Film 'Jihad Selfie' Buatan Noor Huda Ismail Diputar di Berbagai Negara

11 Juni 2017
|Chandra W.
0SHARES

Jihad Selfie adalah film yang dibuat oleh Noor Huda Ismail, seorang aktivis perdamaian sekaligus kandidat doktoral Monash University. Film dokumenter ini bercerita tentang orang-orang Indonesia yang ingin masuk ISIS. Sejak dirilis pada 28 Juli 2016 lalu, film ini telah ditayangkan di beberapa negara selain Indonesia, di antaranya Malaysia, Inggris, dan Australia.

Berawal dari pertemuan Huda dengan Akbar, seorang siswa sekolah menengah asal Indonesia di Turki yang mengaku ingin bergabung dengan ISIS karena melihat postingan temannya di Facebook yang sudah lebih dahulu bergabung. Dalam selfie-nya, teman Akbar ini memegang senjata jenis AK-47 dan mengenakan headband bertuliskan lafaz dalam bahasa Arab. Mendengar ini, Huda shock dan memberikan nomor teleponnya kepada Akbar, untuk bercerita apa saja kalau memang dibutuhkan. Pada akhirnya Akbar memutuskan untuk tidak mengikuti jejak temannya yang kini telah tewas di Suriah. Akbar yang saat itu baru berusia 16 tahun memutuskan untuk kembali ke Aceh setelah studinya di Turki selesai.

Film ini menjadi pengingat bagi siapa saja terutama remaja dan orang tua di Indonesia pada khususnya dan di seluruh dunia pada umumnya kalau rekrutmen ISIS dan mungkin juga organisasi teror lainnya memang benar-benar nyata dan telah menyusup melalui media sosial, ranah yang sangat akrab dengan kehidupan sehari-hari remaja di Indonesia. Sampai saat ini ternyata sudah ada sekitar 500 orang Indonesia yang bergabung dengan ISIS dan baru seratusan yang berhasil kembali ke Indonesia.

Bukan hanya menjadi pelajaran bagi Indonesia, negara lain pun belajar dari film Jihad Selfie. Ketika film ini diputar di Melbourne, kota yang sama dengan tempat Huda menempuh pendidikan doktoralnya, penayangannya dihadiri oleh puluhan aktivis perdamaian dari berbagai negara. Seorang aktivis dari Afghanistan bahkan terkejut akan fakta yang ditayangkan dalam Jihad Selfie karena menurut ia, Indonesia selama ini adalah model negara dengan penduduk mayoritas muslim yang patut dicontoh. Begitu juga aktivis dari Pakistan. Ia heran karena tidak mengira anak secerdas Akbar dapat tergoda untuk bergabung ke dalam ISIS.

Melalui film ini, Huda juga mengajak kita untuk tidak menghakimi siapa pun yang terindikasi atau bahkan sudah pernah bergabung dalam organisasi radikal. Ia pun kini menjadi Terorrist Rehabilitation Coach di Institute for International Peace Building miliknya. Menurut Huda, semakin seseorang dikucilkan, maka akan semakin besar pula kemungkinannya menjadi radikal. Makanya, daripada mengucilkan, lebih baik merangkul.

Media sosial memang menyenangkan. Tapi harus tetap hati-hati menggunakannya, biar nggak terjerumus ke hal-hal yang bisa membahayakan diri sendiri. Perekrutan ISIS, misalnya. Dan jangan lupa untuk selalu berbagi cerita ke orang-orang terdekat terutama keluarga sebelum mengambil keputusan penting.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Chandra W.
"Sebaik-baik tulisan adalah yang dibaca sampai akhir."
0SHARES