Film-film Horor Ini Mengandung Perumpamaan Dari Situasi Sosial Lho!

Sumber Gambar

Film-film horor biasanya mengangkat kisah-kisah supernatural yang berlaku di suatu masyarakat tertentu yang tergabung dalam kumpulan kisah yang sering kita dengar dengan istilah “urban legend”. Misalnya, di Indonesia sendiri, kisah-kisah tradisional yang berkenaan dengan mahkluk-mahkluk gaib, dijadikan sebagai referensi untuk film-film horor seperti Kuntilanak (2006), Jelangkung (2001), Hantu Jeruk Purut (2006), Pocong (2006), dan lain-lain.

Hal itu pun berlaku untuk film-film horor di luar negeri, seperti misalnya kita sudah sering sekali disuguhi dengan film-film vampir dari China yang dapat dihentikan kalau kita menempelkan jimat di dahinya, kisah drakula atau nosferatu yang terkenal di belahan dunia barat, dan masih banyak lagi. Hal ini seakan-akan menunjukkan bahwa setiap negara memiliki mitos masing-masing yang berkaitan dengan mahkluk-mahkluk supernatural sehingga film-film horor yang berkembang dari setiap daerah pun menjadi bervariasi.

Masalahnya adalah habisnya kisah-kisah legenda untuk dieksploitasi. Makanya, di negeri kita sendiri akhirnya film horor pun seringkali mengubah haluan gagasan mengenai mitos yang berlaku, seperti misalnya Pocong vs Kuntilanak (2008), Suster Keramas (2009), dan lain-lain. Peredaran film-film semacam itu seakan-akan menunjukkan bahwa para sineas horor sudah kebingungan untuk mengambil referensi karena mitos yang bisa digarap sudah nyaris habis. Makanya, akhirnya “pocong” pun sampai harus diadu dengan “kuntilanak”.

Nah, untuk mengatasi keterbatasan referensi untuk pengangkatan kisah horor dalam sebuah film, beberapa sineas pun berinisiatif untuk menggunakan situasi sosial dalam realita sebagai acuan untuk menuturkan kisah horor dalam film. Para sineas kreatif ini menggunakan bumbu-bumbu supernatural sebagai metafor dari konflik-konflik sosial yang seringkali dialami oleh individu dalam suatu lingkungan. Di bawah ini kamu bisa lihat beberapa film horor yang mengadaptasi situasi nyata yang di-“horor”-kan melalui kisah dalam film. Langsung aja yuk, kita kepoin!

1. It Follows (2014) — perumpamaan dari ketakutan akan tuntutan untuk tumbuh dewasa

www.youtube.com

Hantu yang dipanggil “it” dalam film ini bisa berubah wujud menjadi sosok wanita yang menjadi korban pelecehan seksual, ayah dari tokoh utama, dan juga sosok teman terdekat Jay (Maika Monroe). Jay mulai dihantui oleh sosok gaib ini semenjak dirinya berhubungan seks dengan pacarnya yang bernama Hugh (Jake Weary), dan satu-satunya cara untuk mengusir mahkluk ini adalah melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang berbeda. Jika Jay gagal berhubungan seks sebelum hantu itu membunuh dirinya, hantu itu akan kembali pada Hugh dan begitu lah seterusnya.

Kisah dalam film ini mengumpamakan bahwa seorang remaja seperti Jay pada akhirnya akan mencoba mengambil resiko untuk bermain-main dengan masa puber, yakni dengan mencoba melakukan hubungan seks. Saat itulah dia akhirnya menerima kenyataan bahwa dirinya dihantui oleh tuntutan untuk menjadi dewasa, yakni dengan cara menghadapi kenyataan-kenyataan yang mungkin tidak pernah dirasakan oleh remaja saat mereka masih kecil. Hal itu disimbolkan oleh wujud-wujud hantu yang merepresentasikan pemerkosaan, permasalahan dengan orang tua, pengkhianatan, dan lain-lain.

Hubungan seks yang dijadikan sebagai jalan keluar dari permasalahan pun seakan-akan menunjukkan bahwa hubungan seks pun bisa jadi merupakan konsekuensi atas usia dewasa, konsekuensi yang didapatkan ketika tokoh Jay mau membuka dirinya untuk hubungan intim bersama pacarnya. Konsekuensi yang menyebabkan anak muda harus mulai membuka dirinya terhadap keberadaan orang lain sebagai anugerah sekaligus masalah. Selain itu, di awal film tokoh Hugh mengatakan bahwa dirinya lebih memilih menjadi anak kecil yang belum harus menghadapi permasalahan-permasalahan yang membombardir orang dewasa. Dialog minim ini memperkuat gagasan bahwa sesuatu (“it”) yang selalu menghantui dan mengikuti (“follow”) setiap orang adalah “waktu”.

