Diblokir Kominfo, Ini Tanggapan CEO Telegram

16 Juli 2017
|Rhesa Leo
News
1296SHARES

Saat ini Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) RI dihujani banyak protes di media sosial akibat keputusannya untuk memblokir akses web aplikasi pesan Telegram. Namun, pemblokiran aplikasi chat yang satu ini oleh Kemkominfo bukan tanpa alasan. Salah satu penyebab utama aplikasi ini diblokir oleh pemerintah adalah para pelaku terorisme yang kerap kali menggunakan aplikasi ini, termasuk di Indonesia.

Menanggapi pemblokiran Telegram, CEO dan founder Telegram, Pavel Durov mengaku sebelumnya nggak mengetahui kalau Kemkominfo telah mengirim daftar kanal publik yang berkaitan dengan konten terorisme di dalam aplikasi buatannya. Ia mengakui timnya nggak memproses permintaan Kemkominfo dengan cepat.

“Sayangnya saya nggak tahu ada permintaan itu sehingga menimbulkan miskomunikasi dengan Kemkominfo,” ujar Durov di dalam pernyataan yang diterbitkan kanal resmi Telegram miliknya.

Menanggapi masalah pemblokiran Telegram di Indonesia, Durov menawarkan tiga solusi agar Telegram bisa mendapatkan akses layanannya kembali di Indonesia. Pavel Durov memaparkan bahwa saat ini pihaknya sudah memblokir kanal berisi konten terorisme yang sebelumnya dilaporkan oleh Kemkominfo. Ia pun mengaku sudah mengirim balasan email kepada Kemkominfo untuk membangun komnunikasi langsung agar ke depannnya kedua pihak bisa bekerja lebih efisien dalam mengidentifikasi dan meblokir kanal-kanal yang terbukti berisikan propaganda terorisme. 

Solusi lainnya yang ditawarkan Durov adalah ke depannya, Telegram akan membuat sebuah tim moderator yang mana memiliki kemampuan berbahasa Indonesia agar mempermudah serta mempercepat penanganan konten terorisme di dalam aplikasi Telegram.

Seperti yang kita ketahui, Telegram adalah aplikasi yang sangat terenkripsi sehingga privasi dari para penggunanya sangat terjaga. Fitur inilah yang sering disalahgunakan oleh para teroris dalam melancarkan aksinya.

“Tapi kami bukanlah teman dari teroris. Buktinya, setiap bulan kami memblokir ribuan kanal publik ISIS dan memublikasikan hasilnya di @isiswatch,” Ujar Durov.

Kemkominfo sendiri mengatakan ke depannya bisa saja pihaknya mencabut pemblokiran dan melakukan normalisasi layanan Telegram di Indonesia. Namun, sebelumnya harus terjalin komunikasi yang intens antara Kemkominfo dengan pihak Telegram. Di sisi lain, Kemkominfo menegaskan dapat menutup aplikasi Telegram sepenuhnya jika perusahaan tersebut tidak menyiapkan SOP dalam menangani konten-konten yang melanggar hukum di Indonesia.

Kamu sendiri setuju nggak kalau aplikasi Telegram diblokir oleh pemerintah? Mungkin kamu punya aplikasi pesan alternatif lain yang fiturnya mirip dengan Telegram? Tulis di kolom komentar ya.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Rhesa Leo
Gak Punya Quote Nih!
1296SHARES