leluhur. Memang, di Danau Chambri dan Sungai Sepik masih terdapat banyak buaya. Setidaknya terdapat dua jenis buaya, buaya Papua Nugini dan buaya muara, yang besarnya mencapai 4 hingga 7 meter. Mereka menjaga kehidupan buaya dengan tidak memburunya.

Suku Chambri percaya bahwa dulunya leluhur mereka adalah buaya. Buaya kemudian berevolusi menjadi manusia. Untuk itu, penghormatan dilakukan terhadap buaya dengan membuat sisik di kulit mereka. Selain sebagai bentuk penghormatan leluhur, sisik dibuat sebagai tanda kedewasaan seorang laki-laki. Laki-laki juga akan menjadi orang kuat karena berhasil melewati rasa sakit saat penyayatan berlangsung.

Penyayatan sisik buaya di kulit hanya dilakukan terhadap lelaki Suku Chambri. Tradisi ini telah berlangsung sejak zaman dahulu. Lelaki usia 11 tahun hingga 25 tahun yang melakoninya. Sebelum penyayatan dilakukan, tari-tarian akan dilakukan dan doa-doa akan dibacakan. Penyayatan hanya boleh dilakukan oleh kepala suku.

Sayangnya, tidak sedikit yang meninggal karena melakukan tradisi ini. Kehilangan banyak darah atau tidak kuat menahan rasa sakit menjadi penyebab utamanya.

Semua lelaki Suku Chambri memiliki bekas sayatan tersebut. Mereka bahkan bangga saat menunjukkan sayatan tersebut. Meskipun sebenarnya sayatan tersebut bentuk menyakiti diri sendiri, namun itu juga merupakan bagian dari tradisi dan sistem kepercayaan mereka sehingga mereka bangga akan luka sayatan tersebut. Tapi kalau kamu yang bukan anggota Suku Chambri, jangan sekali-kali mencoba atau meniru, ya!


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Galih Wisnu Brata
"memahami karena menjalani"
137SHARES