Anak-anak Ini Pertaruhkan Nyawa Menyeberangi Sungai Untuk Pergi ke Sekolah

26 April 2017
|Fatwah Diniaty
0SHARES

Lagi-lagi pemandangan miris terlihat di beberapa pelosok negeri ini, lebih tepatnya kondisi miris terlihat dari warga Dusun Kedungmiri, Desa Opo-Opo, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Desa yang terletak 10 kilometer dari pusat Kabupaten Probolinggo ini memiliki akses lokasi yang terbilang sulit dan kurang memadai.

Rutinitas warga dari desa satu ke desa yang lainnya dipisahkan oleh sebuah sungai Rondoninggo. Apabila melewati jalur darat maka jarak tempuh ke dusun tetangga pun akan memakan waktu lebih lama karena mereka harus berputar, hingga akhirnya warga desa pun lebih memilih untuk menyebrangi sungai untuk menjalankan segala aktivitasnya. Tak terkecuali dengan anak-anak.

Anak-anak yang ada di dusun ini terpaksa harus menyeberangi aliran sungai untuk bisa sampai ke sekolah yang terletak di desa seberang sungai. Menyeberangi aliran sungai bukanlah suatu perkara mudah, pasalnya anak-anak harus sangat berhati-hati jikalau aliran air sedang deras, yang bisa kapanpun menyeret anak-anak tersebut masuk ke dalam arusnya. Belum lagi ditambah dengan batuan-batuan licin yang berada di dalam sungai. Para siswa harus ekstra berhati-hati agar tidak tergelincir dan jatuh. Saat menyeberangi sungai, anak-anak harus mencopot sepatu mereka, serta menyingsingkan seragam mereka agar tidak basah terkena air.

Tidakkah kamu merasa miris melihat kondisi seperti ini? Bagaimana tidak, kondisi seperti ini harus dilalui para siswa setiap hari untuk bersekolah. Mereka mempertaruhkan nyawa mereka dalam perjalanan menuju sekolah untuk menuntut ilmu. Bahkan, seperti yang telah dilansir dari Detik.com (25/04/2017), seorang siswa berusia 6 tahun yang bernama Rendy mengaku dengan polosnya bahwa ia sebenarnya merasa takut saat menyeberangi aliran sungai.

Saat ditemui usai menyeberang sungai, Rendy mengaku jika kedalaman air telah berada di atas lutut, maka ia tidak akan berani menyebrang sungai. Ia akan menunggu orang dewasa untuk menyebrangkannya, kalau tidak ada ya terpaksa Rendy tidak pergi ke sekolah.

Selain anak-anak, ternyata ada seorang wali murid yang juga menyampaikan kondisi miris perjalanan dari desa satu ke desa yang lain, ia adalah Hanima (25) yang memiliki harapan besar kepada pemerintah agar segera membangun jembatan penyeberangan di desa ini. Ia juga menyampaikan, apabila kondisi seperti ini terus dibiarkan, maka nyawa anak-anak serta warga desa yang akan menjadi taruhan saat menyeberangi sungai. Banyak warga desa yang mengharapkan pemerintah setempat segera membangun jembatan  penghubung agar memudahkan warga, khususnya para siswa untuk pergi ke sekolah dengan aman tanpa harus menyeberangi sungai.

Aktivitas anak-anak yang seharusnya dijalankan dengan penuh keceriaan dan kedamaian kini harus pudar karena kondisi akses penghubung desa yang tidak memadai, bahkan tidak ada. Mereka haru rela berjuang melewati aliran sungai yang dingin setiap kali berangkat sekolah. Belum lagi ditambah dengan bahaya yang siap mengancamnya kapanpun. Tetapi kondisi ini tidak membuat anak-anak tersebut menyerah untuk menuntut ilmu. Karena ilmu merupakan hal terpenting yang mampu menentukan masa depan mereka.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Fatwah Diniaty
Gak Punya Quote Nih!
0SHARES