Ritual Ojung, Tradisi Mendatangkan Hujan dengan Meneteskan Darah Ini Tragis Tapi Sarat Makna!

13 Desember 2017
|Ani Nur Cholifah
0SHARES

Saat ini bencana banjir mulai menimpa beberapa wilayah di tanah air. Cukup miris melihat para korban bencana banjir, mereka harus tinggal di pengungsian dan tak sedikit yang terkena penyakit. Belum lagi lahan pertanian warga yang hancur akibat dihantam oleh banjir mengakibatkan kerugian yang cukup besar. Namun hal seperti ini tidak akan kita temukan ketika musim kemarau tiba. Justru banyak warga dari setiap daerah yang sengaja melakukan ritual khusus untuk mendatangkan hujan.

Salah satu tradisi memanggil hujan yang ada di Indonesia ternyata cukup mengerikan, yakni ritual Ojung yang berasal dari Bondowoso, Jawa Timur. Ritual yang mengharuskan seseorang meneteskan darah demi mendatangkan hujan ini bukan hanya mengerikan tapi juga dikenal sadis. Nah untuk rangkuman lengkapnya langsung aja deh yuk scroll ke bawah!

Ritual Ojung yang lebih dikenal berasal dari kota Bondowoso ini ternyata juga dilakukan di beberapa daerah seperti di daerah Tengger, Gunung Semeru dan di Pulau Madura. Perbedaaan dari ritual pada setiap daerah terletak pada tanggal pelaksanaannya. Di Bondowoso dan di Madura biasanya dilaksanakan di penghujung musim kemarau. Lebih tepatnya lagi, di Bondowoso dilaksanakan sehari setelah acara Ghadisa, yaitu acara syukuran agar desa terjaga dari bencana. Lalu di Tengger, ritual Ojung dilakukan pada setiap hari raya Karo.

Nah, yang mengerikan dari Ritual Ojung adalah cara mereka melakukannya, dimana dua orang pria saling berhadapan dengan memegang rotan dan bertelanjang dada. Kemudian pria tersebut bergoyang mengeikuti alunan musik tapi keduanya saling mencambuk dengan rotan yang sudah mereka pegang. Setiap cambukan rotan tentu akan menimbulkan luka dan meneteskan darah. Kemudian setiap tetesan darah yang mengalir mengandung harapan agar bisa menurunkan hujan. Duh, kok ngeri sih!

Ritual Ojung yang mengerikan ini juga punya ketentuan tersendiri bagi pria yang ingin melakukannya. Dulu, pria yang boleh melakukan ritual ini hanya mereka yang sudah berusia 21-50 tahun. Kini Ritual Ojung ternyata mulai diikuti oleh anak laki-laki dengan usia yang masih tergolong muda yaitu 10-20 tahun. Para petarung juga tidak boleh mengenai area wajah atau kepala termasuk juga kaki. Dalam ritual ini juga ada seorang wasit yang mengawasi, seorang pendamping bagi petarung dan dua orang lagi yang bertugas untuk menandai luka pada tubuh petarung. Kemudian setelah pertarungan selesai, kedua pria tersebut tetap harus bergoyang sambil bersalaman sebagai tanda tidak ada rasa dendam setelah bertarung. 

Itu dia sekilas tentang Ritual Ojung yang mengubah tetesan darah menjadi harapan turunnya hujan. Meskipun terkesan berbahaya dan mengerikan, para warga yang melakukan ritual ini melakukannya tanpa paksaan. Setelah itu pun para warga yang bertarung masih rukun, sehingga rasa persaudaran di wilayah ini masih cukup kuat. Tapi semoga tanpa melakukan ritual ini bila musim kemarau tiba, Tuhan bisa langsung mengirimkan hujan agar tidak terjadi kemarau berkepanjangan, ya.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Ani Nur Cholifah
"Melawan zona nyaman!"
0SHARES