Terlupakan di Negeri Sendiri, 7 Film Indonesia Ini Justru Terkenal di Luar Negeri

28 Oktober 2017
|Reza Pratama
Film
0SHARES

Tak bisa dipungkiri, sampai saat ini film Indonesia masih dipandang sebelah mata di negeri sendiri. Ironi memang di saat film Indonesia mulai memperbaiki diri, film Hollywood justru selalu menjadi yang dinanti-nanti. Jika berbicara soal teknologi yang digunakan dalam pembuatan sebuah film, perfilman Indonesia memang masih di bawah kualitas film Hollywood. Namun bukan berarti sineas Indonesia tidak bisa menciptakan sebuah film dengan cerita yang bermutu. Buktinya ada beberapa film Indonesia  yang justru diapresiasi di berbagai negara, namun tidak di negara sendiri. Berikut beberapa daftar film Indonesia yang lebih terkenal di luar negeri dibanding di bumi pertiwi.

1. After The Curfew (Lewat Djam Malam), 1954

Film ini disutradarai oleh seorang seniman legendaris Indonesia, Ismail Marzuki dan diproduksi pada tahun 1954. Pernah ada yang dengar filmnya? Film ini bercerita tentang seorang tentara bernama Iskandar yang memilih berhenti dari keanggotaan dan lebih memilih untuk menjadi rakyat biasa. Iskandar merasa kecewa dengan negara yang selama ini ia perjuangkan, dan masih banyak masyarakatnya yang memiliki moral bobrok. Sangat disayangkan film Indonesia ini justru direstorasi oleh National Museum Of Singapore dan World Cinema Foundation. Tak hanya itu, film ini juga diputar di Cannes Film Festival pada tahun 2012.

2. The Warrior (Jaka Sembung), 1981

Memiliki setting zaman penjajahan Belanda. Film yang bintangi Barry Prima ini bercerita tentang seorang pendekar bernama Parmin atau yang lebih dikenal dengan sebutan Jaka Sembung yang berani menolak pemerintahan Belanda. Karena keberaniannya ini, Jaka Sembung menjadi orang yang diburu oleh pihak Belanda, bahkan kolonial Belanda memasang sayembara untuk bisa menangkapnya. Film yang diproduksi pada tahun 1981 ini dirlis untuk pertama kalinya di Mondo Macabro pada tahun 2002 dalam seri film fantasi Indonesia. 

3. Tjoet Nya’ Dhien, 1988

Film yang mengisahkan perjuangan seorang pahlawan wanita asal Aceh ini diperankan oleh aktris senior, Christin Hakim. Di film ini kita bisa tahu betapa beraninya Cut Nya' Dhien dalam memimpin para pejuang tanah air untuk melawan pemerintahan Belanda. Film yang diproduksi pada tahun 1988 ini merupakan film Indonesia pertama yang diputar di Cannes Film Festival dan berhasil meraih penghargaan Best International Film.

4. Mystics in Bali (Leak), 1981

Film dengan genre horor ini bercerita tentang seorang penulis buku asal Amerika Serikat bernama Cathy Kean yang sudah fasih berbahasa Indonesia. Ia sengaja pergi ke Bali untuk mempelajari tentang ilmu gaib. Hal itu ia lakukan untuk keperluan buku yang akan ia tulis. Suatu ketika, Cathy bertemu seorang wanita di tengah hutan yang merupakan salah satu pengikut sekte Leak. Untuk mempelajari ilmu gaib, Cathy pun setuju menjadi murid sekte Leak dan mengikuti beberapa ritual aneh. Tidak populer di Indonesia, film ini justru dibahas oleh Total Film (Inggris), serta di Slate TV dalam program Cinemassacre’s Monster Madness (2010). Tak hanya itu, film ini pun disetarakan dengan film Shaw Brothers. 

5. The Act of Killing (Jagal), 2012

Berbeda dengan film sebelumnya, Jagal merupakan film dokumenter yang berisi wawancara dengan salah seorang pelaku pembantaian PKI, Anwar Congo. Di film ini Anwar diminta kembali mengingat tragedi serta peristiwa yang terjadi pada saat pembantaian. Film ini pun masuk nominasi Oscar dalam kategori Film Dokumenter Terbaik. Tak hanya itu, film Jagal juga mendapatkan penghargaan BAFTA (UK) dalam kategori Dokumenter Terbaik. Dan masih banyak lagi berbagai macam penghargaan lainnya yang bisa kamu lihat sendiri di situs IMDb. 

6. Marlina the Murderer in Four Acts (Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak), 2017

Film yang rencananya akan tayang di Indonesia pada November tahun ini bercerita tentang seorang wanita asal Sumba bernama Marlina (Marsha Timothy) yang memenggal kepala seorang pria yang berusaha merampok isi rumahnya. Lalu Marlina membawa kepala perampok ini ke kantor polisi dengan menggunakan kuda. Pada bulan Mei lalu, film ini berhasil diputar dalam Festival Film Cannes, lebih tepatnya di Quinzane des realisateurs (Directors' Fortnight). Tak hanya itu, film ini pun berhasil diputar di Perancis dan Italia. Mungkin buat kamu yang penasaran sama filmnya, bisa nonton November nanti di bioskop. 

7. Turah, 2017

Film yang baru-baru ini masuk ke dalam nominasi Oscar kategori Film Bahasa Asing ini menceritakan tentang problematika kehidupan warga Kampung Tirang, Tegal. Para warganya selalu mengharapkan kemurahan hati para dermawan untuk bisa menutupi kebutuhan mereka sehari-hari. Walaupun sudah tayang di Indonesia, masih banyak yang tidak mengetahui film besutan Wicaksono Wismu Legowo ini. Namanya baru mulai terangkat oleh media setelah berhasil masuk ke dalam nominasi Oscar

Mungkin kita semua bertanya-tanya, kenapa film-film berkualitas di atas tidak mendapat apresiasi yang baik di negeri sendiri? Salah satunya adalah karena kurangnya minat orang Indonesia untuk menonton film karya anak bangsa. Bahkan di Bioskop pun lebih banyak film Hollywood yang diputar dibandingkan dengan film Indonesia sendiri. Dengan mengapresasi film buatan negeri sendiri, bukan sesuatu yang mustahil jika ke depannya makin banyak film Indonesia yang bisa menyamai kualitas film Hollywood. Jadi, sering-sering nonton film Indonesia ya, guys!


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Reza Pratama
"Hidup seperti Larry!"
0SHARES