Seram! Inilah Mantra-mantra Pemanggil Jailangkung yang Jarang Didengar

08 Juli 2017
|Chandra W.
0SHARES

Empat anak memegang dua buah pensil yang telah dirakit sedemikian rupa sehingga bersilangan. Di atasnya batok kelapa kecil seolah menjelma kepala. Di lantai telah disediakan setumpuk kertas putih polos bertuliskan iya dan tidak di sisi yang berseberangan. Bagian tengahnya sengaja dibiarkan kosong. Setelah memastikan semuanya siap, mereka berempat menguatkan pegangan tangan ke pensil dan bersama-sama berucap setengah berteriak, “Jailangkung. Jailangkung. Di sini ada pesta. Pestanya kecil-kecilan. Datang tak dijemput, pulang tak diantar,”.

Tak ada yang terjadi. Tangan-tangan kecil mereka masih memegangi pensil dengan kuat. Sekali lagi anak-anak iseng itu mengulangi mantra untuk memanggil jailangkung. Tidak ada orang mati yang secara spesifik ingin mereka datangkan. Yang penting setan, roh, makhluk halus, apa saja. Nanti mau ditanya soal asmara. Salah satu dari mereka merasakan pensil bergoyang. Tentu saja itu hanya perasaannya sendiri. Kenyataannya, tangan kecilnya itu dari tadi terlalu ngotot memegang pensil dan sekarang sudah lemas. Sedang teman-temannya masih kuat. Mantra itu tidak berhasil dan tak ada makhluk halus yang datang.

Praktik-praktik pemanggilan roh halus melalui boneka kayu dengan kepala dari batok kelapa ternyata bukan permainan belaka. Sebagian orang benar-benar melakukan ritual ini dan mencoba berkomunikasi dengan arwah manusia yang sudah meninggal. Mantranya pun bukan hanya “datang tak dijemput, pulang tak diantar,”.

Mantra pendek tadi ternyata hanya sebagian dari mantra lengkap pemanggil jailangkung, yaitu seperti berikut ini:

Sluku-sluku bathok, bathok’e ela-elo Si romo menyang solo, oleh-oleh’e payung muntho Mak jenthit lo-lo lobah, wong mati ora obah Yen obah medheni bocah Jaelangkung jaelangkung disini ada pesta, pesta kecil-kecilan datang tak dijemput, pulang tak diantar.

 

 

 

 

 

Sekilas mantra tersebut terdengar seperti pantun berbahasa Jawa dan jika diperhatikan dengan saksama, ada bagian yang cukup seram artinya. Tepatnya di bagian “wong mati ora obah, yen obah medheni bocah” yang berarti “orang mati tidak dapat bergerak lagi, kalau bergerak menakut-nakuti anak kecil”.

 

Ada pula mantra pemanggil jailangkung dari tradisi Kejawen, bunyinya begini:

"Hong...(...)...ilaheng,heh jagad alusan roh gentayangan,jaelangkung jaelengsat siro(...),ning kene ono(...),siro (...)angslupo,yen siro teko(...) wenehono tondo,(...),Hayo enggalo teko...hayo ndang angslupo(...)."

Entah bagian titik-titik diisi nama atau apa, tetapi makna dari kalimat-kalimat atau mungkin tembang tersebut adalah memanggil roh dari alamnya, dan meminta supaya roh tersebut merasuki seseorang yang telah disediakan raganya di dunia nyata.

Terakhir, mantra pemanggil jailangkung yang ada di film horor terbaru berjudul “Jailangkung”. Entah mantra ini benar-benar ada atau hanya dibuat semata-mata untuk film, namun mantra ini lebih seram dibandingkan dengan yang biasa kita dengar. Mantranya mirip dengan yang biasa digunakan, hanya berbeda di akhir. Jika biasanya di akhir berbunyi “datang tak dijemput, pulang tak diantar”, di film ini diganti menjadi “datang gendong, pulang bopong.” Siapapun yang bermain jailangkung harus benar-benar memulangkannya dengan cara dibopong.

 Mana yang paling seram? Kamu berani mencobanya? Hati-hati ya. Itu di belakang ada apa ya putih-putih?


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Chandra W.
"Sebaik-baik tulisan adalah yang dibaca sampai akhir."
0SHARES