Tanggapan Tsamara Dibantah Oleh Media Rusia, Begini Lho Fakta Soal Korupsi di Rusia!

13 April 2018
|Ojik
0SHARES

Baru-baru ini politikus dari Partai Solidaritas Indonesia atau PSI, Tsamara Amany mendapatkan kritik dari salah satu media Rusia, Rusia Beyond the Headlines atau RBTH akibat videonya yang mengungkapkan tanggapan dirinya atas pendapat Fadli Zon tentang Presiden Rusia, Putin. Bahkan dalam akun instagramnya, Tsamara juga ikut menambahkan bahwa Indonesia tak butuh sosok seperti Putin.

Dalam video itu sendiri, Tsamara mengungkapkan bahwa Putin bukan contoh pemimpin yang baik. Putin dianggap membiarkan praktik-praktik korupsi yang terjadi di Rusia. Bahkan indeks persepsi korupsi Indonesia, jauh di atas Rusia. Tsamara juga mengungkapkan bahwa di Rusia tidak ada kebebasan beraspirasi seperti di Indonesia. Melihat pernyataan yang cukup “keras” dari Tsamara, RBTH langsung memberikan tanggapan lewat akun @RBTHIndonesia. RBTH mengungkapkan agar Tsamara lebih bijak dalam mengomentari negara lain, terlebih pengetahuannya akan negara tersebut sangat minim. Bahkan RBTH juga mengungkapkan, jika ada sesuatu yang kebetulan berhubungan tentang Rusia silahkan mencari tahu lewat mereka.

Selain itu, RBTH juga memberikan beberapa pernyataan yang menyanggah argumen dari Tsamara lewat videonya. Terutama pernyataan Tsamara terkait korupsi di Rusia yang dibiarkan begitu saja. Sebenarnya bagaimana sih fakta soal korupsi di Rusia? Agar nggak salah kaprah dan hanya terombang-ambing ucapan politisi ini dan itu, yuk kita kepo!

1. Beberapa aktivis anti-korupsi diancam dan dibunuh di Rusia

Seperti yang dikutip dari tirto.id, “bagi para jurnalis maupun aktivis anti korupsi, dan HAM, Rusia adalah tempat yang mengerikan”. Salah satu contohnya adalah kematian salah satu aktivis dan jurnalis anti-korupsi dan HAM bernama Politkovskaya, yang wafat pada 7 Oktober 2006. Ia ditemukan di depan kamar apartemennya dengan keadaan sudah terbujur kaku dan dengan luka tembak di dada, pundak, dan kepala. Kejadian ini menimbulkan spekulasi terkait kebersamaan dengan ulang tahun Vladimir Putin yang jatuh pada tanggal yang sama. Selain Politkovskaya, pembunuhan terhadap aktivis anti korupsi dan HAM juga pernah terjadi pada 3 Juli 2003 yang menimpa, Yury Shchekochikhin. Dalam catatan Comitee to Protect Journalist (CPJ) 2014, Rusia menempati posisi ke -5 sebagai negara paling bebahaya bagi jurnalis saat menjalankan profesinya

2. Kepala badan anti korupsi ditahan

Di samping tudingan ketidakramahan Rusia bagi para aktivis anti korupsi dan HAM, ternyata Rusia pun cukup tegas dalam penanganan kasus korupsi yang pernah menimpa kepala badan anti korupsi di Rusia. Tak tanggung-tanggung, kepala badan anti korupsi yang bernama Dmitri Zakharchenko ini ditangkap dengan barang bukti uang suap sebesar 120 juta Dollar Amerika, atau setara sekitar 1,6 Trilliun Rupiah. Kejadian ini terjadi pada tanggal 11 September 2006. Sebenarnya ini juga bukan kali pertama petinggi Rusia ditangkap terkait kasus korupsi. Sebelumnya, kepolisian Rusia juga pernah menangkap pejabat penting dalam Komite Investigasi Rusia atas tuduhan menerima suap besar dari oknum masyrakat sipil untuk membatalkan kasusnya.

