Jauh dari Kata Kriminalitas, Tradisi Tato Suku Tanah Air Bikin Ngeri Sekaligus Takjub

26 September 2017
|Ani Nur Cholifah
2SHARES

Tato sering kali mencerminkan sikap seseorang yang sangar, kriminal dan slengean. Namun nyatanya tato juga menjadi salah satu tradisi bagi beberapa suku di Indonesia. Lalu apakah para suku yang bertato ini merupakan gabungan para kriminalitas? Rasanya itu menjadi sebuah stereotipe yang seharusnya mulai dihilangkan karena penampilan seseorang tak selalu mencerminkan sikap dan perilakunya.

Hal ini terbukti dengan beberapa suku asli Indonesia yang masih mempertahankan tradisi mentato pada tubuh mereka. Nah, suku apa saja dan apa makna dari tradisi mentato? Simak ulasannya di bawah ini.

Pertama ada Suku Mentawai yang berada di kawasan Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Tato yang diukir langsung di badan Suku Mentawai ini nggak sembarangan. Bahkan ada motif-motif khusus seperti hewan, busur, rotan, bebatuan ataupun tumbuhan. Orang yang badannya ditato di sini biasa disebut dengan “Titi”. Lalu para warga yang jago membuat tato disebut dengan Sipaniti atau Sipatiti. Tato bagi Suku Mentawai merupakan simbol keindahan sekaligus bentuk keseimbangan alam.

Uniknya seni rajah atau mentato pada Suku Mentawai ini menjadi salah satu seni rajah tertua dibandingkan dengan tato Mesir. Namun, seiring perkembangan zaman dan modernisasi tradisi ini mulai berkurang tapi kamu yang mau menyaksikan secara langsung keindahan tato dari Suku Mentawai kamu bisa datang langsung ke Desa Madabok di kawasan Sungai Siberut Selatan.

Selanjutnya berasal dari Suku Moi yang berada di Sorong, Papua Barat. Tradisi mentato di suku ini mulai sulit ditemui karena sudah mulai ditinggalkan oleh para kaum muda karena terkesan ketinggalan zaman seiring dengan masuknya modernisasi, dan juga kurangnya dukungan untuk melestarikan tradisi ini. Nah, berbeda dengan suku sebelumnya, Suku Moi membuat motif tato terkesan lebih sederhana karena berbentuk garis-garis, lingkaran atau bentuk geometris lainnya. Kemudian bentuk tersebut disambungkan dengan menarik garis lurus atau titik-titik. 

Pembuatan tato suku Moi juga sangat tradisional. Biasanya menggunakan tulang ikan atau duri pohon sagu, kemudian dicelupkan ke dalam olahan dari hasil pembakaran kayu bakar yang telah dicampur dengan loum atau getah pohon langsat. Selanjutnya ditusukan ke badan hingga membentuk motif tato yang telah berlaku di Suku Moi. Area tubuh yang di tato pada Suku Moi biasanya di bagian dada, punggung, pipi, betis juga kelopak mata.

Terakhir adalah Suku Dayak namun hanya ada beberapa Suku Dayak yang masih mempertahankan tradisi rajah tubuh yakni Suku Dayak Iban, Daratan, Tanjung, Kayan dan Kenyah. Tato dalam suku Dayak bukan ajang untuk pamer namun tato bagi suku ini sebagai kesenian, identitas kelompok dan juga berkaitan dengan peribadatan. Mitosnya, tato juga dipercaya bisa menangkal bahaya dan pelindung untuk keselamatan diri seseorang. Kemudian tato juga memiliki simbol yang berbeda-beda, baik pria maupun wanita. Bagi pria tato menjadi tanda dirinya memiliki sesuatu yang mengagumkan dan bagi wanita yang di tato tandanya ia sudah siap untuk dipersunting oleh seorang pria sekaligus sarana kecantikan.

Cara membuat tato oleh Suku Dayak ini juga cukup mengerikan biasanya menggunakan duri dari pohon jeruk. Namun karena duri tersebut mulai sulit ditemukan diganti dengan jarum. Kemudian jarum itu mencacah bagian kuliat dan dipukul dengan kayu ulin hingga mengeluarkan darah. Butuh waktu hingga dua tahun untuk membuat tato di suku ini. Sebelum membuat tato biasanya Suku Dayak mengadakan ritual terlebih dulu. Riual tersebut dinamakan upacara tiwah.

Nah, tato ini merupakan sebuah tradisi dari keberagaam budaya Indonesia. meskipun sering kali orang yang bertato dianggap orang jahat. Jadi, jangan pernah beranggapan seperti ini, karena bisa saja orang yang bertato tersebut adalah keturunan dari para suku-suku di atas yang ingin mempertahankan tradisinya. 


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Ani Nur Cholifah
"Melawan zona nyaman!"
2SHARES