Ngeri! Ritual Kedewasaan di Belahan Dunia Ini Sadis, Bikin Nggak Pengen Dewasa!

18 Oktober 2017
|Ani Nur Cholifah
959SHARES

Tumbuh menjadi tua bukanlah sebuah pilihan karena itu merupakan perkembangan manusiawi yang terjadi pada manusia. Banyak orang di kota-kota besar yang merayakan peringatan hari kelahiran mereka dengan suka cita bersama keluarga, orang-orang tersayang dan juga kerabat dekat. Hari tersebut seakan-akan menjadi hari yang bahagia dan menyenangkan. Bahkan akun sosial media bisa dibanjiri dengan ucapan. Namun, hal ini berbeda dengan masyarakat yang berada di pelosok atau suku-suku terpencil dari berbagai belahan dunia.

Bila kita sering melihat tradisi perayaan sweet seventeen menjadi suatu bentuk ritual kedewasaan yang menandakan seorang remaja akan beralih menjadi orang dewasa, itu mungkin hal yang sangat wajar. Namun bagaimana dengan tradisi kedewasaan yang menyiksa seseorang? Bukankah itu menjadi hal yang sangat mengerikan? Berikut ini rangkuman terkait ritual kedewasaan dari berbagai belahan dunia yang bikin kamu bersyukur nggak perlu merasakannya!

1. Suku Vanuatu di kawasan selatan Samudera Pasifik

Suku Vanuatu merupakan salah satu suku terpencil yang jauh dari modernisasi, bahkan suku ini menganggap bahwa pesawat adalah Tuhan mereka. Suku ini juga menjalankan sebuah ritual kedewasaan yang cukup menyeramkan karena bisa merenggut nyawa seseorang. Para pria yang dianggap sudah berusia dewasa baru akan bisa dikatakan benar-benar dewasa bila ia berhasil melompat dari ketinggian sekitar 30 meter dengan kaki yang hanya diikat tali tanpa pengaman lainnya. Kaki pria ini harus sedikit mengenai tanah. Bila tidak, ia tidak dianggap dewasa. Dan bila berlebihan, kepala pria tersebut dapat hancur dan membuatnya meninggal. 

2. Suku Satere Mawe di pedalaman hutan Amazon

Terbilang cukup unik namun berbahaya, ritual kedewasaan pada suku ini mengharuskan pria pergi ke hutan dengan mencari semut peluru yang konon merupakan semut paling mematikan di dunia. Setelah mereka mendapatkannya, semut tersebut dimasukan ke dalam wadah anyaman bambu. Lalu para pria ini akan memasukkan tangannya ke dalam wadah tersebut dan membiarkan semut-semut itu menggigitnya. Pria tersebut dilarang untuk menjerit kesakitan dan harus menahan rasa sakit itu sekitar 10 menit sambil menari.

3. Suku Matausa di Papua Nugini

Papua yang terkenal dengan ragam suku budaya dari pedalaman ini punya ritual kedewasaan yang cukup mengerikan bagi seorang pria. Untuk menjadi seorang pria dewasa, mereka harus memasukkan semacam tongkat ke dalam mulut menyentuh tenggorokan kemudian juga hidung agar darah dari mulut dan hidung keluar pada diri mereka. Belum selesai, para pria ini juga diharuskan menusukan benda yang tajam seperti anak panah pada lidah mereka agar darah pada lidah pun ikut keluar. Hal ini terjadi karena para pria terlahir dari rahim seorang wanita dan darah wanita ini dianggap tidak murni. Oleh karena itu, untuk memurnikan diri mereka harus melakukan ritual ini. Para pria yang telah muntah dan mengeluarkan darah yang cukup banyak mereka baru akan dianggap sebagai pria dewasa.

4. Suku Sepik di Papua Nugini

Kembali ke Papua Nugini, ritual ini dilakukan oleh suku Sepik yang memercayai bahwa buaya merupakan hewan suci sehingga masyarakat suku ini mengaku punya hubungan spiritual dengan buaya. Oleh karena itu, bagi pria yang ingin menjadi dewasa harus melakukan ritual menyayat kulit mereka dengan pisau agar terlihat seperti kulit buaya. Proses ini biasanya dilakukan oleh para ketua suku. Bagi pria yang tak berani melakukan ini, mereka bukan hanya dianggap belum dewasa tapi juga lemah dan tak memiliki hak untuk menikah.

5. Suku Mandan

Suku asli Amerika ini terdengar seperti sedang melakukan atraksi debus. Mereka melakukan ritual yang cukup sadis untuk menunjukkan bahwa seorang pria sudah dewasa atau belum dengan cara berpuasa selama 3 hari. Kemudian pria tersebut akan ditusuk dengan kayu besar pada bagian otot dada dan bahu. Lalu tongkat tersebut dikaitkan ke tali dan badan pria itu digantungkan untuk beberapa saat hingga mereka pingsan. Mereka harus menahan rasa sakit ini dan tak boleh berteriak. Ngeri banget deh!

Beruntunglah kamu yang sudah tumbuh dewasa tanpa harus melewati ritual kedewasaan menyakitkan seperti di atas. Kedewasaan seseorang nggak selamanya bisa dinilai dari usia, kekuatan atau kemapanan tapi bagaimana orang tersebut bersikap secara bijak dengan pemikiran yang dewasa. Benar nggak?


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Ani Nur Cholifah
"Melawan zona nyaman!"
959SHARES