3. Munculnya ‘New Kids on the Block’

Pada 26 Maret 2011 terjadi demonstrasi besar terhadap Putin. Sekitar 60.000 warga dari 82 daerah memprotes dugaan praktik korupsi yang dilakukan Perdana Menteri Rusia Dmitri Medvedev. Menariknya jika sebelumnya demonstrasi diisi oleh para aktivis dan masyrakat paruh baya, 60 % aksi kali ini dipelopori oleh anak muda 13-25 tahun yang seringkali dianggap sebagai generasi paling apolitis di Rusia. Perlawanan anak muda ini merupakan langkah mereka untuk merebut status quo yang membuat anak muda selama ini tertindas. Bagi mereka usia muda merupakan hak istimewa dan maka dari itu patut untuk diperjuangkan untuk menuntut pembasmian korupsi.

4. Telah diakui pula oleh RBTH, bahwa korupsi memang merajalela di Rusia

Bukan hanya RBTH yang menyatakan fakta ini. Berdasarkan Indeks Persepsi Korupsi 2017 yang diterbitkan oleh Transparency International, sebuah organisasi internasional yang bertujuan mengentaskan korupsi, Rusia menduduki peringkat 135 dari 180 negara, jauh di bawah Indonesia yang menduduki peringkat 96. Dan selama lima tahun terakhir, kondisi praktik korupsi di Rusia terus menerus memburuk dari tahun ke tahun.

5. Korupsi di Rusia menjamur akibat adanya kecenderungan pola hubungan patron-client antara pemerintah dan rakyat Rusia.

Hal ini diungkapkan oleh Anton Orekh, seorang jurnalis progresif asal Rusia. Ia menulis dalam Yezhednevny zhurnal, bahwa Rusia tidak mengenal kata korupsi. Praktik korupsi ala barat seperti yang dipahami di Indonesia dan Amerika, merupakan suatu kewajaran bagi masyarakat dan pemerintah Rusia. Mereka menyebutnya sebagai hubungan keramahtamahan dan pertanggungjawaban antara rakyat dan pemerintah. Atau dengan kata lain, relasi patron-client di mana pemerintah menerima persenan kekayaan dari rakyat dan sebagai imbalannya pemerintah akan melindungi dan memenuhi kepentingan 'client' atau rakyatnya.

6. Terlepas dari praktik korupsi yang begitu sistematik dan terlembaga dengan budaya 'patron-client' yang sesat, Rusia tidak hanya tinggal diam

Terdapat berbagai upaya pemberantasan korupsi yang dilakukan oleh pemerintah Rusia, meski mungkin belum maksimal dan membuahkan hasil yang positif. Namun pemerintah Rusia telah menyadari adanya praktik korupsi yang perlu untuk ditangani dengan cukup serius. Hal ini dibuktikan dengan penetapan National Anti-Corruption Plan yang diperbarui di tiap periode guna memastikan lancarnya eksekusi kebijakan tersebut.

Seperti halnya di Indonesia, praktik korupsi bisa terjadi dimanapun. Namun bukan karena banyak terjadi lantas praktik ini bisa diwajarkan begitu saja. Karena itu, baik Indonesia maupun Rusia, yang masih sama-sama berjuang memberantas korupsi, ada baiknya untuk belajar dari satu sama lain. Indonesia perlu meniru ketegasan Rusia dalam menyikapi bahkan petingginya sekalipun yang terbukti melakukan korupsi. Dan Rusia dapat belajar dari Indonesia mengenai manajemen lembaga anti-korupsi yang efektif seperti KPK.

Perihal argumen yang memulai polemik ini, terkait apakah Indonesia membutuhkan pemimpin seperti Putin, hal ini bisa kita nilai masing-masing. Apakah sifat dan sikap Putin yang cenderung otoriter dan keras ini akan cocok bagi masyarakat Indonesia? Atau justru tambah menimbulkan huru-hara?


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Ojik
"masa muda masa yang berapiapi."
0SHARES