Bukan Film Erotis Semata, Ini 5 Alasan Kenapa trilogi 50 Shades Layak Ditonton!

03 Maret 2018
|Romlah Sundari
0SHARES

14 Februari kemarin, film penutup trilogi kontroversial 50 Shades of Grey, yang berjudul 50 Shades Freed dirilis. Meski tidak ditayangkan di bioskop Indonesia, namun trilogi ini memiliki cukup banyak penonton dan penggemar di Indonesia. Kisah cinta antara Anastasia Steele dan Christian Grey yang berbalut praktik BDSM ini sanggup membangkitkan rasa penasaran para penontonnya.

Terang saja penggunaan ornamen BDSM di sini tidak hanya menggugah rasa penasaran namun juga kontroversi. Banyak yang beranggapan bahwa ini hanyalah film semi semata yang tidak menawarkan hiburan lain selain tontonan sensual. Padahal, kenyataannya film ini punya nilai lain yang sebenarnya penting untuk kita ketahui, lho. Karena kehidupan bukan hanya bunga-bunga dan kisah cinta picisan ala Dilan dan Milea, yuk kita lihat kembali alasan-alasan kenapa trilogy 50 Shades layak untuk ditonton.

1. Film ini menggambarkan dengan baik fenomena gangguan kesehatan mental dalam masyarakat

Tidak dapat dipungkiri, film ini berputar pada sosok Christian Grey. Seorang pengusaha muda yang kaya raya dan memiliki kuasa. Kesuksesan ini tentunya tidak terlepas dari sifatnya yang dominan, ambisius, dan pemberani. Tapi di balik kesuksesannya, Grey memiliki gangguan kejiwaan yang sangat memengaruhi kehidupan personalnya dan hubungannya dengan orang lain.

Semua orang memiliki ‘tengkorak’ di dalam lemarinya masing-masing. Meski mungkin tidak seburuk gangguan yang dialami Grey, namun kita semua memilikinya. Beberapa dari kita menyadarinya dan berupaya berdamai dengannya. Akan tetapi banyak yang memilih untuk menyangkali keberadaannya dan membiarkannya membusuk dalam pikiran. Kenapa? Karena kesadaran mengenai gangguan kejiwaan di Indonesia masih sangat minim.

2. Gangguan mental itu ada karena memiliki akar yang biasanya terkubur di masa lalunya

Grey tidak mengalami gangguan mental sejak ia lahir. Ia mendapatkannya karena masa lalunya yang kelam dan hubungan tidak sehatnya dengan teman ibunya, Ms Robinson. Dan ia mulai dapat memiliki hubungan yang lebih sehat setelah ia bertemu dengan Ana yang memiliki pendirian kuat namun juga penuh dengan welas asih.

Film ini jadi penting dan layak untuk ditonton karena dapat membuat kita tersadar bahwa gangguan mental itu ada dan bukan untuk dijauhi. Mereka yang mengalami gangguan justru sangat membutuhkan pertolongan. Masa lalunya yang kelam dan ketidakmampuan untuk menanganinya secara sehat adalah hal yang mungkin membuat mereka mengalami gangguan. Dan bukankah tidak ada faedahnya mengucilkan mereka?

3. Diambil dari novel bestseller, kisah Anastasia Steele dan Christian Grey sebenarnya cukup romantis

Bagian ini merupakan bagian yang paling disenangi oleh banyak penggemar film 50 Shades of Grey dan sekuelnya. Kisah cinta Anastasia Steele dan Christian Grey tak ubahnya kisah cinta dalam dongeng. Grey sangat mengetahui bagaimana cara untuk membuat Steele merasa begitu istimewa. Tidak hanya dengan pemberian-pemberian mahalnya dan liburan-liburan mewahnya. Ia juga tahu bagaimana cara agar Ana merasa aman dan tercukupi secara emosional.

Di sisi lain, Ana pun merupakan pasangan idaman. Ia dapat menyeimbangkan antara hubungan romantisnya dengan Grey dan kehidupan personalnya di mana ia menjelma seorang perempuan karir yang mandiri. Tidak hanya itu, Ana pun mampu mengimbangi Grey dalam banyak aspek tanpa menghilangkan karakter penurutnya.

4. Sosok Anastasia Steele, meski tidak sempurna, namun dapat dijadikan role model bagi mereka yang sedang berada dalam hubungan ‘toxic’

Hubungan Ana dan Grey berawal dari hubungan yang tidak sehat. Grey berupaya mengontrol segala tindak tanduk Ana dan menjadikannya sebagai ‘boneka’ dalam hubungan tersebut. Namun Ana memiliki caranya sendiri untuk membantu Grey keluar dari kebiasaan buruknya tersebut.

Sosok Ana di film pertama memang tampak sangat polos dengan tawa kecilnya yang terkesan naïf. Akan tetapi Ana ternyata lebih dari karakter sederhana ‘pemuas’ Grey. Ia mampu menunjukkan welas asih dan sikap asertif yang akhirnya membuat Grey kembali menyesuaikan diri. Tentu cara Ana yang memanfaatkan seks untuk memberinya posisi kuasa ini terasa tidak baik dan tidak patut ditiru. Akan tetapi inti dari cara Ana itu adalah untuk bersikap asertif dan menentukan batasan yang tidak boleh dilanggar bahkan oleh Grey yang ia cintai. Cinta tidak membutakan bagi Ana. Dan itu pula yang sebaiknya dilakukan oleh mereka yang terlibat dalam hubungan yang tidak sehat.

5. Film ini pun tidak mendukung praktik BDSM, namun justru memperlihatkan apa yang salah dengan praktik tersebut

Berbeda dari anggapan mereka yang belum menontonnya, trilogy 50 Shades ini tidak selalu mendukung praktik BDSM. Ya, Ana dan Grey memang tampak melakukannya dalam beberapa adegan di film yang cenderung vulgar ini. Namun hal itu dilakukan dengan konsensus, atau persetujuan kedua belah pihak secara rela dan sadar. Sehingga ini hanya menjadi variasi lain dari kehidupan ranjang mereka dan sama sekali tidak ada unsur paksaan di sana.

Justru trilogi ini memperlihatkan apa yang salah dari praktik BDSM yang melibatkan pihak dominan dan submissive. Hal ini digambarkan melalui tokoh Leila yang terganggu mentalnya dan kehidupannya pasca berhubungan dengan Grey. Praktik BDSM tidaklah sehat, dan tidak dapat dilakukan begitu saja tanpa banyak pertimbangan sebelumnya. Apalagi praktik BDSM yang tidak melibatkan perasaan dan dalam jangka waktu panjang seperti yang dilakukan oleh Grey dan Leila.

Meski kontroversial dan banyak menuai kritik, namun trilogi 50 Shades ini memiliki nilai-nilai dan bentuk edukasi yang dapat kita ambil. Kita memang harus belajar dari banyak hal, bahkan dari sesuatu yang tampaknya tidak baik sekalipun. Jadi, siapkah kamu menonton trilogi 50 Shades ini? Semua kembali ke kenyamanan masing-masing orang. Jika menonton trilogi 50 Shades terasa terlalu vulgar dan tidak nyaman. Kita bisa kok belajar lebih mengenai nilai-nilai yang dibawanya melalui berbagai literatur yang tersedia.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Romlah Sundari
Gak Punya Quote Nih!
0SHARES