Tradisi Panamou yang Mengasingkan Wanita Suku Naulu Ini Memilukan dan Penuh Kontroversi

20 September 2017
|Ani Nur Cholifah
0SHARES

Indonesia yang kaya akan budaya ini dikarena adanya tradisi dan budaya yang berbeda dalam setiap daerah. Entah itu tradisi untuk pernikahan, kematian, memperingati sebuah acara hingga tradisi sebagai penanda kedewasaan juga memiliki keunikan tersendiri. Namun, ada sebuah tradisi yang tak biasa dan mungkin jarang terekspos, yakni tradisi pengasaingan untuk wanita.

Tradisi pengasingan yang disebut dengan panamou ini berlangsung di kawasan Pulau Seram, Maluku yang dan dilakukan oleh Suku Naulu. Para wanita ini diasingkan di sebuah bangunan yang cukup sederhana untuk beberapa saat. Nah, gimana kisah selengkapnya tentang tradisi panamou? Di bawah ini uraian lengkapnya!

Suku Naulu terbesar mendiami bagian selatan Pulau Seram, yakni Dusun Nuaea dan Sepan. Rata-rata mata pencaharian suku Naulu ini adalah berburum karena masih luasnya hamparan hutan. Sebagian warga juga bekerja dalam bidang pertanian. Suku ini juga dikenal cukup sadis karena pernah melakukan perburuan kepala manusia mirip dengan tragedi kelam yang berada di Kalimantan. Biasanya suku ini memenggal kepala musuh saat mereka berperang dengan suku lain kemudian peperang tersebut dimenangkan oleh suku Naulu.

Nah, kepala manusia yang sudah dipenggal tersebut dianggap sebagai berkah yang bisa mengusir bencana besar. Namun, tahun 2005 lalu, aksi mengerikan ini sudah mulai dinetralisir oleh lembaga hukum terkait.

Bangunan berukuran 2x2 yang terlihat seperti gubuk di area persawahan inilah yang digunakan oleh suku Naulu untuk mengasingkan para wanita. Wanita yang diasingkan ke gubug ini adalah para wanita yang sedang mengalami menstruasi atau haid hingga periode tersebut berakhir. Selama berada di gubug tersebut tak boleh ada pria yang mengunjungi termasuk keluarga. Para wanita yang diasingkan akan menerima makanan dan minuman dari kerabat wanita lainnya, namun wanita yang mengantarkan makanan tersbut tak boleh mengajak berbicara wanita yang sedang diungsikan. Wah, beruntung ya wanita yang tak mengalami hal ini.

Ternyata pengasingan ini juga berlaku untuk wanita hamil dengan usia kandungan yang hampir mendekati masa melahirkan. Para wanita hamil ini pun diperlakukan mirip dengan wanita yang sedang menstruasi. Lalu saat tiba masa melahirkan, wanita tersebut hanya akan dibantu oleh seorang dukun beranak dengan alat bantu seadanya. Kemudian mereka juga tak langsung dipertemukan dengan keluarga, karena mereka masih harus melewati masa pengasingan selama dua minggu. Setelah itu barulah mereka diperbolehkan untuk kembali ke rumah dan disambut dengan suka cita oleh para keluarganya di rumah.

Nah, ngeri nggak nih buat para wanita dengar tradisi ini? Meskipun tradisi ini penuh kontroversi, para wanita suku Naulu masih tetap menjalankan tradisi tersebut karena ia sangat menjunjung tinggi tradisi yang sudah ada sejak zaman nenek moyang.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Ani Nur Cholifah
"Melawan zona nyaman!"
0SHARES