Digadang Sebagai Film Marvel yang 'Berbeda', Aksi Black Panther Justru Tampak Melempem. Kenapa?

22 Februari 2018
|Reza Pratama
0SHARES

Sosok Black Panther memang masih terbilang baru di dunia perfilman superhero dibanding anggota Avengers lainnya, tetapi antusias dari kemunculan film solo Black Panther ternyata di luar dugaan. Di minggu pertama penayangannya, Black Panther Berhasil meraup pundi-pundi 192 juta USD. Angka tersebut melebihi pendapatan total film Justice League yang hanya mencapai 98 juta USD saja. 

Terlepas dari besarnya pendapatan pekan pertama film Black Panther, film ini tak terlepas dari beberapa ‘asam garam’ di dalamnya. Mari kita sedikit telisik tentang film Black Panther yang ‘katanya’ bagus ini. 

1. Cerita lebih fresh dengan nuansa yang sedikit berbeda dibanding film-film Marvel lainnya

Black Panther seperti menjadi angin segar bagi para penggemar film Superhero khususnya Marvel. Unsur politik yang dibalut dengan sisi komedi yang pas dan tidak berlebihan, membuat film Black Panther terasa nyaman untuk dinikmati sampai akhir. 

Bukan hanya dari segi pengemasan cerita saja, tapi film ini pun hampir 85% menggunakan para pemeran keturunan Amerika-Afrika. Hal ini tentunya menjadi sesuatu yang berbeda dari film-film Marvel lainnya. 

2. Visual effect yang memanjakan mata

Ryan Coogler berhasil membuat Black Panther menjadi film istimewa berkat visual effect dan CGI yang memanjakan mata banget. Walaupun ada beberapa scene yang memperlihatkan efek CGI yang kurang realistis. Namun, Black Panther berhasil menggambarkan Wakanda sebagai negara paling futuristik di dunia MCU. 

Bahkan setelah melihat segala kecanggihan yang ada di Wakanda, mungkin kamu akan berpikir jika teknologi Tony Stark nggak ada apa-apanya. Hal ini tidak terlepas dari efek vibranium yang membuat Wakanda menjadi negara paling modern.  

3. Soundtrack yang membuat kepala ngangguk-ngangguk

Para pemeran yang hampir semuanya diperankan oleh para aktor dan aktris berkulit hitam, sountrack pengiring film Black Panther pun dibuat dengan gaya Hip Hop dan sedikit musik khas Afrika yang bikin kuping bergairah. Bahkan mungkin kamu bakal suka dengan music Hip Hop setelah menonton film Black Panther.

4. Berhasil menggabungkan sisi modern dan sisi tradisional Afrika

Menariknya, Black Panther berhasil mengombinasikan sisi futuristik Wakanda dengan kultur khas Afrika. Hal itu terlihat dari para pemerannya yang menggunakan logat Afrika aktif membuat film ini terasa 'Afrika' banget. Belum lagi ditambah dengan tarian khusus serta adat istiadat dalam memperebutkan tahta Black Panther.

Hal ini menggambarkan bagaimana negara ideal menurut pandangan Sustainable Development Goals dari PBB. Di mana sumber daya alam dijaga yang digambarkan dengan penjagaan ketat logam vibranium. Keadilan sosial ditegakkan, yang tampak dari posisi perempuan dalam pemerintahan Wakanda. Dan inovasi teknologi yang harmonis dengan pelestarian budaya.

5. Cerita terlalu mudah ditebak dan nggak bikin penasaran

Saat menonton film ini, otakmu tidak akan banyak berpikir keras untuk memahami ceritanya. Bahkan walaupun kamu datang terlambat ke bioskop, kamu masih bisa mengikuti cerita ini tanpa banyak bertanya. Belum lagi ada beberapa dialog yang terlalu bertele-tele membuat cerita terasa sedikit membosankan.

Mungkin karena ceritanya yang terlalu mudah ditebak, kita justru jadi bisa menangkap pesan-pesan politis di balik film ini. Dan hal ini tidak mengherankan, mengingat sosok Black Panther sendiri merupakan bentuk politik representasi kulit hitam dalam dunia Superhero.

6. Ternyata bukan menjadi jembatan untuk film Infinity War

Banyak yang menyayangkan jika film ini ternyata bukan menjadi jembatan atau gambaran akan film Infinity War yang akan tayang April nanti. Bahkan langsung menonton Infinity War tanpa menonton Black Panther terlebih dahulu pun tak akan menjadi masalah. Mungkin keterkaitan dengan Infinity War hanya digambarkan lewat salah satu post credit di akhir penayangan. 

Jadi film ini sebetulnya bukan menjadi jembatan menuju Infinity War. Hanya film yang berfokus pada latar belakang Black Panther dan Wakanda yang supercanggih. 

7. Terlalu mudahnya tahta Wakanda direbut

Mungkin ini masih berkaitan dengan poin nomor 5. Tanpa balutan kostum Black Panther, King T’Challa terlalu mudah untuk dikalahkan sebagai seorang raja. Mungkin lebih cocok jadi raja dangdut dengan balutan kostum yang mirip baju koko dibanding jadi raja Wakanda. Rasanya siapapun yang jago bela diri, bisa merebut tahta Wakanda dengan mudahnya. Jadi rasanya sedikit konyol jika seorang Raja dari negara paling kaya, canggih, dan hebat di dunia mudah dikalahkan dalam pertarungan tangan kosong. 

Terlepas dari sisi positif dan negatif dari film Black Panther, film ini berhasil menjadi penutup yang manis dari rentetan film Marvel menjelang puncaknya pada film Infinity War. Sama seperti  pada film-film Marvel lainnya, Black Panther juga penuh dengan pujian dari para kritikus film tanpa ada sedikitpun yang berkomentar pedas. 

Namun, jika kamu berharap film ini akan memiliki twist ending layaknya The Dark Knight, maka sebaiknya kamu kubur dalam-dalam ekspektasi tersebut. Sejauh ini, Yukepo memutuskan bahwa Black Panther layak mendapat rating 7.4/10. 


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Reza Pratama
"Drangan Trakioiot"
0SHARES