7 Kampung Adat di Tanah Sunda ini Masih Bertahan Walau Bukan di Pedalaman

15 April 2017
|Atik Kencana S.
0SHARES

Apa jadinya ya kalau kita yang sudah biasa berbaur dengan lingkungan yang serba modern tiba-tiba harus tinggal di suatu kampung yang masih kental banget soal adat istiadatnya? Jangankan untuk pergi hang out ke mall, untuk keluar rumah seusai maghrib aja udah bisa jadi pantangan. Kebayang gak sih? Apa kamu bakalan kuat?

Mungkin menurut kamu keberadaan kampung-kampung adat ini sudah gak ada. Beda halnya dengan pemukiman orang pedalaman ya. Tapi ternyata dugaanmu itu salah lho. Masih ada beberapa kampung adat yang masih bertahan sampai sekarang.

Ngomongin kampung adat, kali ini YuKepo mau bahas mengenai beberapa kampung adat yang ada di tanah Sunda. Kampung-kampung ini memang bukan pedalaman, tapi masyarakatnya masih memegang teguh adat istiadat yang berlaku lho. Penasaran? YuKepo!

1. Kampung Cikondang

Kampung Cikondang berada di Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Kampung ini berjarak sekitar 38 km dari pusat kota Bandung. Para warga setempat meyakini bahwa leluhur mereka yang sudah menempati kampung ini sejak awal merupakan seorang wali yang pada saat itu sedang menyebarkan agama Islam. Beliau adalah Uyut Pameget dan Uyut Istri yang mereka yakini sebagai pembawa berkah dan melindungi para warga di kampung tersebut. Sayangnya tidak ada bukti yang valid sejak kapan Uyut Pameget dan Uyut Istri mulai menempati kampung itu. Para masyarakkat meyakini bahwa kampung Cikondang tersebut sudah ada sejak tahun 1800-an.

2. Kampung Mahmud

Kampung Mahmud terletak di Desa Mekarrahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung. Menurut kepercayaan warga setempat, kampung ini dibangun oleh seorang turunan wali Cirebon yaitu Sembah Eyang Abdul Manaf pada abad ke-15. Kampung yang didirikan di pinggiran Sungai Citarum ini merupakan firasat Eyang Manaf sewaktu melakukan ibadah haji. Ia berfirasat negerinya akan dijajah bangsa asing. Dan benar saja, semasa penjajahan Belanda kampung ini justru dijadikan tempat persembunyiannya yang paling aman. Hingga kini, para masyarakat sekitar sangat menghormati Eyang Manaf dengan cara memelihara makamnya dengan baik.

3. Kampung Urug

Kampung Urug ini berlokasi sekitar 48 km dari pusat kota Bogor. Kampung ini merupakan kampung yang masyarakatnya mempercayai bahwa mereka merupakan keturunan Prabu Siliwangi, raja Kerajaan Pajajaran. Hal itu dibuktikan dengan konstruksi bangunan di kampung ini yang memang menyerupai beberapa peninggalan Kerajaan Pajajaran di Cirebon.

4. Kampung Pulo

Kampung Pulo ini bukan yang berada di Jakarta yang merupakan langganan banjir. Kampung Pulo ini berada di kawasan Situ Cangkuang, Kabupaten Garut. Konon dulunya kampung ini mayoritas masyarakatnya beragama Hindu. Hingga pada suatu hari datanglah Embah Dalem Arif Muhammad yang kalah dalam menghadapi Belanda. Karena malu kepada Sultan Agung pada saat itu maka ia enggan kembali ke Mataram. Ia justru tinggal dan menyebarkan agama Islam di Kampung Pulo hingga wafat.

Di Kampung Pulo ia memiliki 6 orang anak, sehingga ia membuatkan 6 buah rumah dan sebuah masjid. Jumlah rumah di Kampung Pulo tidak boleh ditambah atau dikurangi dan setiap rumah hanya boleh diisi lebih dari 6 kepala keluarga. Jadi jika ada laki-laki yang dewasa menikah, ia hanya diberi waktu 2 minggu setelah itu harus keluar dari lingkungan Kampung Pulo tersebut.

5. Kampung Naga

Kampung Naga ini bukan sebuah kampung yang berisi banyak naga lho ya. Kampung Naga ini merupakan salah satu kampung adat yang berada di Desa Neglasari, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Kampung ini bermula saat seseorang bernama Singaparana diperintah oleh Sunan Gunung Jati untuk menyebarkan agama Islam di seluruh penjuru Neglasari. Ia kemudian diberi julukan sebagai Sembah Dalem Singaparana oleh masyarakat kampung setempat. Dalam pertapaannya ia mendapatkan petunjuk untuk mendiami tempat yang saat ini disebut sebagai Kampung Naga. Saat ini Kampung Naga juga menjadi objek kajian antropologi tentang kehidupan masyarakat di tanah Sunda pada masa peralihan dari Hindu menuju Islam.

6. Kampung Kuta

Kampung yang dipercaya pernah dicalonkan sebagai ibukota Kerajaan Galuh ini terletak di Ciamis, Jawa Barat. Kampung ini dikelilingi oleh bukit (kuta=tembok). Di kampung ini sudah mengenal struktur dan peran sosial dengan adanya Kepala Desa, ketua RW, ketua RT dan lainnya. Sedangkan pimpinan non-formal yang berdasarkan penghormatan masyarakat karena alasan usia, pengetahuan dan peran di lingkungannya biasa disebut kuncen.

7. Kampung Dukuh

Kampung Dukuh berada di Desa Cijambe, Kecamatan Cikelet, Kota Garut. Kampung ini didirikan oleh seorang ulama pada saat itu yang bernama Syekh Abdul Jalil. Mata pencaharian masyarakat Kampung Dukuh adalah bertani baik di lahan basah maupun lahan kering.  Kampung ini memiliki struktur pemukiman yang berkelompok. Puluhan rumah berjajar pada kemiringan yang bertingkat seperti terasering.  Sedangkan Kampung Dukuh ini berasal dari kata tukuh (patut, kukuh, teguh) dalam mempertahankan apa yang menjadi miliknya. 

Nah itulah 7 kampung adat yang ada di tanah sunda yang sampai saat ini masih ada. Kampung-kampung tersebut walaupun tidak berada di pedalaman namun tetap mampu mempertahankan kearifan lokal yang ada di zaman yang gencar akan modernisasi ini. Lumayan lho, kampung-kampung di atas bisa juga dijadikan tempat untuk wisata, tapi jangan lupa patuhi peraturan yang ada ya.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Atik Kencana S.
"Semper Fi"
0SHARES