Bukan Hanya Simbol Keagamaan, Peci Juga Punya Makna Bagi Indonesia

10 Mei 2017
|Atik Kencana S.
0SHARES

Peci mungkin bagi sebagian orang di Indonesia sudah dianggap sebagai sebuah simbol keagamaan. Agama Islam lebih tepatnya. Penggunaan peci sebagai sebuah penutup kepala bagi para pria muslim di dunia memang digunakan sebagai menutup bagian aurat yang ada di kepala. Menjadi salah satu kewajiban bagi para pria muslim yang sudah akil balik. Namun, apa jadinya kalau sebuah simbol keagamaan ini juga dijadikan sebagai simbol kebangsaan? YuKepo kali ini mau mengulas tentang sejarah peci yang menjadi simbol kebangsaan di negeri kita tercinta ini. Berikut ulasannya:

 

 

Beberapa sumber mengatakan bahwa peci pertama kali dibuat oleh Sunan Kalijaga dengan sebutan “kuluk”. Ia membuat peci tersebut sebagai hadiah bagi raja terakhir Majapahit yaitu Sultan Fatah. Kuluk sendiri merupakan simbol persamaan derajat antara rakyat dengan raja di mata Tuhan. Sumber lain mengatakan bahwa peci pertama kali dibawa oleh Laksamana Ceng Ho saat berlayar ke Indonesia. Peci yang berasal dari kata pe yang berarti delapan dan chi yang berarti energi. Sehingga pemaknaan peci merupakan benda dengan energi yang besar. Namun ada juga yang menyebut peci sebagai kopiah yang berarti kosong akibat dipyah atau dibuang. Maknanya jadi berubah, yaitu orang yang menggunakan kopiah dapat menyingkirkan kebodohan dan sifat tercela lainnya. 

Penggunaan peci di Indonesia tidak hanya digunakan oleh pria muslim yang sudah mencapai akil balik. Namun ternyata banyak orang yang di luar kalangan muslim menggunakan peci juga pada acara-acara tertentu. Hal ini tentunya punya alasan dan sejarah yang memang cukup kuat. Bagaimana sebuah simbol keagamaan ini dijadikan pula sebagai sebuah simbol kebangsaan? 

Hal ini dimulai pada saat masa kolonialisme Belanda di Indonesia. Sekitar tahun 1921 dilaksanakannya sebuah rapat persatuan pemuda Jawa yang disebut sebagai Jong Java di Surabaya. Soekarno lah yang pada saat itu masih berusia 20 tahun memperkenalkan peci yang bisa dianggap sebagai sebuah simbol kebangsaan atau identitas bangsa Indonesia.

Penggunaan tutup kepala memang banyak dilakukan oleh para pemuda pada saat itu karena mereka ingin derajatnya disamakan seperti orang Belanda. Memang pada saat itu penggunaan tutup kepala berupa topi yang bagus hanya digunakan oleh orang Belanda dan pemuda-pemuda dengan pendidikan yang tinggi.

Di Indonesia sendiri memang sudah ada budaya menggunakan tutup kepala yang berupa peci atau blangkon. Namun pada saat itu blangkon dan peci memang dianggap sebagai atribut rendahan ala pribumi. Gak heran kalau penggunaan peci dan blangkon juga dapat merendahkan derajat seseorang yang memakainya.

Sejak rapat Jong Java itulah ditetapkan peci sebagai identitas bangsa Indonesia di samping simbol keagamaan muslim. Soekarno menilai memang diperlukan sesuatu yang bisa dijadikan simbol kebangsaan bagi Indonesia. Dengan lantangnya ia memecah kesunyian di rapat tersebut menyerukan untuk tidak lagi gengsi menggunakan peci. 

Peci yang juga dipakai oleh para buruh Melayu ini memang memiliki ciri khas yang mirip dengan kondisi Indonesia pada saat itu. Penggunaan peci ini juga merupakan sebuah simbol Indonesia merdeka. Begitulah menurutnya. Sejak saat itulah peci memiliki makna yang lebih umum dibandingkan hanya digunakan sebagai simbol keagamaan. Peci saat ini menjadi simbol nasionalisme, bukan lagi hanya identik dengan perihal keagamaan.

Soekarno yang menggagas penggunaan peci sebagai simbol kebangsaan Indonesia. Secara konsisten ia tetap setia menggunakan peci pada setiap acara penting. Hal tersebut kemudian ditiru oleh para kaum terpelajar dan para elit bangsa di berbagai acara formal. Penggunaan peci di kepala memang menjadi sebuah pembeda bangsa Indonesia dengan bangsa lainnya di mata dunia.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Atik Kencana S.
"Semper Fi"
0SHARES