2. The Witch (2015) — perumpamaan dari misogyny

www.youtube.com

Film horor ini menceritakan tentang sebuah keluarga yang mengasingkan diri dari masyarakat karena kepercayaan ekstrem yang dianut keluarga tersebut pada era 1600-an. Kepercayaan Kristiani ekstrem ini dikaitkan dalam film dengan perilaku misogyny, yakni kebencian laki-laki terhadap perempuan karena perempuan dianggap sebagai biang dari dosa, kekacauan, dan kebiadaban. Representasi misogyny ini juga dapat kita lihat pada sosok ibu di film Carrie (1976).

Thomasin (Anya Taylor-Joy), sebagai anak perempuan dari keluarga dalam film The Witch, cenderung selalu disalahkan oleh ayah ibunya bila terjadi kasus-kasus supernatural yang melibatkan anak-anaknya yang lain. Misogyny memang hidup dari cerita rakyat di masa lampau yang cenderung menuduh perempuan sebagai biang dari kejahatan yang direpresentasikan melalui sosok penyihir wanita.

Kerpecayaan ekstrem yang dianut keluarga tersebut akhirnya menjadi tekanan bagi Thomasin, dan akhirnya hal itu pula yang memicu Thomasin untuk melakukan hal yang tidak terduga.

3. Get Out (2017) — perumpamaan dari sikap rasis.

www.youtube.com

Film horor ini erat kaitannya dengan sikap rasis antara kulit hitam dan kulit putih. Film ini mengisahkan tentang seorang pria kulit hitam bernama Chris Washington (Daniel Kaluuya) yang mengunjungi kediaman kekasih kulit putihnya. Ternyata, di lingkungan keluarga kekasihnya itu, para kulit hitam memiliki kelakuan yang cenderung aneh dan terbelakang.

Film yang langsung mendapat banyak kritik positif setelah perilisannya ini memang menampung banyak dialog yang erat kaitannya dengan persoalan-persoalan kulit hitam dan kulit putih, dan pada akhirnya “horor” yang dimaksud dalam film ini adalah situasi yang tidak menguntungkan bagi kulit hitam, situasi yang dibangun oleh para kulit putih yang bahkan bukan penganut Neo-Nazi, melainkan hanya kulit putih liberal pada umumnya di Amerika Serikat.

4. Train to Busan (2016) — perumpamaan dari xenophobia

www.youtube.com

Film yang mengisahkan tentang serangan zombie di kereta yang sedang dalam perjalanan menuju kota Busan ini sarat dengan wacana xenophobia, yakni ketakutan irasional terhadap orang asing. Sebelum munculnya zombie dalam film ini pun sudah digambarkan betapa para individu menganggap individu di luar dirinya itu sebagai biang dari konflik, hal itu digambarkan saat tokoh utama dalam film berjumpa dengan pria yang menjaga toilet untuk istrinya.

Pada saat itu, keduanya menunjukkan sikap permusuhan, namun pada akhirnya yang benar-benar menjadi lawan adalah sosok birokrat yang justru sudah tidak asing lagi keberadaannya dalam kehidupan masyarakat. Sosok birokrat itulah yang menjadi lawan terakhir dari tokoh utama saat mereka berusaha menyelamatkan diri dari wabah zombie. Situasi yang membagi penumpang menjadi dua kelompok pun merupakan gejala dari xenophobia yang memecah-mecah suatu kelompok menjadi in group dan out group.

5. The Babadook (2014) — perumpamaan dari dukacita akibat kepergian seseorang

www.youtube.com

Dalam film ini, Amelia (Essie Davis) selaku tokoh utama adalah seorang janda yang harus merawat anaknya yang bernama Sam (Noah Wiseman) sebagai single-parent. Oskar (Benjamin Winspear), suami Amelia, telah meninggal dunia akibat kecelakaan mobil saat dirinya sedang mengantar Amelia.

Dukacita inilah yang dijadikan sebagai sesuatu yang menghantui Amelia dan Sam dalam wujud hantu yang berasal dari buku cerita Sam. Uniknya, hantu ini tidak akan pernah berhenti menyiksa korbannya selama korbannya itu menolak keberadaan hantu tersebut. Pada saat Amelia bermimpi mengenai Oskar, hantu ini pun lantas merasuki tubuh Amelia dan nyaris membunuh Sam. Peristiwa dalam film itu menunjukkan bahwa rasa dukacita dapat mengubah perspektif seseorang terhadap kenyataan yang melingkupinya.

Pada akhirnya, hantu ini memang tidak bisa dikalahkan dengan cara menolak keberadaannya, melainkan dengan cara berkompromi. Mungkin inilah yang menjadi amanat tersirat dalam film, yakni bahwa dukacita tidak mungkin dihilangkan, hanya bisa dijadikan sebagai memori yang harus dipelihara dengan baik tanpa harus menghilangkannya dengan segala cara.

