Miris, Tradisi Melahirkan di Semak Belukar dari Pelosok Suku Dayak ini Bikin Ngilu!

24 Oktober 2017
|Ani Nur Cholifah
0SHARES

Kalimantan merupakan salah satu gugusan pulau di Indonesia yang memiliki keberagaman suku. Salah satunya warga Kabupaten Berau, Suku Dayak di Kalimantan Timur. Suku ini memiliki keunikan tersendiri dalam kehidupan sehari-harinya. Meskipun zaman sudah modern, warga Berau masih jauh dari kata modernisasi dan masih menjalankan berbagai tradisi mereka. Salah satunya adalah tradisi melahirkan di semak belukar, padahal di sana sudah terdapat klinik dan juga bidan pada puskesmas.

Terkesan cukup tragis, namun warga di sana masih menganut kepercayaan bahwa melahirkan di semak belukar adalah sebuah tradisi adat setempat. Nah, kenapa harus seperti itu? Terkesan tidak manusiawi dan cukup mengenaskan. Berikut ini ulasannya!

Melahirkan bagi seorang wanita perlu perjuangan yang mempertaruhkan hidup dan matinya. Oleh karena itu, perjuangan tersebut perlu bantuan tim medis. Namun, berbeda dengan para wanita di Berau, tradisi melahirkan mereka justru dilakukan secara mandiri di semak belukar. Zaman dulu melahirkan memang hanya dibantu oleh bidan atau dukun beranak tapi tempatnya masih layak bukan seperti tradisi warga Berau.

Dilansir dari Health.detik.com (03/14) seorang mantri kesehatan setempat bernama Petrus mengatakan “Ada pantangan tertentu terkait tradisi melahirkan yang dianut, sehingga mereka melahirkan di semak-semak. Setelah lahir, baru dibawa ke puskesmas.” Hal seperti ini juga menjadi tantangan bagi para petugas kesehatan setempat.

Letak geografis pemukiman warga Berau memang masih sulit dijangkau begitu juga dengan medannya yang tak bisa dilalui dengan kendaraan biasa. Menuju kawasan pelosok desa Berau juga melintasi bagian Sungai Lesan dan perlu menggunakan jasa kapal yang dikenakan biaya Rp 100.000/ mobil. Menurut tim kesehatan setempat, mereka harus menghabiskan waktu sekitar 4 jam untuk menempuh perjalanan dari ibukota Kabupaten Berau.

Tantangan ini bukan berarti petugas kesehatan tak ingin membantu. Namun tradisi melahirkan di semak belukar belum bisa dihilangkan oleh warga setempat meskipun mereka sudah mengetahui ada petugas kesehatan yang dapat membantu proses persalinan mereka. Pihak kesehatan juga selalu melakukan kunjungan dan suplai obat untuk warga Berau setiap sebulan sekali.

Nah, menjawab pertanyaan kenapa warga setempat masih mempertahankan tradisi melahirkan di semak belukar meskipun petugas kesehatan sudah siap membantu? Menurut Simon Padan, seorang kepala Kampung Long Pai, warga dari sisi lain Kabupaten Berau mengatakan bahwa kegiatan tersebut masih dipertahankan karena Suku Dayak mempercayai semak belukar yang berada di hutan setempat sudah menyediakan beragam kebutuhan manusia termasuk untuk pengobatan.

Bagi wanita proses persalinan mereka dilakukan secara mandiri tanpa bantuan medis kemudian mereka diobati dengan getah rotan dari jenis tertentu. Mungkin para wanita di daerah ini memang wanita perkasa dan ada juga yang mempercayai karena adanya bantuan dan kekuatan gaib saat proses persalinan. Setelah berhasil melahirkan, barulah bayi akan dibawa ke puskesmas.

Gimana menurut kamu tradisi ini? Itulah alasan kenapa masih ada tradisi melahirkan yang terkesan mengerikan tersebut. Tuhan memang sudah menciptakan isi bumi ini untuk memenuhi kebutuhan makhluknya. Tapi nggak ada salahnya kan kalau kita memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk mempermudah kehidupan? Apalagi kalau kemajuan teknologi itu terbukti dapat lebih menjamin keberlangsungan hidup seseorang. Bukankah akal dan pikiran yang berperan dalam berbagai kemajuan teknologi itu juga merupakan karunia Tuhan yang harus dimanfaatkan?


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Ani Nur Cholifah
"Melawan zona nyaman!"
0SHARES