7 Film Indonesia Era 80-an yang Harus Ditonton oleh Generasi Muda

11 Oktober 2016
|Idham Nur Indrajaya
1 KSHARES

Baru-baru ini, perfilman Indonesia memang tengah ramai-ramainya bernostalgia dengan film-film yang sebenarnya sudah diproduksi sejak beberapa tahun lalu. Dilanjutkannya kisah antara Rangga dan Cinta dalam Ada Apa dengan Cinta 2, perilisan ulang Tiga Dara beserta Ini Kisah Tiga Dara yang menjadi pengulangan kisah Tiga Dara dalam konteks yang lebih kekinian, Warkop DKI Reborn yang berusaha menghidupkan kembali Warkop DKI dalam layar lebar dan belum lagi Wiro Sableng yang dirumorkan akan dirilis versi bioskopnya dengan Vino G. Bastian sebagai aktor utamanya. Mungkin sekarang ini para sineas Indonesia sedang kangen-kangennya pada kejayaan perfilman Indonesia di masa lampau sehingga perilisan-perilisan kembali pun tidak terhindarkan. Kalo gitu, kenapa nggak sekalian aja kita nonton film-film jadul yang merajai perfilman Indonesia pada masanya? Mungkin quote dari film-film di bawah ini nggak akan begitu membantu buat narik perhatian gebetan kamu karena kamu bakal dianggap jadul tapi seenggaknya kan dapet ilmu. Hihihi.

1. Lewat Djam Malam (1954)

Film ini menceritakan zaman ketika kemerdekaan Indonesia baru diproklamirkan. Pada saat itu, jam malam diberlakukan di Bandung dalam rangka berjaga-jaga, siapa tau ada maling, yakni maling kemerdekaan. Dalam keadaan Indonesia yang masih muda ini, korupsi mulai merajalela dan Iskandar sebagai tokoh utama akan berusaha untuk mengkonfrontasi temannya yang suka korupsi. Film ini meraih penghargaan film terbaik  FFI tahun 1955 dan Tarmina A. N. Alcaff yang memerankan Iskandar pun dinobatkan sebagai aktor terbaik dalam ajang tersebut.

2. Tjoet Nja’ Dhien (1988)

Selain kamu tau Black Widow, Captain Marvel, Scarlet Witch, Catwoman, Wonderwoman, Mulan Jameela (?), atau siapa pun itu sosok pahlawan perempuan, kamu juga harus tau dong cerita pahlawan perempuan asli produk Indonesia yang satu ini. Film ini disutradarai oleh salah satu seniman legendaris dari Indonesia, yakni Eros Djarot. Oleh Om Eros, Christine Hakim yang memerankan Tjoet Nja Dhien pun disuruh untuk membaca sekitar 60 buku dalam waktu sebulan! Katanya biar lebih menghayati sosok pahlawan Aceh ini, Christine harus memperdalam literasi yang berkaitan dengan beliau. Film ini memenangkan penghargaan Citra untuk film terbaik pada tahun 1988.

3. Nagabonar (1987)

Nah, sekarang kan lagi musim tuh sosok-sosok pahlawan kocak semacam Deadpool, Ant-Man, dan Spiderman. Buat kamu yang demen sama pahlawan bertipe kaya gitu, kamu juga harus nonton kelakuan kocak Nagabonar dalam memimpin para pejuang Medan untuk mengusir Belanda. Film ini memenangkan penghargaan film terbaik FFI pada tahun 1987. Kemudian di tahun 2008 dirilis ulang dengan judul Nagabonar Jadi 2

4. November 1828 (1979)

Jangan bosen ya nonton film tentang kepahlawanan di Indonesia. Toh nonton pahlawan Marvel-DC aja bisa, masa nonton film pahlawan negara sendiri malah ogah-ogahan? Film yang disutradarai oleh Teguh Karya yang selalu “teguh berkarya” ini menceritakan perlawanan penduduk Jawa dalam memerangi pasukan Hindia-Belanda yang dipimpin oleh Jenderal Van de Borst (Slamet Rahardjo Djarot). Film yang menampilkan nilai-nilai loyalitas ini memborong banyak penghargaan Citra 1979, yakni sutradara, sinematografi, artistik, musik dan pemeran pembantu pria terbaik (El Manik). Heboh banget kan penghargaannya? Penasaran dong pasti sama filmnya. 

5. Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982)

Film ini diangkat dari skenario yang digarap oleh salah satu seniman multitalenta yang akrab banget sama Chairil Anwar, yaitu Asrul Sani. Film ini mengisahkan seorang guru bernama Ibrahim yang datang ke suatu kampung untuk membantu kehidupan di kampung tersebut. Sayangnya, kealiman para warga di sana adalah kebaikan yang munafik, sampai-sampai dia dituduh memerkosa seorang gadis di kampung itu. Film ini memenangkan penghargaan skenario terbaik pada FFI tahun 1983.

6. Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1980)

Film ini bercerita tentang Ramadhan (Deddy Mizwar) yang bertemu dengan Mona (Lidya Kandouw) saat ada pertandingan voli antar kantor. Deddy memotret Mona dan fotonya itu lantas dimuat di koran. Mona yang merasa tersinggung karena Ramadhan tidak meminta izin, mendatangi Ramadhan dengan niat hendak melabrak tapi nyatanya mereka berdua malah jatuh cinta sehingga akhirnya menikah. Tapi saat tinggal di bawah atap yang samalah, konflik mereka berdua timbul lagi. Asrul Sani memenangkan penghargaan skenario terbaik versi FFI pada tahun 1986.

7. Ponirah Terpidana (1984)

Ponirah (Nani Vidia) adalah seorang gadis yang dianggap sebagai anak pembawa sial oleh ayahnya sendiri, Jabarudi (Bambang Hermanto). Akhirnya, Ponirah dibawa lari oleh Trindil (Christine Hakim) yang bekerja sebagai pelayan di rumah Ponirah. Pada saat Ponirah menginjak usia menuju dewasa, dia pergi ke Jakarta untuk mengikuti seorang pemuda (Ray Sahetapy) yang hendak menjualnya sebagai wanita hiburan. Bambang Hermanto memenangkan penghargaan Citra sebagai pemeran pembantu pria terbaik. Selain itu, film ini juga memenangkan penghargaan tata artistik dan penyuntingan terbaik dalam ajang yang sama. 

Temen-temen bisa liat kalo film-film di atas kebanyakannya dirilis pada tahun 1980-an. Pada masa itu, perfilman Indonesia memang sedang berada di atas angin sehingga banyak film-film bagus yang beredar di bioskop Indonesia sebelum mengalami kejatuhan di tahun 1990-an dengan bermunculannya film-film yang mengutamakan seksualitas. Film-film di atas beberapa bisa dicari dengan mudah kok di internet. Jadi, buat kamu yang emang beneran pengen nostalgia sama perfilman zaman dulu, buruaaaaan. Selamat menonton!


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Idham Nur Indrajaya
Gak Punya Quote Nih!
1 KSHARES