Berdiri Hampir Satu Abad Sejak 1919, Akhirnya Nyonya Meneer Lelah Juga

08 Agustus 2017
|Chandra W.
140SHARES

Pernah memerhatikan warung-warung jamu yang ada di pinggir jalan? Dari ribuan warung jamu yang kamu lewati, pasti banyak sekali yang menggunakan logo seorang wanita berkonde dengan gambar hitam putih. Kamu tahu itu siapa? Siapa lagi kalau bukan tokoh jamu legendaris Indonesia, Nyonya Meneer. Jamu cap potret Nyonya Meneer yang pabriknya ada di Semarang ini sering dijadikan plesetan oleh orang Indonesia karena biasanya potret wanita asal Sidoarjo ini disertai dengan tulisan “Berdiri Sejak 1919”. “Emang nggak capek, tuh?” adalah pertanyaan yang paling sering terlontar lalu disusul dengan gelak tawa.

Nah jawabannya, Nyonya Meneer lelah juga setelah berdiri hampir genap satu abad, tahun ini, 2017, perusahaannya dinyatakan pailit oleh PN Niaga Semarang.

Jamu Nyonya Meneer awalnya tidak lahir sebagai industri, melainkan racikan jamu orangtuanya yang digunakan untuk mengobati suaminya yang sakit keras pada tahun 1900-an ketika zaman pendudukan Belanda. Dari kesembuhan suaminya, Menir, nama asli Nyonya Meneer, mulai membuat jamu untuk menyembuhkan penyakit orang-orang di sekitarnya dan menempel potret diri di botol jamu dengan tujuan supaya lebih bisa mengakrabkan diri dengan masyarakat.

Tahun 1919 atas dorongan keluarga, berdirilah perusahaan Jamu Cap Potret Nyonya Meneer dan tokonya di Semarang. Perusahaan ini berkembang pesat hingga dapat disebut legendaris di Indonesia. Nyonya Meneer meninggal pada tahun 1978 dan meninggalkan perusahaannya kepada generasi ketiganya, yaitu lima cucunya.

Pemasaran jamu ini berhasil sampai ke 12 negara. Bahkan sampai ada buku studi kasus perusahaan keluarga dengan menggunakan contoh perusahaan Jamu Nyonya Meneer. Buku ini telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris berjudul Family Bussiness: A Case Study of Nyonya Meneer, One of Indonesia's Most Successful Traditional Medicine Companies.

Sayangnya masa kejayaan perusahaan jamu legendaris ini tampaknya sudah harus berakhir ketika pada tahun 2015 terlilit hutang kepada puluhan kreditur. Saat itu permasalahan diselesaikan dengan cara damai, yaitu dengan perjanjian pelunasan hutang hingga jangka waktu tertentu. Jika pada waktu yang ditentukan, pihak debitur dalam hal in perusahaan Nyonya Meneer tidak sanggup melunasi, maka akan ada konsekuensi tersendiri.

Pihak kreditur melalui Pengadilan Negeri Semarang telah meminta agar perusahaan dipailitkan. Perjanjian damai terakhir telah dibatalkan dan kini perusahaan harus segera menyelesaikan kewajibannya membayar hutang kepada 35 debitur.

Bagaimana nasib Nyonya Meneer selanjutnya? Akankah ia akhirnya beristirahat setelah berdiri selama hampir satu abad? Kondisi ini tentu sangat disayangkan, mengingat perusahaan Nyonya Meneer tentunya sudah memiliki ribuan karyawan yang menggantungkan nasibnya di sini. Tak hanya itu, Indonesia juga patut berbangga dengan adanya perusahaan ini, karena ini merupakan perusahaan jamu tradisional asli Indonesia yang mampu mendunia.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Chandra W.
"Sebaik-baik tulisan adalah yang dibaca sampai akhir."
140SHARES