6. Goodnight Mommy (2014) — perumpamaan dari kelalaian orang tua terhadap anak

www.youtube.com

Buat temen-temen yang udah pernah baca artikel di YuKepo yang ngebahas gejala penyakit yang bikin hidup berasa kayak di film horor, pastinya udah tau dong tentang sindrom cargas? Sindrom ini bisa bikin pengidapnya selalu beranggapan bahwa orang yang dia kenal itu bukanlah orang yang “benar-benar” dia kenal, melainkan orang lain yang menjadi peniru dari orang aslinya. Ellas dan Lukas (Elias dan Lukas Schwarz) selaku tokoh dalam film Goodnight Mommy, selalu beranggapan bahwa ibu yang datang ke rumahnya dengan menggunakan perban di wajah setelah operasi plastik itu bukanlah ibu aslinya.

Untuk menguak keberadaan ibu aslinya, Elias dan Lukas pun mencari segala cara agar sosok ibu di rumahnya itu mau mengakui di mana ibu aslinya berada. Film ini mencerminkan kenyataan yang kurang lebih memiliki kesamaan dengan film The Babadook, yakni mengenai dukacita yang mempengaruhi hubungan ibu dan anak. Dalam Goodnight Mommy, anomali yang terjadi pada Elias dan Lukas itu digambarkan sebagai dampak dari hubungan dengan ibu mereka yang kurang terjalin dengan baik karena ibunya seakan-akan selalu menjaga jarak antara dirinya dengan kedua anak kembar itu.

7. Friend Request (2016) — perumpamaan dari dampak perilaku diskriminasi sosial

www.youtube.com

Film horor yang satu ini mengangkat isu yang timbul saat perkembangan identitas sosial di dunia maya sudah ramai digunakan oleh khalayak. Film ini mengisahkan tentang seorang mahasiswi yang sangat populer di kampusnya dan memiliki banyak teman di akun Facebook. Suatu saat, di akun Facebook-nya, Laura (Alycia Debnam-Carey) menerima permintaan untuk berteman dari seorang mahasiswi yang tidak populer, yakni Marina (Liesl Ahlers). Laura pun menerima permintaan tersebut dan bahkan dirinya menerima Marina sebagai teman di dunia nyata. Marina yang sama sekali tidak memiliki teman pun merasa senang.

Tragisnya, pada saat ulang tahun Laura, dia membagikan foto bersama teman-temannya di halaman Facebook. Marina yang tidak diundang dan melihat foto itu pun lantas kecewa kepada Laura dan mengonfrontasi Laura pada saat di kampus. Akibat kejadian itu, Laura memutuskan pertemanan mereka di Facebook sehingga jumlah teman Marina kembali ke angka 0.

Setelah itulah dimulai kejadian-kejadian yang Laura percaya sebagai peristiwa yang dimanipulasi oleh Marina, dan seakan-akan mencerminkan kenyataan sosial bahwa orang yang didiskriminasi oleh lingkaran sosial yang berlomba-lomba untuk mencitrakan dirinya sebaik mungkin di dunia maya itu dapat menyebabkan adanya sikap bullying yang dapat memicu kekerasan sebagai reaksi.

Meskipun film horor seringkali menampilkan sosok gaib yang terkadang sulit untuk dicerna oleh akal sehat, pada dasarnya film sebagai karya fiksi masih menyediakan ruang bagi para sineas untuk menjadikan kenyataan sosial sebagai referensi yang akan dituangkan dalam film horor melalui simbol-simbol. Itulah yang membuat film horor bukan menjadi sekadar film yang “nakut-nakutin”.

0%
Marah
0%
Gokil
0%
Lucu
0%
Kaget
0%
Suka
0%
Aneh
SHARES
7 Efek Kurang Tidur yang Sangat Membahayakan Kesehatan Tubuh dan Mental | Keepo.me

7 Efek Kurang Tidur yang Sangat Membahayakan Kesehatan Tubuh dan Mental | Keepo.me

7 Film Mikir Terbaik Ini Sengaja Dibuat Biar Penonton Terus Penasaran

7 Film Mikir Terbaik Ini Sengaja Dibuat Biar Penonton Terus Penasaran

Keji! Pria Ini Gorok dan Bacok Kepala Sopir Angkot, Pelaku: Saya Santai Aja | Keepo.me

Keji! Pria Ini Gorok dan Bacok Kepala Sopir Angkot, Pelaku: Saya Santai Aja | Keepo.me

Masih Kecil Jadi Aktor, Inilah Film Rano Karno "Si Doel" yang Melambungkan Namanya!

Masih Kecil Jadi Aktor, Inilah Film Rano Karno "Si Doel" yang Melambungkan Namanya!

Simpel dan Praktis! Cara Menambahkan Lokasi di Google Maps untuk Alamat Rumah dan Bisnis | Keepo.me

Simpel dan Praktis! Cara Menambahkan Lokasi di Google Maps untuk Alamat Rumah dan Bisnis | Keepo.me

Para Cosplayer Superhero Marvel dan DC Ini Mirip Sama di Komik Loh!

Para Cosplayer Superhero Marvel dan DC Ini Mirip Sama di Komik Loh!

loading