Simpati FIFA, Pogba, hingga Analisis Tim Dokter Atas Meninggalnya Kapten Persela, Choirul Huda

16 Oktober 2017
|Muhammad Sidiq Permadi
News
0SHARES

Sepak bola Indonesia kembali berduka. Kali ini, duka sepak bola Indonesia bukan berasal dari luar lapangan, melainkan dari dalam lapangan. Pada lanjutan pertandingan Liga 1 Gojek Traveloka yang mempertemukan tuan rumah Persela Lamongan dengan tim tamu Semen Padang, terjadi sebuah insiden yang mengakibatkan kiper sekaligus kapten tim Persela, Choirul Huda, meninggal dunia. Insiden tersebut berawal dari benturan yang dialami oleh Choirul Huda dengan rekan setimnya, Ramon Rodrigues. Meskipun sempat tersadar, namun pemain berusia 38 tahun tersebut akhirnya tumbang dan tak sadarkan diri. Tim medis pun dengan segera datang untuk memberikan pertolongan pertama kepada Huda. Ia pun segera dilarikan ke Unit Instalasi  Gawat Darurat RSUD Dr. Soegiri Lamongan. Namun, tepat pada pukul 16.45, tim dokter menyatakan bahwa kapten tim Persela tersebut telah berpulang. 

Kepergian dari sosok bertinggi 1, 83 meter ini ternyata mengundang reaksi dari salah satu punggawa Manchester United, yakni Paul Pogba. Dalam akun twitternya, Pogba mengucapkan turut berduka cita atas kepergian Choirul Huda dan semoga keluarga yang ditinggalkannya dapat diberikan ketabahan. Tentu saja hal yang ditunjukkan oleh Pogba tersebut sangat diapresiasi oleh para pecinta sepak bola di tanah air. 

Kemudian, terlepas dari ucapan bela sungkawa Pogba, tim dokter yang menangani Choirul Huda memberikan penjelasan terkait luka yang dialami olehnya. Menurut dokter spesialis anastesi yang juga menjabat sebagai Kepala Unit Instalasi Gawat Darurat RSUD Dr. Soegiri Lamongan, Yudistiro Andri Nugroho, almarhum Choirul Huda mengalami trauma benturan sehingga terjadi henti napas dan henti jantung.

“Rekan-rekan tim medis di lapangan pun sudah berusaha melakukan penanganan pembebasan jalan napas dengan bantuan napas, bahkan di ambulans pun juga tetap dilakukan penanganan tersebut hingga tiba di UGD,” jelasnya

Sesampainya di UGD, tim dokter dengan segera memasang alat bantu pernapasan yang sifatnya permanen dengan bentuk yang seperti pipa napas untuk menjamin oksigen 100% dapat masuk ke paru-paru. Kemudian, tim dokter pun dengan segera melakukan pompa otak dan jantung. Meskipun sempat ada respon dari Choirul Huda dengan kulit yang memerah, namun kondisinya tidak kunjung stabil dan bahkan semakin menurun. Hingga akhirnya, tepat pada pukul 16.45, tim dokter menyatakan bahwa Choirul Huda telah berpulang ke rahamtullah setelah selama satu jam diberikan bantuan pompa jantung dan otak.

Yudistiro pun membeberkan bahwa terdapat benturan di dada dan rahang bawah dari kiper veteran tersebut. Selain itu, ada juga kemungkinan trauma dada, kepala, dan leher yang dialaminya.

“Di dalam tulang leher itu ada sumsum, tulang yang menghubungkan ke batang otak. Di batang otak itu ada pusat-pusat semua organ vital, pusat denyut jantung dan napas. Mungkin itu yang menyebabkan Choirul Huda henti jantung dan henti napas,” jelasnya sesuai dengan yang dikutip dari laman CNN Indonesia.

Dengan tragedi ini, apakah sepak bola Indonesia harus dihentikan sejenak? Meskipun memang kematian itu hanya Tuhan yang tahu, namun apakah tim medis yang ada di Liga 1 ini telah benar-benar cekatan dan sigap dalam menghadapi kondisi yang tak terduga seperti ini? Kita berharap, kepergian Choirul Huda ini menjadi pembelajaran yang sangat penting dan bahkan teramat penting bagi persepakbolaan di Indonesia. Selamat jalan Choirul Huda. Semoga tenang di sisi-Nya. Amin.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Muhammad Sidiq Permadi
"Linguistics - Semiotican"
0SHARES