7 Ramalan Jayabaya yang Terbukti Benar. Asli Bikin Merinding!

04 September 2017
|Fatimah Artayu Fitrazana
0SHARES

Sri Maharaja Sri Warmmeswara Madhusudana Wataranindita Parakrama Digjayottunggadewanama Jayabhayalancana adalah gelar lengkapnya. Sudah terbayang nama siapakah itu? Beliaulah Prabu Jayabaya, Raja Kediri yang namanya melegenda karena buku ramalan miliknya diyakini akan menjadi kenyataan di kehidupan yang akan datang. Kitab ramalan yang tersohor dan konon bertuah itu bernama “Jangka Jayabaya.”

Dalam kitab ramalan “Jangka Jayabaya”, terdapat ratusan ramalan yang ditulis oleh Prabu Jayabaya. Ramalan yang ditulis Jayabaya adalah berupa kata dan kalimat kiasan atau masyarakat Jawa lebih mengenalnya dengan sanepan.  Dari sekian banyak ramalan Jayabaya yang populer, di bawah ini adalah tujuh ramalan yang mungkin jarang terdengar, tapi buktinya cukup nyata di sekitar kita.  

1. Penjajahan Jepang

Ramalan Jayabaya yang pertama kali ini sudah cukup populer sekaligus kontroversial. "Kejajah sak umur jagung karo wong cebol" atau ada juga yang menyebutkan "Si kate cebol sak umur jagung panguwasane" keduanya memiliki kemiripan arti, yaitu 'orang pendek hanya seumur jagung menjajah/ menguasai'. Bunyi ramalan ini mengarah pada masa penjajahan Jepang yang hanya sebentar dibandingkan kolonial Belanda, yaitu 3,5 tahun, sedangkan menjadi kontroversial karena banyak pihak yang meragukan keaslian ramalan ini. Mereka yang menyangsikan beranggapan jika tanaman jagung baru dikenal sekitar tahun 1400an, sedangkan Jayabaya hidup di tahun 1130 – 1157. Menurut kamu?

2. Pulau Jawa berkalung besi? Inikah maksudnya?

Dalam ramalannya, Prabu Jayabaya menyebutkan adanya "Tanah Jawa kalungan wesi" atau dalam bahasa Indonesia berarti 'Pulau Jawa berkalung besi'. Banyak orang menafsirkan kalimat itu sebagai jalur/ rel kereta api. Jika ditelusuri, ada kemungkinan memang itu yang dimaksudkan. Pertama adalah fakta jika Pulau Jawa memiliki jalur kereta api terbanyak. Sampai saat ini, jalur kereta api aktif di pulau Jawa adalah sekitar 3.783 km panjangnya. Ditambah dengan rencana pemerintah di bawah wewenang Kementerian Perhubungan (Kemenhub) tahun 2035, jalur kereta api di pulau Jawa akan ditambah sehingga panjangnya menjadi 6.168 km. Bukankah Pulau Jawa berkalung besi sudah semakin mendekati kenyataan? 

3. Barang haram yang banyak beredar

Indonesia darurat narkoba! Bisa jadi itu adalah perwujudan dari salah satu ramalan Jayabaya. Dia menuliskan "Akeh barang haram" yang berarti 'banyak barang haram'. Memang tidak secara tersurat menyebutkan jenisnya, tapi maraknya pengedaran dan pemakaian narkoba beberapa tahun terakhir ini sungguh bisa menjadi cerminan apa yang pernah diramalkan Jayabaya.

Eksekusi mati sejumlah gembong narkoba, penangkapan sederet artis tanah air beberapa pekan terakhir, serta pemusnahan barang bukti narkoba berupa 1,4 ton sabu dan 1,2 juta pil ekstasi di pertengahan Agustus lalu seolah menegaskan jika barang haram narkoba adalah masalah nasional yang harus diperangi bersama.

4. Human trafficking sudah diramalkan Jayabaya

Human trafficking atau perdagangan manusia adalah isu yang banyak digaungkan setelah era globalisasi. Percayakah kamu jika Jayabaya sudah pernah meramalkan isu kemanusiaan satu ini? "Akeh ibu padha ngedol anake" atau 'banyak ibu menjual anaknya', begitulah yang tertulis. Perdagangan manusia termasuk perdagangan anak memang menjadi isu yang memprihatinkan, terlebih tak jarang justru orang tuanya sendiri yang ingin menjual anaknya.

Di Indonesia sendiri, menurut data KPAI, sejak tahun 2011 sampai Juli 2015 tercatat 860 kasus perdagangan anak yang dilaporkan. Para penjual dan sindikat perdagangan manusia ini bahkan tak ragu mem-posting iklannya secara online. 

5. Fenomena Global Warming

Peristiwa alam sering kali muncul dalam ramalan Jayabaya. Salah satunya adalah hujan sering datang di musim yang salah atau dalam bahasa Jawa "Akeh udan salah mongso". Ini merupakan satu dari sekian banyak fenomena anomali yang terjadi karena dampak dari pemanasan global.

Banjir yang terjadi di musim kemarau seperti pada bulan Juni 2016 yang mengakibatkan setidaknya 6 kabupaten/ kota di Jawa Tengah terkena musibah banjir dan longsor. Meski salah satu penyebabnya adalah karena fenomena La Nina, toh tetap saja hujan turun di musim yang tidak seharusnya.

6. Gambaran G 30 S/PKI versi Jayabaya (?)

Ramalan satu ini sering dikaitkan dengan peristiwa G 30 S/ PKI yang mengerikan. Jayabaya meramalkannya dengan "Pitik tarung sak kandang" atau artinya 'ayam bertarung sekandang'. Kandang itu tentu penuh bercak darah ayam yang saling bertarung. Itulah yang disebut-sebut menggambarkan pembunuhan tujuh jenderal angkatan darat yang kemudian diikuti pembantaian terhadap orang-orang yang disangka bergabung dengan PKI.

Ramalannya bisa diterima bukan?

7. Konon berlaku di zaman Presiden Soeharto

Ramalan yang terakhir ini meskipun belum bisa sepenuhnya dibuktikan, namun sering diduga mengarah pada rezim Orde Baru. "Kodok ijo ongkang-ongkang", begitu bunyi ramalan Jayabaya. Arti dari ramalan itu adalah 'katak hijau yang duduk dengan kaki terjuntai biasanya tanpa berbuat apa-apa'. Kaitannya dengan era orde baru adalah karena kebetulan Angkatan Bersenjata RI (ABRI) berseragam hijau dan rezim yang dibangun cenderung otoriter, yaitu dengan mengandalkan kekuasaan militer.

Dengan sekali perintah, siapa pun yang berani menyuarakan pendapat untuk mengkritisi pemerintah atau mengutaran pendapat yang dianggap membahayakan stabilitas sengara, akan ditangkap oleh tentara. Sayangnya, setelah itu ada yang kembali dengan selamat dan ada pula yang tidak kembali sama sekali. 

Bagaimana menurut kamu? Apakah pembuktian ramalan Jayabaya cukup meyakinkan? 


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Fatimah Artayu Fitrazana
Gak Punya Quote Nih!
0SHARES