Sejarah Lipstik, Mulai dari Pewarna Bibir hingga Simbol Perlawanan Perempuan

15 November 2017
|Lulu Lukyani
0SHARES

Ngomongin soal kecantikan, pasti gak jauh-jauh dari make up. Ngomongin soal make up gak lengkap kalo gak ngomongin lipstik. Alat make up yang berfungsi untuk mewarnai bibir ini sangat digilai oleh perempuan. Bahkan, seolah menjadi barang wajib yang gak boleh terlewat. Puluhan ribu hingga jutaan rupiah rela dikeluarkan untuk membeli alat make up yang berbentuk batangan ini. Gak hanya lipstik produk dalam negeri, produk luar negeri pun sekarang sudah banyak diburu oleh kaum Hawa penggila lipstik.

Walaupun lipstik terlihat seperti barang sepele, yakni hanya sebagai alat make up pewarna bibir, ternyata lipstik ini punya sejarah yang panjang, lho. Sejarah panjang ini yang mengungkap kalau ternyata fungsi lipstik bukan cuma sebagai pewarna bibir, tapi juga sebagai simbol perjuangan perempuan. Lho, kok bisa? Bisa dong! Biar tau lebih lengkapnya, yuk langsung aja kepoin fakta-fakta di balik sejarah lipstik!

Lipstik sudah ada sejak tahun 3500 SM. Adalah Ratu Schub-Ad dari Ur, Sumeria Kuno, yang pertama kali menggunakan lipstik sebagai pewarna bibir. Ratu Schub-Ad membuat lipstiknya dari campuran timah putih dan tumbukan batu permata yang dioleskan ke bibir. Bangsa Mesopotamia pun mulai menciptakan lipstik pada tahun 3000 SM, lima abad setelah bangsa Sumeria. Lipstik di Mesopotamia dibuat dari campuran lemak, lilin, tumbukan batu permata dan perhiasan. Setelah Mesopotamia, Mesir Kuno mengikuti jejak dengan menciptakan dan memakai lipstik. Bangsa Mesir membuat lipstik dari oker merah yang dicampur dengan getah. Bedanya lagi, bangsa Mesir Kuno gak hanya memakai lipstik warna merah, tetapi juga lipstik berwarna orange, hitam-biru, dan magenta. Oh iya, lipstik pada masa itu tidak hanya dipakai oleh perempuan, tetapi juga oleh laki-laki, terutama golongan bangsawan.

Masyarakat Yunani memberikan label buruk untuk lipstik. Lipstik di masyarakat Yunani hanya dipakai oleh perempuan pekerja seks. Pekerja seks yang tidak memakai lipstik akan dihukum karena dituduh berpura-pura menjadi perempuan baik. Berbeda dengan Yunani Kuno, lipstik di Eropa dipakai oleh perempuan-perempuan miskin. Hal ini terjadi di Spanyol pada abad ke-6. Baru pada abad ke-9, perempuan bangsawan Eropa mulai tertarik memakai lipstik. Lipstik sebagai penentu kelas sosial juga terjadi di Italia. Lipstik yang berwarna pink cerah adalah lipstik perempuan kelas atas dan lipstik yang berwarna merah adalah lipstik perempuan kelas bawah.

Pemakaian lipstik ternyata sempat dilarang, lho, oleh Gereja. Terutama Gereja Inggris pada abad pertengahan yang sangat melarang perempuan mengunakan lipstik sebagai riasan. Gereja menganggap perempuan yang memakai lipstik adalah “inkarnasi dari setan” karena mengubah ciptaan Tuhan. Walaupun gereja melarang keras pemakaian lipstik, masih banyak para perempuan yang tidak menganggap hal tersebut sebagai dosa. Bahkan, popularitas dan tingkat pemakaian lipstik pada saat itu semakin meningkat.

Setelah Gereja, Parlemen Inggris juga melarang pemakaian lipstik. Parlemen Inggris mengeluarkan perintah kepada para laki-laki untuk menceraikan istrinya jika ketahuan sang istri memakai lipstik ketika prosesi pernikahan berlangsung. Bahkan, para perempuan yang memakai lipstik juga akan dituduh sebagai penyihir. Pelarangan ini tetap berlangsung sampai masa pemerintahan Ratu Victoria I. Lipstik tetap mendapatkan citra yang buruk dan hanya boleh digunakan oleh pekerja seks dan aktris. Walaupun demikian, para perempuan tetap mencari-cari cara untuk memakai pewarna bibir dan penjual lipstik pun tetap menjual lipstiknya secara diam-diam.

Pada abad ke-20, lipstik mulai mendapat status yang tinggi dan tidak lagi dipandang buruk. Para aktris teater yang setiap hari memakai lipstik dan menghibur masyarakat berperan besar untuk kepopuleran lipstik. Bahkan, pada masa itu lipstik dijadikan sebagai simbol perlawanan perempuan! Hal ini berawal ketika Elizabeth Cady Stanton dan Charlotte Perkins Gilman, yakni ketua gerakan suffergate New York, membagikan kertas berisi pewarna bibir untuk para perempuan yang mengikuti demonstrasi menuntut hak pilih pada tahun 1912. Selain itu, pemerintah Amerika juga mengeluarkan poster-poster propaganda perang yang mengajak perempuan berkontribusi untuk negara yang selalu memuat gambar perempuan yang menggunakan lipstik merah. Tidak berhenti di situ, lipstik pun akhirnya menjadi simbol untuk lipstick feminism, yakni sekelompok perempuan yang memperjuangkan nilai-nilai perempuan tradisional sebagai bentuk pemberdayaan mereka.

Nah, itu dia fakta-fakta seputar sejarah lipstik. Dari awal pembuatan lipstik, fungsi lipstik adalah untuk menentukan kelas sosial perempuan hingga menjadi simbol perlawanan perempuan. Menarik banget kan? Ternyata lipstik bukan sekadar alat make up, tapi juga bentuk pemberdayaan kaum perempuan. Jadi, hari ini kamu mau pake lipstik warna apa?


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Lulu Lukyani
Gak Punya Quote Nih!
0SHARES