8 Tentara Ini Menjaga Keamanan Negara dengan Bersenjatakan Pena

www.republika.co.id

Tentara, alat negara yang berfungsi untuk menjaga keamanan negara dari ancaman luar maupun dalam negeri. Tugas yang diembannya membuat tentara harus disiplin dalam melatih tubuh, mental, dan strategi-strategi yang diperlukan dalam suatu kondisi. Latihan rutin juga berat harus senantiasa dilakukan agar mereka siap dalam segala keadaan. Hal tersebut membuat seorang tentara sering kali harus siap meninggalkan apa pun dan bahkan keluarganya terutama jika harus menempati wilayah yang berbeda dengan asalnya. Itulah salah satu yang membuat tentara memiliki hobi bermacam-macam, salah satunya menulis. Tidak banyak memang tentara yang memiliki ketertarikan terhadap dunia menulis, namun di antara yang tidak banyak itu, lahir karya-karya yang cukup dikenal masyarakat. YuKepo udah nyiapin nih tentara-tentara yang menulis buku, baik itu nonfiksi maupun fiksi. Mau tau? Yuk, kita kepoin!

1. A.H. Nasution

kebudayaan.kemdikbud.go.id

Abdul Haris Nasution adalah jenderal yang paling banyak menulis buku. Buku-buku yang ditulis Nasution banyak bertemakan sejarah militer Indonesia dan pembangunan. Beberapa buku yang pernah ditulisnya adalah 11 jilid Seputar Perang Kemerdekaan, 3 jilid Tentara Nasional Indonesia, Catatan-catatan Sekitar Politik Militer Indonesia (1954), Meneruskan Perjuangan Orde Baru (1973), Bagi Pejuang Tidak Ada Tugas Akhir dan Akhir Tugas (1990), dan masih banyak banget yang lainnya. Salah satu buku A.H. Nasution ini dijadikan sebagai buku yang wajib dibaca para taruna di Amerika, lho.

2. Chappy Hakim

www.intelijen.co.id

Marsekal Chappy Hakim, mantan anggota TNI Angkatan Udara yang pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Udara sejak 2002 sampai 2005 ini telah menulis beberapa buku yang memuat gagasan-gagasannya. Beberapa judul bukunya yang terbit adalah Untuk Indonesiaku: Setumpuk Harapan ke Depan (2006), Awas Ketabrak Pesawat Terbang! (2009), Pelangi Dirgantara (2010), Tanah Air dan Udaraku Indonesia (2009), Chappy Hakim dalam Musik dan Lagu (2004), dll.  

3. Himawan Sutanto

www.antaranews.com

Himawan Sutanto banyak menulis tentang pengalamannya ketika menjadi TNI. Himawan yang pernah menjadi perwira di Divisi Siliwangi ini menulis buku di antaranya Perintah Soekarno Rebut Kembali Madiun (1994), Madiun dari Republik ke Republik (2006), Long March Siliwangi (2007), Yogyakarta 19 Desember 1948 (2007), Serangan Jepang ke Hindia Belanada (2009), Merebut Kembali Polewali (2009), dan Menjadi TNI (2009).

4. T.B. Simatupang
pelitabatak.com

Tahi Bonar Simatupang, salah satu pendiri TNI, pernah juga menulis beberapa buku yang menceritakan pengalamannya ketika bergerilya melawan Belanda. Beberapa bukunya adalah Laporan Dari Banaran (1960), Harapan, Keprihatinan, dan Tekad (1985), Pelopor dalam Perang Pelopor dalam Damai (1981), dan Soal-soal Politik Militer Indonesia (1956). T.B. Simatupang juga pernah menulis sebuah autobiografi yang diberi judul Membuktikan Ketidakbenaran Suatu Mitos (1991).

