10 Potret Pedagang Kaki Lima Zaman Penjajahan yang Terlihat Masih Sangat Tradisional

05 Mei 2017
|Reza Pratama

Jauh sebelum adanya mall dan minimarket yang merajalela seperti sekarang, pedagang kaki lima lah yang menjadi sumber perekonomian rakyat. Mungkin sekarang pedagang kaki lima dianggap sebagai salah satu sumber kemacetan. Apalagi saat ini banyak pedagang kaki lima yang membuka dagangnya di bahu-bahu jalan. Jadi tak heran jika banyak kebijakan pemerintah yang menertibkan dan menggusur para pedagang kaki lima yang berjualan di tempat yang tak seharusnya. Namun jika mengingat sejarah zaman dulu, pedagang kaki lima bisa dikatakan menjadi salah satu sumber pertumbuhan dan perekonomian rakyat Indonesia zaman dahulu kala. 

Mungkin saat ini kita bisa menemukan berbagai macam penjual dagangan di pinggir jalan, dari mulai pakaian, aksesoris, hingga jajanan. Pedagang kaki lima yang menjual jajanan lah yang paling banyak kita temui di pinggir jalanan. Harganya yang tergolong murah meriah, membuat para pedagang kaki lima selalu banyak mendapatkan keuntungan dengan berjualan di pinggir jalan. Namun, dengan semakin merajalelanya para pedagang, membuat banyak tempat-tempat yang seharusnya untuk jalan umum digunakan sebagai tempat berjualan.

Jika kita balik lagi ke zaman penjajahan dulu, para pedagang kaki lima masih tidak merajalela seperti sekarang. Karena dulu belum ada yang namanya kendaraan, jadi tak ada istilah macet. Para pedagang zaman dulu lebih memilih untuk berjalan puluhan kilometer untuk menjajakan jualannya. Dagangannya pun masih berupa buah-buahan serta makanan saja. Tak ada yang namanya jualan ikan cupang atau burung pipit. Makanan yang dijual pun masih berupa makanan khas Indonesia, seperti soto, sate, nasi rames dan lain-lain. Nah, di bawah ini YuKepo akan menujukkan beberapa potret para pedagang kaki lima di zaman penjajahan Belanda yang terlihat masih sangat tradisional.

1. Tukang sate zaman penjajahan Belanda

2. Pedagang nasi rames

3. Penjual Es limun

4. Tukang buah-buahan

6. Anak kecil yang sudah berjualan sayuran

7. Pedagang buah-buahan

8. Penjual jamu

10. Tukang buah-buahan

Nah, itulah beberapa potret yang menggambarkan kondisi pedagang kaki lima zaman penjajahan. Masih belum ada tuh yang namanya tahu bulat pada zaman dulu. Banyak juga para pedagang yang tak menggunakan alas kaki serta baju. Para pedagang zaman dulu rela memanggul dagangannya tanpa menggunakan alas kaki sejauh puluhan kilo. Soal harga tentunya jangan ditanya lagi, mungkin harga satu porsi soto masih 1 perak sampai 5 perak. 


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Reza Pratama
"Drangan Trakioiot"
SHARES