8 Kali Lebih Dahsyat dari Krakatau, Inilah Sejarah Letusan Gunung Samalas. Mirip Kiamat!

says.com

Tanah di Indonesia pun tergolong subur karena banyak sekali tanaman yang dapat ditanam di bumi pertiwi. Salah satu faktor yang membuat tanah Indonesia menjadi subur adalah banyaknya gunung-gunung berapi yang terdapat di bumi pertiwi ini. Berkaitan dengan hal tersebut, kali ini YuKepo akan mengajak kamu untuk mengenang sejarah letusan salah satu gunung api purba yang ada di Indonesia. Samalas, itulah nama gunungnya. Seperti apa sejarah dan dampak letusan dari gunung yang terletak di Lombok ini? Langsung saja kita simak berama. Yuk, kepo!

Masyarakat banyak yang meyakini bahwa letusan dari Gunung Krakatau ataupun Gunung Tambora merupakan letusan yang paling dahsyat yang pernah terjadi di Indonesia. Namun, setelah dilakukan penelitian lebih jauh, ternyata ada satu gunung yang disinyalir memiliki letusan yang lebih hebat dari kedua gunung tersebut dan bahkan delapan kali lebih dahsyat dari Krakatau dan dua kali lebih dahsyat dari Tambora. 

terselubung.in

Dalam sebuah jurnal karya para peneliti dari Université Panthéon-Sorbonne, Prancis, yang berjudul Source of the great A.D. 1257 mystery eruption unveiled, Samalas volcano, Rinjani Volcanic Complex, Indonesia dan dimuat dalam Proceeding of National Academy of Science of the United Stated of America pada tanggal 4 September 2013, letusan Gunung Samalas termasuk ke dalam kategori “ledakan termega”. Sebagai perbandingan, dalam skala Volcano Explositivity Index (VEI) dalam rentang angka 1-8, letusan Gunung Merapi berada dalam skala 4, sedangkan letusan dari Gunung Krakatau berada dalam skala 7. Bisa dibayangkan bukan kehebatan dari letusan gunung api purba ini?

Sejarah mencatat bahwa terdapat perubahan iklim yang sangat signifikan pada tahun 1258 di mana musim panas yang terjadi di Eropa berubah menjadi musim dingin dengan panen buruk dan hujan yang terus menerus mengguyur sehingga menyebabkan banjir di mana-mana. Selain itu, para arkeolog juga menemukan tulang belulang di pemakaman massal London yang diyakini terbuat pada tahun 1258. Selain itu, terdapat pula penemuan sulfat vulkanik dan tephra yang terkunci dalam sampel inti es di wilayah Greenland dan Antartika yang diduga kuat berasal dari gunung berapi tropis. Para peneliti pun kemudian berusaha mencari apa penyebab dari bencana besar yang melumpuhkan dunia tersebut dan akhirnya mengarah pada Gunung Samalas yang ada di Lombok, Indonesia.

terselubung.in

Gunung Samalas sendiri diperkirakan meletus antara bulan Mei hingga Oktober 1257. Untuk mengetahui seberapa hebat letusan gunung ini, para peneliti kemudian membentuk sebuah tim yang terdiri atas 15 orang peneliti dari berbagai disiplin ilmu. Tiga dari dua belas peneliti tersebut berasal dari Indonesia, sedangkan peneliti lainnya berasal dari Prancis (8 orang), Swiss (3 orang), dan Inggris (1 orang). Dalam penelitian ini, para peneliti menggunakan berbagai macam indikator, seperti uji radiokarbon, kimia ejecta vulkanis, data stratigrafi, dan catatan-catatan sejarah.

