Sketsa Wajah Penyiram Air Keras Dirilis Polisi, Mengapa Novel Baswedan Tak Senang?

02 Agustus 2017
|Chandra W.
0SHARES

Kita semua pasti masih ingat dengan kasus Novel Baswedan, penyidik KPK yang disiram air keras oleh orang tak dikenal sekitar dua bulan yang lalu selepas menunaikan salat Subuh di masjid dekat komplek rumahnya. Kejadian ini mengakibatkan mata kiri Novel kehilangan fungsinya.

Ia bahkan harus berobat sampai ke Singapura untuk menyembuhkannya namun sayang kerusakannya sudah terlalu parah. Sempat tersiar kabar bahwa pelaku penyiraman telah ditangkap, namun entah bagaimana begitu saja dibebaskan. Kurang alat bukti, kata polisi saat itu.

Tak ada saksi mata yang melihat bagaimana wajah pelaku yang menyiram air keras ke Novel Baswedan. Jalanan saat itu gelap. Wajar saja, masih pagi dan matahari belum terbit. Novel sendiri tak pernah tahu seperti apa wajah orang tak bertanggungjawab itu. Barang bukti yang ditemukan di sana hanya cangkir kecil bekas air keras yang disiramkan. Kasus ini terkesan dibiarkan berlarut-larut. Indikasinya, ada campur tangan jenderal kepolisian dalam menyembunyikan pelaku sesungguhnya.

Ini bukan pertama kalinya Indonesia disuguhi drama antara KPK dan Polri. Berkali-kali aksi bela KPK dan Novel Baswedan digelar di Jakarta, Yogyakarta, dan seluruh Indonesia. Akhirnya, Jenderal Kepolisian Republik Indonesia, Tito Karnavian pun merilis sketsa wajah terduga penyerang Novel Baswedan.

Ciri-ciri pelaku, yakni tinggi badan antara 167 cm sampai 170 cm, kulit agak hitam, rambut keriting, dan badan ramping. Pembuatan sketsa ini didasarkan pada keterangan saksi yang melihat keberadaan dua orang pelaku di dekat masjid sekitar lima menit sebelum kejadian berlangsung. Katanya lagi, wajah pada sketsa ini sangat mirip dengan pelaku, disesuaikan dengan keterangan saksi.

Sebagian orang mungkin melihat rilis sketsa ini sebagai kemajuan penyelidikan kasus Novel Baswedan, namun Novel malah berpikir sebaliknya. Dilansir dari detik.com, Novel meragukan keinginan polisi menuntaskan kasusnya. Lagipula sudah beberapa kali ia menyatakan tidak pernah melihat wajah pelaku.

"Apakah untuk menjawab, untuk mendapatkan jawaban dari saya bahwa saya tidak mengenali, dan kemudian dipublikasi ternyata Novel tidak mengenali, apakah itu yang ingin dibuat, saya kira ini menunjukkan bahwa proses itu tidak serius," ujar Novel.

Di negeri ini, jadi orang baik dan jujur itu susah. Contohnya seperti Novel Baswedan. Risiko bekerja sebagai penyidik untuk kasus korupsi memang sangat besar. Urusannya hidup mati. Nyawa, kadang bukan hanya nyawa sendiri tapi juga keluarga yang jadi taruhannya. Tapi, kalau nggak dimulai dari memperbaiki diri sendiri, kapan Indonesia akan maju? Kita doakan saja semoga pelaku dan dalang di balik penyiraman kasus Novel Baswedan segera terungkap dan dihukum sesuai dengan perbuatannya ya.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Chandra W.
"Sebaik-baik tulisan adalah yang dibaca sampai akhir."
0SHARES