9 Alasan Mengapa Spider-Man: Homecoming Menjadi Film Spider-Man Terbaik

11 Juli 2017
|Idham Nur Indrajaya
0SHARES

Beberapa kritikus film beranggapan bahwa Spider-Man: Homecoming merupakan film superhero Marvel terbaik semenjak The Avengers (2012) ditayangkan. Selain itu, mereka juga mengatakan bahwa film yang digarap oleh Jon Watts ini mampu melampaui instalasi pertama dari serial Spider-Man versi Sam Raimi dan Marc Webb. Disebabkan oleh hal itu, ditambah lagi dengan jumlah penggemar Spider-Man yang sangat masif, film ini pun berhasil meraih kesuksesan besar di hari-hari pertama setelah film ini ditayangkan. Dilansir dari whatculture.com, yang merangkum beberapa komentar positif dari beberapa kritikus film, inilah alasan-alasan mengapa Spider-Man: Homecoming merupakan film Spider-Man terbaik sepanjang masa!

1. Tidak diceritakannya asal-usul kekuatan Spider-Man

Kevin Feige, selaku produser film-film Marvel memang mengarahkan agar film ini tidak perlu lagi mengisahkan awal mula kekuatan manusia laba-laba yang diperoleh Peter Parker. Menurut Feige, kisah ini sudah dikisahkan dalam film-film Spider-Man sebelumnya sehingga malah akan terasa membuang-buang waktu dan energi untuk mengisahkannya dari awal lagi. Penonton pun akan merasa bosan dengan kisah yang diulang-ulang seperti itu, dan itulah kesalahan dalam The Amazing Spiderman (2012). Dengan menghilangkan bagian tersebut, Spider-Man: Homecoming dapat memiliki ruang yang lebih luas untuk mengembangkan karakter Spider-Man lebih lanjut sehingga dapat menampilkan karakter yang lebih menarik.

2. Dalam film ini, Peter benar-benar terlihat seperti remaja

Saat memulai syuting, Tobey Maguire dan Andrew Garfield memerankan Peter Parker di usia yang sudah mendekati 30 tahun. Hal itu menyebabkan Peter Parker tidak terlihat menjadi remaja secara natural, berbeda dengan Tom Holland yang berusia 19 tahun saat memerankan Peter Parker yang berusia 15 tahun. Dengan hanya selang empat tahun, Holland dapat menampilkan keremajaan yang begitu natural karena pada komiknya pun Spider-Man memang mengawali karirnya sebagai superhero di usia yang masih terbilang anak-anak.

3. Kolaborasi yang harmonis antara suasana yang serius dan jenaka

Spiderman adalah karakter superhero yang sangat humoris. Sifatnya yang masih kekanak-kanakan pun membuat dirinya kerap kali terlihat jenaka saat sedang memberantas kejahatan. Suasana jenaka itu sebenarnya sudah diusahakan pula dalam versi Sam Raimi dan Marc Webb, akan tetapi masih kurang berimbang dengan suasana yang cenderung lebih serius dan dewasa.

4. Karakter tokoh antagonis yang menarik

Michael Keaton yang berperan sebagai Adrian Toome alias The Vulture dapat menampilkan karakter tokoh antagonis yang berbeda dengan musuh-musuh dalam film Spider-Man sebelumnya. Bahkan, saat ini para kritikus menilai bahwa The Vulture merupakan tokoh penjahat super dalam film superhero Marvel semenjak Loki (Tom Hiddleston).

5. Penggunaan tema musik dari Spider-Man versi klasik

Danny Elfman memang mampu memberi gubahan musik yang menggugah para penonton dalam serial Spider-Man versi Sam Raimi. Akan tetapi, Michael Giacchino mengambil keputusan yang lebih tepat untuk menggunakan skoring musik yang ikonik pada Spider-Man, yang digunakan pada serial televisinya pada tahun 1960-an. Dengan begini, nuansa Spider-Man telah dikembalikan kepada orisinalitasnya dengan aransemen yang lebih modern. Mungkin teman-teman sudah tidak asing dengan nada skoring ini jika pernah bermain video game Spider-Man di Playstation 1 yang dirilis pada tahun 2000.

6. Elemen kejutan pada plot cerita yang tidak dipaksakan

Mungkin detailnya tidak perlu diberitahukan karena nantinya malah jadi spoiler dan tidak terasa lagi kejutannya. Yang jelas, film ini diisi oleh elemen-elemen kejutan yang tidak terkesan mengada-ngada. Jon Watts dengan lihainya dapat menampilkan berbagai premis sebab-akibat yang terkadang tidak akan disadari oleh penonton yang lengah. Dengan begitu, film ini dapat lebih memberikan suspense yang lebih kental jika dibandingkan film Spider-Man sebelumnya.

7. Porsi kemunculan Iron Man yang tidak mengalihkan fokus dari tokoh Spider-Man

Kemunculan superhero lain dari Marvel Cinematic Universe merupakan nilai plus bagi film ini ketimbang filmSpider-Man sebelumnya. Dengan tampilnya Tony Stark (Iron Man) sebagai mentor, Peter Parker pun menjadi lebih terlihat sebagai remaja kikuk yang tergesa-gesa ingin menunjukkan kebolehannya sebagai superhero di usianya yang masih sangat muda. Porsi kemunculan Iron Man dalam film ini pun tidak merebut fokus penonton dari Peter Parker sehingga dapat dikatakan bahwa Jon Watts sebagai sutradara dapat mengatur porsi karakter dengan baik.

8. Sosok Aunt May yang lebih realistis dan sesuai dengan konteks zaman

Mengapa tokoh Bibi May lebih terlihat realistis dalam film ini? Pasalnya, dalam dua instalasi sebelumnya, Bibi May terlihat terlalu tua untuk menjadi bibi dari Peter Parker yang masih menduduki bangku sekolah menengah atas. Dibanding tokoh Bibi May sebelumnya, Marisa Tomei merupakan aktris yang dapat menampilkan tokoh tersebut dalam perbandingan usia yang lebih cocok dengan Peter Parker, dan terlihat seperti “ibu-ibu kekinian”. Selain itu, kolaborasi antara Tomei dan Holland pun terbilang cukup baik.

9. Akting Tom Holland yang sangat cocok dengan karakter Spider-Man dalam komik

Tom Holland kini telah melampaui keikonikan Tobey Maguire yang berperan sebagai Peter dalam instalasi Spider-Man versi Sam Raimi. Karakter culun yang melekat pada Peter Parker, rasa antusias yang terkadang berlebihan, dan kejenakaan yang natural terasa betul dalam tokoh yang diperankan oleh Tom Holland. Sebelum diresmikan perannya, Tom diuji aktingnya terlebih dahulu oleh Chris Evans dan Robert Downey Jr. yang berperan juga dalam Marvel Cinematic Universe sebagai Captain America dan Iron Man.

Itulah beberapa tinjau ulang terhadap Spider-Man: Homecoming yang menunjukkan alasan mengapa film ini mendapatkan antusias yang heboh sekaligus menjadi film Spider-Man terbaik dibanding film-film sebelumnya. Penasaran sama ceritanya? Buruan nonton filmnya sebelum hilang di bioskop!


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Idham Nur Indrajaya
Gak Punya Quote Nih!
0SHARES