Bikin Sedih. Begini Perjuangan Lenong, Budaya Betawi yang Makin Habis Tergerus Zaman!

www.yukepo.com

Betawi merupakan salah satu suku bangsa yang ada di Indonesia. Banyak yang berpendapat bahwa suku Betawi lahir akibat hasil pernikahan antaretnis dan bangsa yang terjadi di masa lalu. Mereka yang mengaku orang Betawi biasanya memiliki darah campuran dari aneka suku dan bangsa dahulu didatangkan oleh pemerintah Belanda ke Batavia. Sementara itu, menurut Julianti Parani, penulis buku Seni Pertunjukkan Kebetawian mengatakan bahwa Betawi muncul karena adanya hubungan dalam kehidupan yang ada di perkotaan. Dahulu di Batavia memang tinggal beragam etnis, seperti Sunda, Melayu, Jawa, Bali, Makassar, Bugis, dan Ambon yang kemudian tejadi pernikahan antaretnis yang melahirkan suku Betawi.

Suku Betawi sendiri memiliki berbagai macam seni dan budaya yang khas. Menurut Yahya Andi Saputra selaku Ketua Umum Lembaga Kebudayawan Betawi (LKB), banyak sekali genre dari seni dan budaya Betawi. Total ada 1358 item dan dibagi lagi ke dalam tiga bagian, yakni folklor lisan Betawi sebanyak 550 item, folklor setengah lisan sebanyak 364, dan sisanya adalah folklor bukan lisan. Salah satu dari folklor setengah lisan adalah seni teater Betawi, yakni lenong. 

www.yukepo.com

Seni pertunjukan khas Betawi ini diawali dari beberapa pertunjukkan yang diselenggarakan pada masa pemerintahan kolonial, seperti Komedie Stambul, gambang kromong,serta beberapa tontonan wayang, seperi Wayang Sumendar, Wayang Dermuluk, dan Wayang Senggol. Pada masa itu, kelompok sandiwara Dardanella menjadi kelompok sandiwara paling populer kala itu.

Dalam sebuah skripsi yang berjudul “Dinamika Kesenian Lenong Betawi 1970-1990” yang ditulis oleh Ary Setyaningrum, asal muasal kata “lenong” berasal dari nama seorang saudagar Tionghoa, yakni Li En Ong. Pada masa itu, Li En Ong kerap menggelar pertunjukkan yang bertujuan untuk menghibur masyarakat. Kemudian, banyak dari masyarakat yang menyebut pertunjukkan tersebut dengan nama “lenong”.

x.detik.com

Dewasa ini, lenong dibagi ke dalam dua jenis, yakni lenong denes dan lenong preman. Lenong denes (dialek betawi yang berarti ‘dinas’ atau ‘resmi’) yang lahir lebih dulu ini, bercerita tentang kehidupan para raja di zaman dahulu. Disebut 'denes' karena pertunjukkannya dinilai lebih resmi daripada lenong preman. Para pemain diwajibkan menggunakan bahasa Melayu tinggi dalam tiap dialog serta pakaian yang sopan dan rapi.

Sementara itu, lenong preman muncul guna memberikan warna baru bagi dunia perlenongan yang kerap kali hanya ditujukan bagi mereka yang memiliki jabatan. Lenong preman ini lahir pada kisaran tahun 1960-an dan ceritanya pun lebih banyak tentang kehidupan sehari-hari masyarakat dengan menggunakan bahasa Melayu dan pakaiannya pun terkesan sangat sederhana. 

www.yukepo.com

Sementara itu, menurut laporan dari Yahya Andi Saputra, lenong denes termasuk ke dalam kategori seni teater Betawi yang terancam kepunahannya, sedangkan lenong preman termasuk ke dalam kategori seni teater Betawi yang tengah berkembang. Lanjut menurut Yahya, kesenjangan yang terjadi antara masyarakat dengan beberapa jenis kesenian yang semakin melebar menjadi salah satu faktor penyebab surut atau matinya beberapa jenis kesenian.

Untuk menjaga eksistensinya, sejak tahun 1968 dimulailah pertunjukan rutin lenong sebagai teater rakyat di panggung Taman Ismail Marzuki. Pertunjukan yang digelar saban bulan ini diharapkan dapat memicu semangat masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Betawi untuk dapat melestarian kesenian asli Betawi ini. 

0%
Marah
0%
Gokil
0%
Lucu
0%
Kaget
0%
Suka
0%
Aneh
SHARES
Disanjung Dunia, 7 Penemu Hebat Asal Indonesia Ini Justru Diacuhkan Negaranya Sendiri. Ironis!

Disanjung Dunia, 7 Penemu Hebat Asal Indonesia Ini Justru Diacuhkan Negaranya Sendiri. Ironis!

10 Nama Anak dari Kata Jawa Kuno dan Bahasa Sanskerta yang Bermakna Indah

10 Nama Anak dari Kata Jawa Kuno dan Bahasa Sanskerta yang Bermakna Indah

Dari Mafia Asia Hingga Surga Dunia,12 Julukan Ini Pernah Disematkan Pada Indonesia!

Dari Mafia Asia Hingga Surga Dunia,12 Julukan Ini Pernah Disematkan Pada Indonesia!

Jasad Orangutan Tanpa Kepala Ditemukan Mengambang di Sungai Kalimantan, Fakta Kematiannya Mengiris Hati!

Jasad Orangutan Tanpa Kepala Ditemukan Mengambang di Sungai Kalimantan, Fakta Kematiannya Mengiris Hati!

Selain Konstruksi LRT Pulo Gadung, Bangunan Ini Juga Pernah Roboh. Bikin Was-Was!

Selain Konstruksi LRT Pulo Gadung, Bangunan Ini Juga Pernah Roboh. Bikin Was-Was!

Sempat Hendak Diberantas Oleh Orde Baru, Inilah Kisah Perjuangan Koteka dan Masyarakat Papua!

Sempat Hendak Diberantas Oleh Orde Baru, Inilah Kisah Perjuangan Koteka dan Masyarakat Papua!

loading