Bukan Novel “Sitti Nurbaya”, “Bintang Toedjoeh” Hadir Sebagai Novel Pertama di Indonesia

20 Mei 2017
|Atik Kencana S.

Kesusastraan Indonesia memang semakin berkembang dari hari ke hari. Hal ini dibuktikan dengan banyak bermunculannya penulis-penulis muda yang berbakat. Gak hanya berbakat, namun juga menunjukkan prestasinya dengan kualitas sastra yang mumpuni.

Bila kita ingat beberapa puluh tahun belakangan. Ada sebuah roman modern yang populer yaitu “Sitti Nurbaya” karya Marah Rusli. Novel tersebut memang merupakan novel modern pertama terbit di Indonesia. Novel yang terbit pada tahun 1922 ini memang sangat terkenal hingga sekarang ini. Namun tenyata 30 tahun sebelum munculnya novel “Sitti Nurbaya”, sudah ada novel pertama yang terbit di Indonesia.

Novel tersebut adalah “Thjit Liap Seng (Bintang Toedjoeh)” karya Lie Him Kok yang merupakan seorang penulis sekaligus jurnalis. Novel yang dibuat pada tahun 1886 tersebut memang digadang-gadang sebagai novel pertama di Indonesia. Sekitar akhir abad ke-19, sastra Melayu-Tionghoa memang sedang berkembang di Hindia-Belanda hingga tahun 1945. Penulis-pennulis Tionghoa tersebut menulis dalam bahasa Melayu pasar yang memang diperuntukkan oleh kalangan mereka tersendiri.

Dilansir dari Nationalgeographic.co, sebenarnya salah satu faktor pendorong dan penggagas perkembangan sastra Melayu Tionghoa adalah munculnya sebuah penerbitan roman di Jawa pada dekade 1880-an. Sedangkan percetakan pertama yang dimiliki Tionghoa muncul pada tahun 1879. Sedangkan sebelum dekade ini, para penulis roman Melayu Tionghoa menulis dalam bentuk manuskrip. Sedangkan setelah Indonesia memperoleh kemerdekaannya, kesusastraan tersebut perlahan terlupakan.

Roman karya Lie Kim Hok ini menjadi awal mula perkembangan sastra roman pertama di Indonesia. Roman ini muncul saat masyarakat Tionghoa tengah terhimpit pengaruh kebudayaan Barat yang mulai menggerus cara hidup beserta kebudayaan mereka. Roman setebal 500 halaman ini sayangnya tidak menuai sambutan yang meriah, mungkin karena cerita ini berlatar Tiongkok beda cerita apabila Lie Kim Hok mengambil cerita latar Jawa.

Roman ini bercerita tentang  seorang gadis kecil yang hidupnya terlantar. Bukannya diantar ke panti asuhan, ia malah diasuh oleh 7 orang mahasiswa hingga diangkat menjadi anak. Para mahasiswa tersebut memanggil gadis itu Thjit Liap Seng Nio atau Nona Bintang Tujuh. Sayangnya nasib gadis ini selalu malang hingga diselamatkan oleh pedagang yang renta. Kisah ini menggunakan penokohan yang berpihak pada kaum yang lemah, mirip seperti cerita pendekar-pendekar silat.

Roman “Bintang Toerdjoeh” sejatinya memang disadur dari dua roman yaitu “Klassje Zevenster” karya Jacob van Lennep terbitan 1886 dan “Les Tribulations d’un Chinois en Chine” karya Jules Verne terbitan tahun 1879. Kedua roman tersebut ditulis lagi secara bebas hingga menghasilkan roman “Bintang Toedjoeh” tersebut.

Seperti itulah memang pada dekade 1880-an, kesusastraan Melayu-Tionghoa diramaikan dengan karya-karya sastrawi terjemahan Bahasa Belanda dan Tiongkok. Sedangkan awal kemunculan roman terjemahan Eropa dan Arab berasal dari cerita bersambung yang diterbitkan di surat kabar Melayu sejak dekade 1860-an.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Atik Kencana S.
"Semper Fi"
SHARES