Kisah Mistis di Semeru yang Dialami Pendaki Ini Bikin Kamu Pengen Ikutan Mendaki (Part III)

26 September 2017
|Ani Nur Cholifah
132SHARES

Menyambung kisah sebelumnya, perjalan mendaki gunung Semeru rasanya menjadi perjalan yang selalu memiliki sensasi tersendiri bagi setiap pendaki. Terbukti melalui rombongan Anjani bersama tim, meskipun beberapa kali sempat dikejutkan melihat hantu dan kejadian mistis lainnya, mereka sangat menikmati setiap langkah perjalanan.

Namun, kisah ini masih berlanjut hingga mereka sampai ke rumah dan mengendong beragam kenangan yang tak akan pernah mereka lupakan. Suka dan duka selama mendaki pun kelak akan menjadi kisah yang mereka rindukan karena menikmati keindahan alam tak akan pernah ada habisnya. Bukti bahwa Tuhan itu Maha Asyik. Nah, apa kisah seru dan mistis yang selanjutnya, kira-kira apakah mereka sampai di puncak Mahameru? Yuk simak kisahnya di bawah ini!

 

Setelah melewati kisah mistis di hutan Kalimati dan beristirahat, Anjani dan rombongan mulai mendaki menuju puncak Mahameru pukul 11.30 malam. Sebelum mulai menjejaki track puncak Mahameru, Anjani bersama rombongan berdoa terlebih dahulu.

Dinginnya suasana malam kawsan Semeru rasanya menembus jaket setiap pendaki. Nafas pun terengah-engah dan saat berbicara terlihat kepulan kabut menyembur dari mulut. Tapi semangat untuk mencapai puncak tak surut, beberapa jam Anjani bersama rombongan sampai di jalur Arcopodo. Di sini terasa aura mistis sangat kental ketika mereka berada di dekat arca kembar. Konon setiap pendaki bisa melihat arca ini dengan bentuk yang berbeda. Hal yang tak kalah memiliki aura mistis sangat kuat adalah deretan prasasti sebagai peringatan para pendaki yang meninggal di kawasan gunung Semeru.

Melupakan suasana mistis Anjani bersama tim terus melanjutkan perjalanan meskipun rasanya kaki mulai berat untuk melangkah. Langit perlahan mulai terang karena waktu hampir menunjukan waktu matahari terbit, namun sebagian tim masih berada di belakang. Ternyata Lia bersama Danang turun menuju tenda karena tak sanggup, kondisi Lia memang kurang fit sehingga Danang sebagai kekasih tak menganjurkan Lia untuk memaksakan menuju puncak. Terlihat dari kejauhan Taufik bersama dengan Rina berada beberapa meter dari Anjani dan beberapa teman lainnya. Mereka pun melangkah bersama medaki jalur berpasir.

Jalur menuju puncak cukup menantang terutama pasir dan runtuhan kerikil serta bebatuan membuat mereka harus ekstra berhati-hati tak boleh lengah sedikit pun. Sekilas ternyata Anjani kembali dikejutkan saat ia bersandar di tebing untuk beristirahat ditemani dengan Agus, Anjani melihat bayangan hitam seakan-akan berlari dengan mudah melewati jalur pasir tersebut.

Jalur yang panjang ini ternyata memang sangat menguras tenaga dan memcing emosi. Beruntunglah Anjani memiliki tim yang solid. Meskipun ada sedikit insiden saat mereka tengah hampir mencapai puncak dengan nafas yang mulai sesak, tabung oksigen yang berada di kantong Agus terjatuh setelah sempat mereka hirup. Tepatnya sekitar pukul 7.30 pagi, mereka sampai di puncak dengan penuh rasa syukur. Farhan dan Sulung yang sudah sampai lebih dulu menghampiri mereka. Entah kenapa suasana menjadi haru dan mereka pun mengabadikan momen tersebut. Anjani bersama tim kembali turun menuju tenda. Ada yang ngerasain nangis bareng di puncak? Rindu nggak?

Singkat cerita sesampainya di tenda sekitar pukul 10.00 pagi, setelah menyantap makanan mereka langsung mengemas barang kembali untuk pulang maklum sudah harus kembali ke habitat yakni kerja dan kuliah bagi sebagian tim. Jalur pulang mereka menyewa porter untuk membawa sebagian barang karena Maia merasa sudah tak sanggup membawa carriernya sendiri meskipun para teman prianya mau membawakan barang di tambah kondisi Lia yang sepertinya mulai melemah.

Bersama porter kami melewati jalur yang tak biasa di lalui oleh pendaki karena ini adalah jalur warga. Saat melewati jalur ini waktu sudah mulai petang, jalurnya ternyata tak ada bonus sama sekali dan lebih berat dibandingkan jalur pendakian awal. Farhan yang berada di barisan paling belakang juga dimulai digoda dengan makhluk halus mendengar suara tawa yang terdengar seperti kuntilanak. Namun semua itu Fahrul ceritakan setelah kami sampai di rumah sang porter sambil menikmati hidangan berupa cucur, onde-onde bakar karena sudah dingin jadi dihangatkan kembali dengan cara di bakar. Seru deh!

 

Kisah-kisah yang menghantui selama perjalan mereka ini telah berubah menjadi kisah dan kenangan tersendiri bagi Anjani bersama tim. Tak ada rasa kapok untuk mendaki karena banyak pelajaran dari alam yang menguji seseorang. Melatih mental, mengontrol emosi, rasa kepedulian terhadap sesama dan rasa syukur menikmati keindahan alam sekaligus bercengkrama langsung dengan alam bebas. Hal ini lah yang jarang sekali ditemukan pada kehidupan manusia yang disibukan dengan hiruk pikuk pekerjaan. Sayangnya, kini mulai banyak pendaki yang datang hanya untuk bisa menaklukan puncak dan tak menjaga kebersihan lingkungan. Hal-hal ini harus dihindari. Mau mendaki? Sila kan tapi tetap jaga keindahan alamnya dan jangan buang sampah sembarangan. Itu baru pendaki keren! 


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Ani Nur Cholifah
"Melawan zona nyaman!"
132SHARES