Disebut Sebagai 'The Next Habibie', Dwi Hartanto Ternyata Bohong Tentang Prestasinya. Lho?!

09 Oktober 2017
|Venanda
0SHARES

Nama Dwi Hartanto belakangan ini sedang ramai dibicarakan publik. Pemuda asal Yogyakarta yang sekarang sedang kuliah S2 di Belanda ini memang sempat terkenal karena prestasinya. Bahkan ia juga dijuluki ‘The Next Habibie’ karena berbagai penemuannya.

Namun pada Minggu, 8 Oktober 2017 lalu, ia memberikan pernyataan yang sangat mengejutkan. Dalam surat resmi yang diunggah di laman PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Belanda, ia mengaku bahwa semua prestasinya selama ini adalah kebohongan semata. Tentu saja hal ini langsung membuat banyak orang heboh. Sebagai pelajar S2 di universitas terkenal Belanda, Dwi justru memanipulasi fakta tentang dirinya. Ckckck.

Dwi Hartanto yang saat ini sedang menempuh pendidikan doktoral di Technische Universiteit (TU) Delft Belanda sempat menjadi buah bibir dan dipuji-puji karena prestasinya yang dianggap membanggakan. Bahkan, ia sampai mendapat penghargaan dari KBRI Den Haag Belanda karena prestasinya ini. Tapi ternyata semua klaim prestasi dan kemampuan diri Dwi Hartanto ini hanya semu belaka.

Dalam suratnya, ia mengakui lima kebohongan yang telah dilakukannya. Pertama, ia mengaku bahwa pernyataannya tentang dirinya menjadi kandidat doktor di bidang Space Technology and Rocket Development pada tahun 2015 adalah bohong. Ia sebenarnya adalah kandidat doktor di bidang Interactive Intelligence pada Departemen Intelligent Systems. Ia saat itu juga mengaku sebagai post-doctoral dan asisten profesor, tapi ternyata itu tidak benar. Dwi mengatakan bahwa sampai saat ini ia merupakan mahasiswa doktoral biasa.

Kedua, pada tahun yang sama, Dwi mengaku telah merancang sebuah kendaraan peluncur satelit. Pada kenyataannya, ia tidak pernah membuat teknologi seperti itu. Ia hanya pernah menjadi anggota sebuah tim yang beranggotakan mahasiswa dalam proyek merancang subsistem embedded flight computer untuk roket Cansat V7s milik DARE atau Delft Aerospace Rocket Engineering. Hal tersebut juga bukan proyek luar kampus, melainkan kegiatan mahasiswa di TU Delft. Dwi juga bohong mengenai keikutsertaannya dalam penelitian bidang Satellite Technology and Rocket Development. Topik penelitian doktoralnya adalah bidang intelligent systems.

Ketiga, ia bohong tentang memenangkan lomba riset teknologi antar space agency dunia di Jerman pada tahun 2017. Klaim paten beberapa teknologi yang dilakukan Dwi juga ternyata tidak pernah ada. Ia bahkan memanipulasi cek hadiah lomba tersebut. Dwi menuliskan sendiri nama dan nominal hadiah. Kemudia ia berfoto dengan cek tersebut dan mengunggahnya ke media sosial. 

Keempat, ia menyatakan sedang merancang jet tempur terbaru untuk pertahanan dan militer. Dan ternyata semua itu hanyalah kebohongan belaka. Ia tidak pernah mengembangkan tekologi pesawat tempur generasi keenam.

Terakhir, ia bohong tentang kuliah di Tokyo institute of Technology Jepang. Sebenarnya ia kuliah S1 di Institut Sains dan Teknologi Akademi Perindustrian (1st AKPRIND) Yogyakarta. Ia juga sempat mengaku dapat beasiswa dari pemerintah Belanda, padahal ia mendapat beasiswa kuliah di TU Delft dari Kementerian Komunikasi dan Informatika RI.

Dalam suratnya, Dwi Hartanto meminta maaf kepada semua pihak yang merasa dirugikan dengan informasi yang tidak benar ini. Ia juga menyadari bahwa sikapnya ini tidak dewasa. Meskipun perbuatannya ini sangat tidak etis, namun keberaniannya untuk meminta maaf dan mengakui segala perbuatannya patut diacungi jempol. Semoga Dwi tidak lagi melakukan kebohongan seperti ini di kemudian hari. 


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Venanda
"Keep moving forward"
0SHARES