Menari atau Mati: Ini Kisah Pengungsi Suriah Melawan Perang Lewat Seni

03 Agustus 2017
|Chandra W.
0SHARES

Jargon “Merdeka atau Mati!” tampaknya kurang relevan bagi pemuda 27 tahun asal Suriah bernama Ahmad Joudeh. Merdeka baginya artinya bebas menari di mana saja. Sejak kecil, ia tak diizinkan ayahnya untuk menari. Padahal sejak pertama kali menari, Joudeh tahu ia dilahirkan untuk satu hal, menari. Tumbuh dewasa di zona perang Suriah, berkali-kali juga ia diancam untuk dibunuh karena menari. Ancaman itu berasal dari ISIS dan ditujukan bukan hanya untuk dirinya tetapi juga untuk ibunya dan anggota keluarga yang lain. Lantas bagaimana ia bisa bertahan hingga sekarang bisa menari di seantero daratan Eropa?

1. Ahmad Joudeh lahir dan tumbuh besar di Yarmouk, sebuah tempat pengungsian warga Palestina di Damaskus, Suriah

Ayahnya seorang Palestina dan ibunya warga Suriah. Kombinasi yang tidak menguntungkan untuk hidup di tahun 1990-an hingga saat ini. Palestina telah begitu lama berperang dengan Israel, terakhir sampai perebutan Masjid Al-Aqsa. Suriah telah lebih dari lima tahun terjebak dalam perang sipil yang dibuatnya sendiri, apalagi dengan ditambah kerusuhan oleh ISIS. Bayangkanlah, seorang anak kecil ingin menjadi penari di tengah budaya Arab dan kondisi perang Suriah. Mustahil, bukan?

2. Ayahnya tidak mengizinkan Joudeh mengembangkan bakat menarinya. Aib keluarga, katanya

Anak laki-laki yang menari di negara-negara Arab, diragukan maskulinitasnya. Alih-alih menjadi penari, mengapa tidak bergabung dalam militer untuk membela negaranya di tengah perang Suriah, atau melindungi keluarganya dengan menempuh pendidikan dokter dan mengambil kelas bahasa Inggris? Jika saja Joudeh menuruti permintaan ayahnya saat itu, tak akan sampai ia ke Eropa seperti sekarang. Diam-diam Joudeh mengikuti kelas menari. Ketahuan, ayahnya memukulnya sampai ia tak bisa menari selama beberapa hari. Joudeh tak pernah menyerah. Ia terus berlatih dan berlatih menari, walau momok perang Suriah masih menghantui.

3. Hingga akhirnya sang ayah meninggalkan keluarganya dan Joudeh mencari uang dari mengajar balet

Setelah melewati berkali-kali pertengkaran dengan Joudeh, ayahnya pergi. Saat itu Joudeh menggantikan peran ayahnya sebagai tulang punggung keluarga dengan cara mengajar balet. Ia juga memberikan les menari gratis bagi anak-anak yatim piatu dan penyandang disabilitas di Damaskus di tengah konflik perang Suriah saat itu.

4. Tahun 2015 ketika ISIS menyerbu kompleks tempat tinggalnya, Joudeh diancam hukuman mati

Karena menari. Katanya menari adalah tindakan yang terlarang dan siapa saja yang melakukannya akan mendapat hukuman mati. Sekali lagi, Joudeh melawan siapapun yang menghalangi satu-satunya impiannya sejak kecil: menari. Ia justru menari di mana saja termasuk di reruntuhan perang Suriah, tempat ISIS biasa memenggal kepala tawanan atau siapa saja yang dianggap musuh.

5. Tato “Dance or Die” di punggungnya adalah bentuk perlawanannya yang lain

Katanya, jika kelak ia dipenggal oleh ISIS, maka tato itulah yang terakhir akan dilihat oleh mereka. Tentu tato ini adalah pesan bukan hanya untuk ayahnya, perah Suriah, dan ISIS yang telah menghalangi mimpinya, tapi juga untuk seluruh dunia. Mengejar mimpi itu pekerjaan orang hebat. Dan menyerah bukan jawaban atas apapun. Selagi masih bisa, kejar.

6. Perjuangannya terbayar ketika videonya menari di reruntuhan Palmyra ditonton oleh Ted Brandsen, Artistic Director di Dutch National Ballet

Agustus 2016, seorang jurnalis asal Belanda membuat karya dokumenter tentang Joudeh. Ia menari di tempat pengungsian di mana ia tumbuh dulu dan mempersembahkannya untuk siapa saja yang telah mati di sana. Video ini menarik hari Brandsen dan ia langsung mengadakan fundraising untuk mengumpulkan uang dan meminta Joudeh datang ke Belanda untuk tinggal dan sekolah menari di Amsterdam.

7. Meninggalkan ibunya di Suriah juga jadi ujian terberat bagi Joudeh

Sebenarnya ia enggan meninggalkan ibunya. Tapi sang ibu berkata, “Cepat atau lambat kamu akan pergi, Nak. Entah ke pendidikan militer atau ke Amsterdam. Ibu lebih senang kau mengejar cita-citamu.”

Dengan restu ibu, Joudeh melanjutkan impiannya ke Amsterdam. Hingga kini ia masih tidak percaya dan sangat bersyukur dapat tinggal di Eropa. Meski demikian, ada saat-saat di mana ia merasa sedih hingga sulit bernapas ketika menari dan teringat ibunya di tengah tegangnya perang Suriah.

8. Joudeh pun kembali bertemu dengan ayahnya setelah 11 tahun berpisah

Ayahnya hidup sebagai pencari suaka di Jerman. Meskipun sulit, Joudeh ingin memulai hidup barunya dengan hati yang bersih. Maka ia memutuskan untuk memaafkan ayahnya. Ketika mereka bertemu, ayahnya tidak bisa berhenti menangis dan minta maaf. Ia sangat bangga akan apa yang telah dilakukan anaknya. Joudeh pun semakin percaya bahwa seni bisa menghangatkan hati yang beku sekalipun.

9. Belum lama ini, Joudeh tampil di Eiffel mempertunjukkan tarian yang diberi nama “Dance or Die”, moto yang selalu ia pegang selama ini

Seorang penyanyi asal Perancis, Sanga, menulis lagu untuk dijadikan latar menari "Dance or Die" bagi Joudeh. Lagu ini diciptakan untuk meningkatkan awareness tentang perdamaian dan perbedaan budaya di seluruh dunia. Joudeh juga akan tampil dalam opera-opera yang dipertunjukkan di Amsterdam.

 

Sudah tahu, 'kan pesan moralnya? Jangan menyerah. Apapun yang terjadi jangan menyerah. Nggak ada yang sia-sia di dunia ini. Kalau kamu yakin sama mimpimu, lanjut terus. Suatu hari bakal ada hasilnya kok. Selamat berjuang!


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Chandra W.
"Sebaik-baik tulisan adalah yang dibaca sampai akhir."
0SHARES