Dicekal di Negeri Sendiri, Film Indonesia Ini Banjir Pujian di Kancah Film Internasional

22 Juli 2017
|Atik Kencana S.
0SHARES

Kebangkitan perfilman di Indonesia semakin hari semakin meningkat tajam. Banyak bermunculan aktor dan sutradara jenius yang sayangnya harus terbentur dengan kebijakan perfilman di Indonesia. Itulah yang dikerjakan oleh Lembaga Sensor Film Indonesia. Memastikan film-film yang tayang di Indonesia dipastikan tidak bertentangan dengan Undang-undang No. 33 Tahun 2009 tentang Perfilman Pasal 19. Coba cek sendiri deh.

Namun ternyata, ada beberapa film karya anak bangsa yang dicekal penayangannya di Indonesia, namun malah menoreh pujian di luar negeri. Film apa saja sih? Yuk, langsung aja cek di bawah ini. 

1. Pembalasan Ratu Pantai Selatan (1998)

Film yang diberi judul “Lady Terminator” di luar negeri ini merupakan film horor aksi yang disutradarai oleh Tjut Djalil pada tahun 1988. Film baku tembak dewasa ini dibintangi oleh Yurike Prastike dan Barbara Anne Constable. Film ini merupakan film kolaborasi antarnegara yang diproduksi oleh Soraya Intercine Films. Justru tidak tayang di Indonesia, film ini malah tayang di Amerika Serikat, Irlandia, Republik Ceko, dan lainnya. Film ini dilarang ditayangkan di Indonesia karena sangat menonjolkan unsur kekerasan dan eksploitasi seks. Selain itu, dalam film ini juga memperlihatkan adegan keris yang keluar dari kemaluan laki-laki. 

2. Merdeka 17805 atau Murudeka 1708 (2001)

Film ini merupakan film drama perang hasil kolaborasi rumah produksi Indonesia dan Jepang. Film yang dirilis pada tahun 2001 ini bercerita tentang kisah nyata perjuangan beberapa personel Tentara Kekaisaran Jepang yang berperan andil dalam Perang Kemerdekaan Indonesia. Film ini menuai kontroversi saat perilisannya di Indonesia, terutama saat adegan seorang perempuan Jawa yang mencium kaki seorang tentara Jepang sembari menceritakan salah satu Ramalan Jayabaya mengenai kedatangan Jepang di Jawa. Walaupun dilarang tayang di Indonesia karena alasan politik, namun film ini cukup laku keras di Jepang.

3. Something in the Way (2013)

Film ini memang tidak pernah dicoba untuk ditayangkan di Indonesia karena sang sutradara memang sudah yakin di awal bahwa film ini akan dicekal. Film yang digarap oleh Teddy Soeriaatmadja ini menampilkan Reza Rahadian dan Ratu Felisha sebagai pemeran utama. Film “Something in the Way” ini memang mengusung dua tema kontroversial, yaitu seks dan agama. Beberapa adegan di film ini memang dibuat sedetail mungkin hingga mampu membuat panas beberapa kelompok. 

4. Act of Killing atau Jagal (2012)

Film dokumenter karya seorang sutradara asal Amerika Serikat, Joshua Oppenheimer ini menyoroti pelaku pembunuhan anti-PKI pada tahun 1965-1966. Ajaibnya, perilaku para pembunuh tersebut memang memproyeksikan diri mereka sebagai suatu kegiatan heroik. Film ini memeroleh banyak penghargaan internasional, antara lain British Academy Film and Television Arts Awards 2013. Sementara itu, penayangan film ini dilakukan secara terbatas di Indonesia, umumnya hanya di kampus dan lembaga-lembaga HAM.

5. Look of Silence atau Senyap (2015)

Film ini merupakan film dokumenter kedua karya Joshua Oppenheimer. Masih mengenai kisah pembunuhan yang dilakukan oleh simpatisan anti-PKI seperti film Jagal. Film dokumenter ini menyoroti kisah Adi yang merupakan anggota dari keluarga yang dituduh sebagai simpatisan PKI. Sudut pandangnya diputar 180 derajat dari film Jagal.

Film ini sempat ditayangkan di Indonesia pada 10 Desember 2014 sebagai peringatan hari HAM sedunia, namun hanya sebentar. Selanjutnya, film ini pun dicekal. Kalau mau screening film “Jagal” dan “Senyap” biasanya harus membuat izin ke lembaga tertentu.

Itulah tadi deretan film Indonesia yang dicekal di dalam negeri, namun mendapatkan respon positif di dunia internasional. Bahkan, beberapa dari film di atas mendapatkan penghargaan dari ajang film bergengsi di dunia.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Atik Kencana S.
"Semper Fi"
0SHARES