Hasilnya, para peneliti meyakini bahwa debu vulkanik yang terdapat di wilayah Kutub Utara dan Selatan berasal dari Gunung Samalas. Para peneliti pun dapat menentukan waktu terjadinya letusan berdasarkan pada uji radiocarbon dengan menggunakan batang dan cabang pohon-pohon yang ada di sekitar Gunung Barujari dan Rinjani sebagai sampel. Data dari uji radiokarbon tersebut konsisten dengan tanggal letusan yang terjadi pada abad pertengahan dan tidak menunjukkan sampel tahun yang lebih muda dari tahun 1257. Dengan hasil ini, kandidat lainnya, yakni Gunung El Chicon di Meksiko dan Okataina di Selandia Baru gugur karena letusan dari kedua gunung tersebut terjadi di luar waktu yang diperkirakan.

Studi komposisi Geokimia dari material vulkanis yang ditemukan di wilayah Greenland dan Antartika pun memiliki kesamaan yang sangat meyakinkan dengan material vulkanis dari Gunung Samalas. Hasil ini pun menggugurkan kandidat lainnya, yakni Gunung Quilotoa yang ada di Ekuador. Selain itu, kaldera yang dimiliki oleh Samalas jauh lebih besar daripada kaldera yang dimiliki oleh Quilotoa. Hal itu dapat dibuktikan dengan keberadaan Danau Segara Anak yang ada di Gunung Samalas.

ranjesmanurung.blogspot.co.id

Penelitian pun menunjukkan bahwa setidaknya 40 km kubik material vulkanik dihempaskan oleh Gunung Samalas ke langit ketika meletus hingga mencapai ketinggian lebih dari 43 km dan menghasilkan hujan abu yang menutupi seluruh dunia. Akibatnya, tidak ada musim panas di Eropa selama bertahun-tahun serta kegagalan panen yang menyebabkan kelaparan dan kematian. Di dekat gunung itu sendiri terdapat tumpukan endapan tebal di lebih dari 130 tempat yang kemudian dikumpulkan oleh tim peneliti untuk menghasilkan gambaran stratigrafi dan sedimentologis mengenai proses terjadinya letusan.

Penamaan serta gambaran dari kedahsyatan letusan gunung api purba yang meluluhlantahkan dunia ini dapat diketahui dari ceritera yang terdapat dalam Babad Lombok yang ditulis pada Lontar Jatiswara dengan menggunakan bahasa Jawa Kawi. Pada tahun 1979, Babad Lombok ditulis ulang oleh Lalu Wacana pada lembaran kertas. Babad Lombok ini pun kemudian diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI dalam Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah. Berikut beberapa butir bunyi dari Babad Lombok yang berkaitan dengan penamaan Gunung Samalas.

www.apwtour.com

274. Gunung Renjani kularat, miwah gunung samalas rakrat, balabur watu gumuruh, tibeng desa Pamatan, yata kanyut bale haling parubuh, kurambangning sagara, wong ngipun halong kang mati.

275. Pitung dina lami nira, gentuh hiku hangebeki pretiwi, hing leneng hadampar, hanerus maring batu Dendeng kang nganyuk, wong ngipun kabeh hing paliya, saweneh munggah hing ngukir.

276. Hing jaringo hasingidan, saminya ngungsi salon darak sangaji, hakupul hana hing riku, weneh ngunsi samuliya, boroh Bandar papunba lawan pasalun, sarowok pili lan ranggiya, sambalun pajang lan sapit.

277. Yek nango lan pelameran, batu banda jejangkah tanah neki, duri hanare menyan batu, saher kalawan balas, batu lawang batu rentang batu cangku, samalih tiba hing tengah, brang bantun gennira ngungsi.

278. Hana ring pundung buwak bakang, tana’ gadang lembak babidas hiki, saweneh hana halarut, hing bumi kembang kekrang, pangadangan lawan puka hatin lungguh, saweneh kalah kang tiba, mara hing langko pajanggih.

279. Warnanen kang munggeng palowan, sami larut lawan ratu hing nguni, hasangidan ya riku, hingLombok goku medah, genep pitung dina punang gentuh, nulih hangumah desa, hing preneha siji-siji.

Lalu Muhamad Jaelani pun kemudian mengalihbahasakan butir pada Babad Lombok di atas seperti yang dilansir dari laman sasak.org.

