Kelompok Saracen Penyebar Berita Hoax dan SARA Terciduk! Hati-hati, Jangan Asal Percaya

25 Agustus 2017
|Faizah Pratama

Indonesia kembali digemparkan oleh berita tentang kejahatann cyber. Bukan soal peretasan, melainkan tentang isu ujaran kebencian dan SARA. Pihak berwajib telah berhasil menciduk beberapa orang yang diduga sindikat grup penyebar berita hoax dan isu SARA. Orang-orang ini tergabung dalam grup yang diberi nama Saracen.

Terbongkarnya kawanan ini bisa dibilang membuka mata publik, bahwa ternyata berita hoax yang selama ini tersebar di media sosial bisa saja hasutan yang direkayasa oleh mereka. Netizen yang mudah percaya isu hoax justru dijadikan ladang emas bagi mereka. Apalagi, netizen sangat mudah membagikan hoax tanpa mau berusaha lebih untuk mencari tahu kebenarannya.

1. Saracen itu apa sebenarnya?

Istilah saracen dulunya dipakai oleh orang Kristen di Eropa untuk menyebut para pemeluk agama Islam. Banyak orang penasaran mengapa kelompok penyebar hoax itu menggunakan nama “Saracen”. Namun, sampai saat ini belum terungkap alasan mereka tentang penggunaan nama tersebut.

2. Mengapa mereka ditangkap?

Kelompok tersebut ditangkap karena mengunggah ujaran kebencian yang bermuatan SARA dan kebenarannya masuk dalam kategori hoax yang berpotensi besar menghasut masyarakat lewat media sosial. Apalagi, berita tersebut memang disebar berdasarkan permintaan klien, terutama saat mendekati momen Pilkada. Bahkan, tim dari Saracen ini sering menyebarkan proposal tentang "produk" mereka ini. Wah, parah.

 

3. Inilah salah satu posting-an di akun Facebook Sri Rahayu Ningsih, salah satu anggota Saracen yang ditangkap tempo hari

Akun Facebook ini memang kerap mengunggah konten bermuatan SARA. Sang pemilik akun pun pernah berurusan dengan pihak berwajib karena konten-konten yang disebarkan cukup meresahkan masyarakat. Ia juga pernah mengunggah posting-an yang menghina Presiden Joko Widodo.

4. Yang suka asal menyebar berita hoax, perlu waspada

Kabarnya, tarif pemesanan berita hoax pada Saracen adalah kisaran 75 juta sampai dengan 100 juta rupiah. Wah, para netizen harus hati-hati nih, kebiasaan kalian yang mudah percaya dengan isu-isu hoax, justru dimanfaatkan oleh orang yang tak bertanggung jawab untuk mencari keuntungan.

 

5. Netizen pun bereaksi: Kebencian sudah jadi komoditi

6. Netizen ini awalnya mudah percaya berita hoax, tapi kini sudah terbuka matanya

7. Siapa yang salah, yang jual atau yang beli berita hoax?

Terbongkarnya kasus Saracen ini, diharapkan membuka mata dan pikiran netizen untuk tak mudah percaya berita hoax yang mengandung ujaran kebencian, maupun SARA. Apalagi bagi yang suka asal nge-share berita di media sosial, makin perlu mengecek kebenarannya dua kali supaya tidak termakan provokasi yang bisa memecah belah masayarakat.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Faizah Pratama
"Di mana-mana hatiku senang!"
SHARES