10 Jenang Nusantara Ini Bukan Cuma Bikin Liur Menitik, Filosofinya juga Mantap Jaya!

24 Februari 2018
|Median
0SHARES

Makanan-makanan tradisional Nusantara memang mantap pada, nggak perlu diragukan lagi. Setiap daerah memiliki kekhasannya masing-masing, termasuk Jawa. Salah satu jenis makanan tradisional di Jawa yang paling merakyat dan populer adalah jenang. Banyak macam jenang yang dapat kita jumpai di Nusantara. Mantapnya lagi, jenang-jenang nusantara ini memiliki filosofi yang juga oke, bukan sekadar panganan saja.

Nah, kali ini YuKepo akan bahas deh macam-macam jenang nusantara, terutama di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Berikut 10 macam jenang Nusantara yang bikin kamu berdecak pingin makan!

 

1. Jenang Koloh

Jenang Koloh sama dengan Jenang Sumsum, yaitu sama-sama pula terbuat dari tepung beras yang dimasak dengan santan. Bedanya,  jenang ini tidak disajikan dengan juruh atau kuah dari gula jawa, tetapi ditambahi pewarna yang bervariasi di atasnya. Jenang ini mengandung filosofi bahwa kesempurnaan adalah tujuan hakiki kehidupan manusia. Kita harus terus berproses untuk menuju kesempurnaan hidup di dunia dan akhirat.

2. Jenang Kolep

Jenang Kolep ini teman dekatnya Jenang Koloh karena sama-sama diberi variasi warna di atasnya, beda polanya saja. Variasi warna yang ditambahkan di atas jenang ini mengandung filosofi bahwa manusia sebagai makhluk sosial selalu dihadapkan pada perbedaan. Dalam kehidupan bermasyarakat, kita harus bisa saling menghargai perbedaan itu, bukan dengan saling meniadakan perbedaan.

3. Jenang katul

Jenang Katul terbuat dari tepung bekatul yang dimasak dengan santan dan gula jawa. Filosofinya adalah bahwa dalam hidup, kita selalu membutuhkan orang lain. Sederhana, tapi ngena, ya.

4. Jenang warna papat

Jenang Warna Papat atau jenang empat warna/macam ini berupa jenang putih yang diberi variasi warna hijau, kuning, dan merah di atasnya. Secara implisit, warna putih menyimbolkan mutmainah (hasrat ibadah), merah menyimbolkan amarah, kuning menyimbolkan aluamah (sifat kejam/pembunuh), dan hijau menyimbolkan supiyah (nafsu duniawi). Maksud implisitnya, kita sebisa mungkin harus dapat mengatur dan mengendalikan keempat sifat yang ada dalam diri kita tadi.

 

5. Jenang Lemu

Jenang Nusantara yang satu ini berupa bubur yang disajikan dengan sayur kuah dan lauk-pauk. Mungkin kamu sering sarapan dengan menu ini, tapi nggak sadar aja kalau namanya adalah Jenang Lemu. Filosofi jenang ini adalah tekad dan semangat untuk terus menjalani kehidupan.

6. Jenang Lang

Kalau Jenang Sumsum menggunakan kuah dari gula jawa, Jenang Lang ini menggunakan kuah dari gula pasir dan air kelapa. Filosofinya adalah bahwa kita harus melihat sesuatu dari perspektif yang luas, tapi jangan lupa juga bahwa kita harus fokus dengan tujuan yang telah direncanakan.

7. Jenang Suran

Jenang Suran disajikan dengan lauk-pauk yang lengkap, seperti sambal goreng, telur semur, perkedel, suwiran daging ayam, dan kerupuk udang. Jenang nusantara yang satu ini biasanya menjadi makanan khas yang disajikan setiap tanggal 10 Muharam (Sura) sebagai simbol ucapan syukur dan permohonan keselamatan kepada Tuhan.

8. Jenang Ngangrang

Jenang nusantara ini dibuat dari beras ketan yang dicampur gula jawa dan disajikan dengan kuah santan kental. Jenang Ngangrang mengandung filosofi bahwa manusia harus belajar untuk dapat mengontrol emosi dalam dirinya.

9. Jenang Lahan

Jenang Lahan adalah bubur putih polos, tanpa sayur dan lauk. Warna putih polos jenang nusantara ini mengandung filosofi bahwa kita harus melepaskan semua hawa nafsu dan sifat negatif, terutama ketika “bertemu” Tuhan sehingga kita bisa menjadi orang yang “putih” kembali.

10. Jenang Manggul

Jenang Manggul ini adalah bubur putih yang dicampur dengan kecambah. Fisolofi jenang nusantara ini adalah bahwa kita harus selalu menghargai kebaikan dan jasa para leluhur yang telah mewariskan segala bentuk ilmu pengetahuan kepada kita.

Jenang nusantara ini jadi bukti kalau orang-orang zaman dulu kreatif dan selalu punya cara untuk memvisualisasikan ide dan pikiran. Sudah selayaknya kita terus melestarikan peninggalan mereka, termasuk jenang-jenang nusantara ini nih. Nggak cuma melestarikan eksistensi jenangnya, filosofi dan maknanya juga harus kita pegang juga. Agar hidup makin sedap!


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Median
"Nata polah."
0SHARES