274. Gunung Rinjani Longsor, dan Gunung Samalas runtuh, banjir batu gemuruh, menghancurkan Desa Pamatan, rumah-rumah rubuh dan hanyut terbawa lumpur, terapung-apung di lautan, penduduknya banyak yang mati.

275. Tujuh hari lamanya, gempa dahsyat merusak bumi, terdampar di Leneng (lenek), diseret oleh batu gunung yang hanyut, manusia berlari semua, sebahagian lagi naik ke bukit.

276. Bersembunyi di Jeringo, semua mengungsi sisa kerabat raja, berkumpul mereka di situ, ada yang mengungsi ke Samulia, Borok, Bandar, Pepumba, dan Pasalun, Serowok, Piling, dan Ranggi, Sembalun, Pajang, dan Sapit.

277. Di Nangan dan Palemoran, batu besar dan gelundungan tanah, duri, dan batu menyan, batu apung dan pasir, batu sedimen granit, dan batu cangku, jatuh di tengah daratan, mereka mengungsi ke Brang batun.

278. Ada ke Pundung, Buak, Bakang, Tana’ Bea, Lembuak, Bebidas, sebagian ada mengungsi, ke bumi Kembang, Kekrang, Pengadangan dan Puka hate-hate lungguh, sebagian ada yang sampai, datang ke Langko, Pejanggik.

279. Semua mengungsi dengan ratunya, berlindung mereka di situ, di Lombok tempatnya diam, genap tujuh hari gempa itu, lalu membangun desa, di tempatnya masing-masing.

Gunung Samalas sendiri saat ini lebih dikenal dengan nama Gunung Barujari. Hal itu diketahui ketika melihat lokasi Gunung Barujari yang sama persis dengan lokasi dari Gunung Samalas. Meski demikian, masih terdapat banyak perdebatan mengenai hal ini. Bahkan, beberapa media mengatakan bahwa Gunung Barujari adalah anak dari Gunung Rinjani. Dengan keberadaan dari Gunung Rinjani yang lebih muda daripada Gunung Samalas, maka bisa juga dikatakan bahwa Gunung Barujari merupakan bagian dari Gunung Samalas itu sendiri. Atau mungkin Gunung Samalas merupakan kesatuan dari Gunung Rinjani dan Gunung Barujari?

0%
Marah
0%
Gokil
0%
Lucu
0%
Kaget
0%
Suka
0%
Aneh
SHARES
Kebijakan "Tenggelamkan!" Menteri Susi Pudjiastuti Ditentang Luhut, Gimana Sih Koordinasi Antar-Kementerian?

Kebijakan "Tenggelamkan!" Menteri Susi Pudjiastuti Ditentang Luhut, Gimana Sih Koordinasi Antar-Kementerian?

Pecinta Kopi Pasti Tahu, Ini 7 Kopi Asli Indonesia yang Sudah Mendunia. Bangga!

Pecinta Kopi Pasti Tahu, Ini 7 Kopi Asli Indonesia yang Sudah Mendunia. Bangga!

Dari Gita Gutawa Sampai Rudi Hartono, 5 Orang Ini Masuk Guinness World Records!

Dari Gita Gutawa Sampai Rudi Hartono, 5 Orang Ini Masuk Guinness World Records!

Ini Nih 10 Celotehan Kocak Kang Emil yang Jadi Bukti Ia Berbakat Melawak!

Ini Nih 10 Celotehan Kocak Kang Emil yang Jadi Bukti Ia Berbakat Melawak!

Nggak Cuma Batik Yogyakarta dan Solo, Batik Betawi Kampung Terogong Juga Menawan Hati!

Nggak Cuma Batik Yogyakarta dan Solo, Batik Betawi Kampung Terogong Juga Menawan Hati!

“GATSBY Pomadic Party”, Ajang Kolaborasi yang Akan Membuat Kamu Semakin Tampan. Yuk Dateng!

“GATSBY Pomadic Party”, Ajang Kolaborasi yang Akan Membuat Kamu Semakin Tampan. Yuk Dateng!

loading