Bukan Sekedar Makan Beling, Inilah Filosofi Makna Kuda Lumping Bagi Kehidupan

30 April 2017
|Atik Kencana S.
189SHARES

Kita pasti familiar dengan salah satu tarian atau pertunjukan tradisional yang bernama Kuda Lumping dong? Kuda lumping adalah sebuah tarian atau pertunjukan tradisional yang menggunakan properti anyaman berbentuk kuda. Uniknya, para penari Kuda Lumping kebanyakan dirasuki kekuatan gaib. Gak heran dong kalau penarinya bisa makan beling atau benda-benda gak lazim lainnya?

Kuda Lumping ternyata tidak hanya ada di satu daerah di Indonesia aja lho. Sebutan Kuda Lumping biasanya lebih populer di Jawa Barat, sedangkan sebutan Kuda Lumping di Banyuwangi adalah Jaranan Buto, Jaran Kepang di Surabaya, Jathilan di Yogya dan Jawa Tengah, dan Jaranan Sang Hyang di Bali. Prinsipnya sama aja, sama-sama menari di atas kuda buatan.

Kuda Lumping sudah ada sejak masa kerajaan Hindu yang berkembang di Indonesia silam. Pada masa itu tarian digunakan sebagai sarana komunikasi dengan para leluhur. Gak heran kalau di tiap upacara-upacara keagamaan pasti menggunakan tarian yang mengandung unsur magis. Karena sudah ada sejak zaman kerajaan Hindu, Kuda Lumping dianggap sebagai sebuah kesenian kuno yang masih ada hingga kini. 

Tarian Kuda Lumping akan mencapai puncaknya ketika ada salah satu penarinya yang mulai kerasukan hal gaib. Biasanya kerasukan roh yang dipercaya sebagai roh nenek moyang. Makanya diperlakukan dengan baik. Pada saat sang penari Kuda Lumping ini kerasukan, ia akan melakukan hal-hal yang tidak sanggup dicapai logika orang sehat. Misalnya, tiba-tiba si penari akan kebal dari pukulan atau goresan berbagai senjata tajam. Selain itu, si penari juga akan memiliki kekuatan untuk tahan dari cambukan. Yang paling kita sering lihat sih, penari yang sudah kerasukan itu akan memakan beling atau silet tanpa terluka sedikitpun.

Mungkin kita semua akan merasa ketakutan saat satu atau lebih penari sudah kerasukan. Tanpa kita sadari ternyata tarian atau pertunjukan ini memiliki makna yang mendalam bagi kehidupan manusia. Gak heran kalau Kuda Lumping masih sering dipertunjukkan di beberapa daerah.

Di daerah Ponorogo, kehadiran roh yang masuk ke tubuh salah satu penari yang membuatnya menjadi bringas dan jahat disebut sebagai warok. Lawannya adalah gemblakan. Pertandingan antara warok dan gemblakan tidak bisa terelakkan pada tarian Kuda Lumping ini. Pertandingan antara warok dan gemblakan ini digambarkan sebagai sifat-sifat manusia. Baik dan jahat ada di situ semua.

Sedangkan peristiwa kerasukan tersebut dimaknai dengan adanya kekuatan besar yang ada di luar kendali manusia. Manusia dibekali akal selama hidupnya dan akal tersebut yang akan digunakan untuk menjadi sebaik-baiknya manusia. Tentunya semua yang terjadi pada manusia atas kehendak-Nya. Lalu muncullah rasa pasrah kepada Tuhan berikut dengan kepercayaannya. Selain itu masuknya roh ke tubuh manusia menjadi suatu pengingat bagi manusia akan adanya kehidupan selanjutnya setelah kehidupan dunia.

Karena Kuda Lumping sudah ada sejak zaman kerajaan Hindu, kuda-kudaan dimaknai sebagai simbol kekuatan, keberanian dan pantang menyerah. Tiga hal tersebut yang menjadi penting dalam kehidupan manusia. Sedangkan warna kuda tersebut juga memiliki arti, seperti putih sebagai simbol kesucian pikiran, merah sebagai simbol keberanian dan hitam sebagai sifat yang buruk.

Nah, itulah tadi makna mendalam pada tarian Kuda Lumping yang selama ini belum kita pahami. Kuda Lumping bukan hanya sekedar makan beling dan kerasukan roh. Tapi juga mengenai filosofi kehidupan yang mendalam bagi kehidupan manusia.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Atik Kencana S.
"Semper Fi"
189SHARES