Kisah 7 Guru yang Berjuang Untuk Mencerdaskan Anak Bangsa Ini Bikin Terharu

29 April 2017
|Yuniar Dwi Setiawati

Setiap kali perpisahan di sekolah, kamu pasti gak asing dengan lagu yang dinyanyikan untuk guru saat kamu dan teman-temanmu tampil paduan suara. Lagu yang menyatakan terima kasih pada guru memang menjadi tradisi rutin yang harus diungkapkan murid kepada gurunya, sang pahlawan tanpa tanda jasa.

Perjuangan seorang guru untuk mencerdaskan anak bangsa memang harus dihargai. Seperti perjuangan guru-guru di Sekolah Dasar Negeri Pojokklitih 3, kecamatan Plandaan, Jombang yang rela menempuh jarak 3,5 km untuk mengajar para muridnya. Dilansir dari kompas.com, mereka juga tidak mengeluh saat harus melewati pematang sawah, kebun, dan menyeberang sungai demi bisa mengajar 17 murid yang punya semangat membara untuk belajar.

Mereka juga pernah nyaris mati terpeleset jalanan licin yang ujungnya menuju jurang dan menerjang arus sungai yang deras. Beberapa di antaranya juga meyakinkan diri kalau pernah hampir tenggelam karena salah menduga kedalaman sungai, tapi akhirnya selamat dan bisa berenang menyelamatkan diri ke daratan. Ternyata perjuangan mereka tidak selalu mempersiapkan bahan ajar, tapi juga mempersiapkan mentalitas sebagai seorang guru yang tangguh.

Di bawah ini, YuKepo sudah merangkum 7 kisah guru yang berjuang untuk mencerdaskan anak bangsa dan bisa bikin kamu terharu. Kepoin kisahnya yuk!

1. Lusia, guru SD Negeri Nomor 27, Sintang

Guru wanita ini sangat berani menyeberang sungai melalui jembatan yang kondisinya rusak demi bisa mengajar muridnya yang tinggal di pedalaman terpencil di daerah Sintang, Kalimantan Barat. Dengan seragam batik dan penuh semangat, Lusia tampak tidak takut melewati jembatan yang terbuat dari batang bambu. Perjuangannya sebagai guru kontrak selama 4 tahun dengan wilayah didik yang sulit ini tidak membuatnya menyerah mengajar dan membangun sekolah yang saat itu masih kekurangan buku pelajaran dan tenaga pengajar.

Apa yang kamu bisa berikan sebagai ungkapan terima kasih ketika tahu jika ia gurumu?

2. Ervan, guru SD Masehi Billa

Mengajar di pedalaman Sumba dilakoni Ervan saat hatinya tergugah melihat anak-anak Sumba yang belum memiliki pendidikan layak seperti anak perkotaan. Sebagai guru muda, Ervan harus rela tinggal di perpustakaan sekolah dan sempat nyaris mati karena sakit yang membuatnya kesulitan untuk segera berobat ke puskesmas yang jaraknya 6 km dari sekolah tersebut. Selain itu, ia juga harus bertahan tidak terlalu sering bisa berkomunikasi dengan keluarga lantaran tidak ada sinyal.

Demi mencerdaskan anak bangsa, ia rela jauh dari keluarga. Apakah kelak ia bisa tersenyum lebar melihat anak-anak Sumba saat cita-cita mereka terwujud?

3. Saraban, guru SMP Desa Oklip, Papua

Pria asal Jogja ini niat berangkat ke Papua untuk mengajar anak-anak Papua agar bisa membaca dan menulis. Selama mengajar, ia pernah menangis melihat murid-muridnya di SMP Oklip sulit untuk diajar dan menganggap pendidikan itu tidak penting untuk diperjuangkan. Tapi, ketulusan hati yang dimiliki Saraban tidak membuat ia menyerah meski ia juga tidak betah harus hidup tanpa listrik.

Saraban sudah memberi teladan mengajar dengan ketulusan hati. Sudah saatnya muridnya membalasnya dengan hati yang penuh semangat belajar.

4. Sri Utami, guru di pedalaman Gorontalo

Saat mengajar di pedalaman gorontalo selama 10 tahun sebagai guru bantu tidak membuat Sri Utami berharap mendapatkan gaji yang banyak. Bahkan untuk menyekolahkan anaknya sendiri pun, ia belum mampu. Sebagai seorang guru, ia rela hidup berkekurangan demi mencerdaskan anak bangsa. Ia juga semangat mengajar meski dalam perjalanannya ke sekolah, ia melewati 2 perbukitan dan 2 anak sungai yang arusnya deras.

Apa yang kamu bisa bantu jika bertemu dengan guru seperti Sri Utami?

5. Retno Ambarwati, guru di SD Negeri 3 Tunggak, Grobogan

Sambil mengajar, Retno tidak malu untuk menggendong anaknya di punggung. Anaknya yang bernama Fahri ini menderita radang otak dan lumpuh sejak usia 6 bulan. Gaji yang minim sebagai guru honorer tidak bisa membuat Retno mengantarkan Fahri untuk berobat. Selama 9 tahun mengajar, ia hanya digaji Rp 400 ribu dan itu hanya cukup untuk hidup seadanya.

Semoga ada yang membantu biaya pengobatan Fahri ya bu. Siapa tahu murid yang sukses kelak tidak melupakan jasa ibu.

6. Suwandi, guru SD Satu Atap, Ninjemor

Suwandi harus menempuh 7 jam perjalanan saat akan mengajar ke sekolah. Kadang ia juga mendorong mobilnya saat berhadapan dengan jalanan yang penuh dengan lumpur. Tidak hanya menempuh jalur darat, Suwandi juga harus menyeberang laut dengan long boat dan memiliki perasaan khawatir jika ada buaya yang muncul ke permukaan perahu dan menerkamnya. Tapi ini tak membuatnya menyerah untuk mendidik anak bangsa sekalipun kulitnya juga pernah melepuh terkena getah pohon ketika ia memasuki hutan.

Jika ia diterkam buaya, bagaimana nasib murid-muridnya ya?

7. Petronela Kenjam, guru SMK Kristen Huetalan, NTT

Petronela Kenjam dan 2 temannya hanya digaji sebesar Rp 100.000 per bulan sebagai guru honorer. Gaji tersebut juga dikumpulkan dari sumbangan para murid yang mereka ajar. Mereka sadar jika murid mereka berasal dari keluarga tidak mampu, jadi mereka tidak menuntut lebih soal uang. Untuk menyambung hidupnya, mereka juga membuka kios kecil dan berjualan.

Sebagai guru mereka hanya bisa memberi yang terbaik untuk murid-muridnya. Semoga kebutuhan mereka tercukupi ya. 

Perjuangan guru di atas memang layak untuk diacungi jempol. Seorang guru yang baik ternyata mengajar dengan ketulusan hati dan jiwanya. Jika tidak ada guru yang berjuang seperti mereka, apa jadinya kamu sekarang? Ia mendidik kamu agar kamu jadi orang cerdas dalam jangka waktu yang lama. Seperti yang diungkapkan Henry Adams, seorang guru memengaruhi keabadian meski ia tidak pernah tahu kapan pengaruhnya akan berhenti. Jadi, yuk tetap semangat belajar.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Yuniar Dwi Setiawati
Gak Punya Quote Nih!
SHARES