Demi Menyehatkan Masyarakat, 5 Dokter Ini Rela Hidup di Pedalaman Indonesia

0SHARES

Rupanya menjadi dokter adalah cita-cita yang banyak diidam-idamkan sewaktu kamu masih kecil, benar gak? Dari dulu sampai sekarang, jika kamu bertanya pada anak-anak: “mau jadi apa saat besar nanti?” pasti mereka banyak yang menjawab ingin jadi dokter. Jawaban ini bisa kamu pahami karena kamu tahu kalau tugas dokter itu mulia, dokter terlatih punya hati untuk menyelamatkan orang lain.

Seperti dr. Ela yang dengan sepenuh hati selama 6 tahun mengabdi di pedalaman Indonesia. Penempatan di daerah terpencil ini bukanlah kemauan pribadinya. Setelah lulus dari spesialis penyakit dalam, ia ditempatkan ke Nusa Tenggara Timur tepatnya di desa Betun, kabupaten Malaka. Dari pengalamannya pribadi, dr. Ela menuturkan bahwa menjadi dokter di pedalaman itu butuh hati yang besar. Ia tidak bisa mengharapkan banyak fasilitas canggih yang bisa mendukungnya untuk mengobati masyarakat disana. Contohnya saja, di desa ia bertugas tidak ada unit tranfusi darah dan perawatan Intensive Care Unit (ICU).

Bukan itu saja, dr. Ela juga harus berjuang dengan bahasa daerah dan budaya masyarakat Malaka supaya bisa menyadarkan mereka akan pentingnya kesehatan. Demi menyehatkan masyarakat, ia bahagia jika pasien yang ia tangani bisa tersenyum, pulang dengan kondisi sehat dan tidak khawatir akan biaya kesehatan. Mulia sekali kan?

Nah, tidak hanya dr. Ela yang memiliki pengalaman unik ketika menjadi dokter. Kali ini YuKepo sudah merangkum 5 kisah dokter yang rela hidup di pedalaman demi menyehatkan masyarakat. Kamu mau tahu siapa saja mereka? Yukepo!

1. dr. Rossy Tedjaningsih

Dokter lulusan Universitas Kristen Maranatha ini menjadi dokter di Puskesmas Sungai Ayak, Kalimantan Barat. Dari tahun 2004-2009 ia merasakan listrik hanya hidup sampai Maghrib saja dan barulah pada tahun 2010, listrik menyala sepanjang hari. Sungai Ayak dulunya adalah daerah yang kumuh dengan akses jalan sulit tapi akhirnya kini berubah menjadi tempat yang banyak dikunjungi dokter-dokter muda untuk praktik.

Tak hanya mengobati orang sakit, tapi membangun sarana dan prasarana desa juga.

 

2. drg. Annisya Muharti

Selama 5 tahun, dokter gigi ini mengabdi di pedalaman Papua. Bahkan ia dikabarkan rela meninggalkan kenyamanan ibu kota dan lebih memilih untuk menolong orang-orang Papua. Pertama kali sampai di Bandara Sentani, ia sempat mengeluh karena harus menempuh perjalanan yang jauh lagi dengan ‘pesawat capung’ untuk sampai di kabupaten Puncak Jaya. Tapi lama-kelamaaan hatinya tertinggal di daerah ini dan ia rela juga merangkap sebagai sopir ambulans untuk menjemput pasiennya.

Hebat ya, jadi sopir ambulans juga dilakoninya tanpa malu.

3. dr. Nurlia Sanusi

Sejak tahun 2013, dokter ini berani memasuki hutan dan sengaja tinggal di pedalaman wilayah Terab yang ada di bagian timur Taman Nasional Bukit Duabelas. Ia mengadakan pemeriksaan reguler dan mengobati orang-orang rimba secara gratis. Apalagi orang-orang rimba rentan terkena penyakit saat sedang melakukan tradisi melangun yang berarti harus berpindah jika ada kerabatnya yang meninggal.

Sampai masuk hutan segala dan harus ‘jemput bola’ lho.

4. dr. Marcella

Dokter magang ini sadar kalau hidup sebagai dokter di pedalaman itu pastilah tidak bisa berharap gaji banyak. Itulah yang dirasakan dr. Marcella yang harus sambilan mengamen untuk tetap bisa mendapatkan uang yang ia gunakan untuk menempuh jarak 63 km ke Minahasa Selatan. Perjalanan yang bisa ditempuh selama 2 jam ini melewati hutan dan jurang. Ia merasa tak cukup jika mengandalkan gaji dari pemerintah sebesar Rp 2,5 juta per bulan sedangkan biaya makan di daerah Indonesia Timur ini terbilang cukup mahal daripada di Jawa.

Astaga, dokternya sampai jadi pengamen gini ya.

5. dr. Shafhan Dustur

Dokter ini mengabdikan diri selama setahun di hutan Kelay, Kalimantan Timur. Masalah krusial yang pernah ia temui adalah ketika harus mengantarkan ibu yang mau melahirkan dari desa dekat hutan ke pusat kecamatan dengan jarak yang cukup jauh. Sepulangnya, mereka tidak langsung balik ke pinggir hutan tempat mereka tinggal tapi mereka harus mendirikan bivak yang beralaskan terpal dan tidur di pinggiran sungai karena sudah larut malam.

Duh, bersyukur ya dok gak ada buaya yang menerkam saat tidur di pinggir sungai.

Melihat penjelasan di atas, kamu jadi tahu kan kalau sebagai dokter di pedalaman itu butuh hati yang tegar. Rela menjalani hidup susah juga bagian dari tantangan yang mengasyikan, toh kebahagiaannya kan memang gak diukur dari uang yang didapat tapi ukurannya saat melihat pasien mereka bisa hidup sehat dan bahagia.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Yuniar Dwi Setiawati
Gak Punya Quote Nih!
0SHARES