5. Slamet Danoesoedirjo
www.jakarta.go.id

Berbeda dari kebanyakan tentara yang menulis, Slamet Danoesoedirjo menulis buku-buku fiksi. Pensiunan Mayor Jenderal ini punya nama pena Pandir Kelana. Beberapa buku yang telah ditulis Pandir Kelana adalah Kereta Api Terakhir (1981), Kadarwati: Wanita dengan Lima Nama (1982), Ibu Sinder (1983), Rintihan Buruh Kedasih (1984), Bara Bola Api (1992), Merah Putih Golek Kencana (1992), Subang Zamrud Nurhayati (1992), dll.

6. T.B. Silalahi

ajaran-kristen.blogspot.co.id

Selain Slamet Danoesoedirjo, ada juga pensiunan tentara lain yang juga menulis buku fiksi, yakni Tiopan Bernard Silalahi. Buku yang ditulis T.B. Silalahi ini adalah sebuah novel berjudul Toba Dreams (2015). Novel ini belakangan diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama juga pada tahun 2015.

7. Trisno Yuwono

www.goodreads.com

Trisno Yuwono adalah salah satu anggota awal Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) atau yang sekarang disebut Kopassus. Trisno Yuwono ini produktif dalam menulis buku fiksi. Karyanya yang terkenal adalah Pagar Kawat Berduri (1961) dan Laki-laki Mesiu (1957). Karya lainnya adalah Bulan Madu (1962), Di Medan Perang (1962), Angin Laut (1958), Kisah-kisah Revolusi (1965), Petualang (1981), dll.

8. Pramoedya Ananta Toer

style.tribunnews.com

Siapa sangka sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, adalah mantan tentara? Pram pernah menjadi Letnan TNI di Divisi Siliwangi. Setelah lepas dari militer, Pram sangat produktif menulis novel. Karya-karyanya yang sangat terkenal adalah Keluarga Gerilya (1950), Bukan Pasar Malam (1951), Di Tepi Kali Bekas (1951), Cerita dari Blora (1952), Cerita Calon Arang (1957), Gadis Pantai (1962), Panggil Aku Kartini Saja (1963), dan masih banyak lagi. Setidaknya ada puluhan novel yang dihasilkan oleh Pram selain esai-esainya.

Itu dia tentara-tentara yang tidak hanya bersenjata senapan-senapan berat, tapi juga pena. Ternyata, menulis bisa dilakukan siapa aja ya, tidak harus seorang akademisi atau orang-orang yang memang melabelkan diri sebagai penulis. Buktinya, tentara juga menulis. Kalau kamu sudah menulis belum?

0%
Marah
0%
Gokil
0%
Lucu
0%
Kaget
0%
Suka
0%
Aneh
SHARES
Keren! 7 Guru dari Indonesia Dapat Beasiswa untuk Belajar Menjadi Astronot di Amerika!

Keren! 7 Guru dari Indonesia Dapat Beasiswa untuk Belajar Menjadi Astronot di Amerika!

Para Pedagang Ini Pakai Bahas Inggris di Spanduk Jualannya, Kira-kira Apa yang Aneh, Ya?

Para Pedagang Ini Pakai Bahas Inggris di Spanduk Jualannya, Kira-kira Apa yang Aneh, Ya?

Jenis-Jenis Belangkon yang Harus Banget Kamu Tau

Jenis-Jenis Belangkon yang Harus Banget Kamu Tau

Mengerikan! Ilustrasi Ini Menggambarkan Kondisi Indonesia Tanpa KPK

Mengerikan! Ilustrasi Ini Menggambarkan Kondisi Indonesia Tanpa KPK

Gak Ngerti Lagi Kenapa 13 Desa di Bawah Ini Dikasih Nama yang Nyeleneh Banget

Gak Ngerti Lagi Kenapa 13 Desa di Bawah Ini Dikasih Nama yang Nyeleneh Banget

Mengenal Melati Kusuma A.K.A Komodo, Superhero Asal Indonesia di Marvel

Mengenal Melati Kusuma A.K.A Komodo, Superhero Asal Indonesia di Marvel

loading