Nggak Nyampe Seminggu, 7 Kepala Negara Ini Menjabat dalam Waktu yang Sangat Singkat!

05 Januari 2018
|Galih Wisnu Brata
0SHARES

Kepala negara mengemban tugas yang amat berat. Sebagai kepala negara, ia bertugas untuk mengatur kehidupan di negerinya. Butuh waktu yang tak sedikit untuk bisa mencapai negara yang sesuai dengan harapan. Hal yang sebaliknya dialami oleh 7 kepala negara ini. Ketujuh kepala negara tersebut hanya menikmati kursi kekuasaan dalam waktu yang sangat singkat. Penasaran siapa saja? Yuk simak ulasannya!

1. Khalid bin Barghash (2 hari)

Hamid bin Thuwaini, pemimpin Zanzibar, wafat di tahun 1896. Untuk mengisi kekosongan pemimpin, sepupunya, Khalid bin Barghash menduduki jabatan sultan di pulau kecil yang masih di bawah kekuasaan Kerajaan Inggris. Namun, hal itu ditentang oleh pihak Kerajaan Inggris. Kerajaan Inggris menjatuhkan ultimatum dan menyuruh Khalid untuk mundur. Khalid menolak perintah, Kerajaan Inggris pun bertindak. Lima kapal dikirim untuk menyerang Zanzibar maka pecahlah perang Anglo-Zanzibar. Khalid pun menyerah dan kabur ke Afrika Timur. Jika dihitung, masa jabatan Khalid hanya bertahan 2 hari.

2. Diosdado Cabello (1 hari)

Tahun 2002, Hugo Chavez, presiden Venezuela dipaksa mundur dari jabatannya karena sebuah kudeta. Istana kerajaan pun berhasil diambil alih oleh pasukan pemberontak. Hugo Chavez pun menyerahkan tahta kepemimpinannya. Diosdado Cabello, sang Wakil Presiden, secara otomatis menduduki kursi nomor satu di Venezuela. Namun, Cabello masih menginginkan Chavez untuk menjadi presiden. Dalam waktu satu hari, ia pun menunjuk Chavez menjadi wakilnya kemudian mengundurkan diri. Hal itu membuat Chavez kembali menjadi presiden.

3. Roger LaFontant (kurang dari 24 jam)

Presiden Haiti di tahun 1991 mengundurkan diri dari jabatannya. Jabatan tersebut seharusnya diteruskan oleh Ketua Mahkamah Agung, Ertha Pascal Trouillot. Ia berencana melakukan pemilihan umum secara demokratis. Hal itu ternyata memicu kudeta yang digagas oleh Jenderal Roger LaFontant. Ertha pun lengser dari kursi pemimpin. Setelah berhasil melakukan kudeta, LaFontant langsung mendeklarasikan dirinya sebagai presiden Haiti. Namun, kudeta lain pun muncul. LaFontant harus tergusur dan Ertha kembali menjadi pemimpin negara. Kepemimpinan LaFontant hanya berlangsung kurang dari 24 jam.

4. Dr. Joseph Goebbels (5 jam)

Nazi yang dipimpin oleh Adolf Hitler terkenal dengan kekejamannya. Saat tentara komunis Rusia telah menyerang Berlin dan kekuatan Jerman mulai menurun, Hitler memutuskan untuk menunjuk penerusnya. Ia memilih Dr. Joseph Goebbels. Setelah itu, Hitler memutuskan mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Goebbels pun menjadi pemimpin Nazi. Namun, banyak yang menyangsikan bahwa Goebbels mampu menggantikan Hitler sebagai pemimpin. Ketakutan para bawahan Nazi akhirnya terbukti. Setelah 5 jam menjabat, pasukan musuh menyerang. Goebbels tidak tahu harus berbuat apa dan ia tidak mau ditangkap. Ia pun memutuskan menyusul Hitler ke alam lain dengan cara bunuh diri juga.

5. Skender Gjinushi (kurang dari 5 jam)

Meski kalah dalam pemilihan presiden, Sali Berisha tetap memaksa untuk menjabat sebagai Presiden Albania. Rakyat pun tidak terima, unjuk rasa untuk menjatuhkan Sali digelar. Karena emosi massa semakin memanas, Sali pun akhirnya bisa dipukul mundur. Jabatan kepala negara yang kosong diserahkan kepada Skender Gjinushi. Tak berselang lama, Skender juga dicopot jadi presiden. Dalam waktu kurang dari 5 jam, lembaga parlemen Albania telah menemukan sosok lain yang pantas untuk membawa kesejahteraan bagi rakyat Albania.

6. Carlos Manuel Piedra (sekitar 2 jam)

Pemberontakan pernah terjadi di Kuba tahun 1959. Pemberontakan yang terjadi di negara yang terletak di Karibia utara tersebut mengharuskan Sang Presiden, Batista, dan Wakilnya, Anselmo Alliegro, mundur dari jabatannya. Karena presiden dan wakilnya telah lengser, jabatan kepala negara sepatutnya diemban oleh Ketua Kongres. Belum juga ditunjuk secara resmi, Ketua Kongres memilih angkat tangan karena merasa tidak sanggup melawan gelombang pemberontakan. Jabatan presiden akhirnya diberikan kepada Ketua Mahkamah Agung, Carlos Manuel Piedra. Namun, baru sekitar 2 jam, Piedra pun memilih kabur karena pemberontak telah mengepung istana kepresidenan.

 

7. Luis Felipe (30 menit)

Pada tahun 1908, Raja Carlos dari Kerajaan Portugis yang ditemani Pangeran Filipe beserta rombongan melakukan tur kerajaan. Nahas, rombongan tersebut diserang oleh pasukan revolusi. Dalam tragedi tersebut, Raja Carlos dan Pangeran Filipe tertembus timah panas. Sang Raja meninggal di tempat. Nyawa Sang Pangeran masih tertolong walaupun dalam perjalanan ke rumah sakit, ia juga harus menyusul Raja Carlos. Secara teknis, sebelum Pangeran Filipe meninggal, ia sempat menjadi Raja Portugis menggantikan ayahnya. Ia menjabat Raja Portugis dalam keadaan sekarat selama 30 menit.

Ternyata banyak faktor yang membuat para kepala negara di atas harus lengser dari jabatannya walau baru sebentar duduk di kursi kekuasaan. Kebanyakan sih karena adanya pemberontakan dan penyerangan, kecuali yang terakhir. Walau singkat dan tidak pernah benar-benar memimpin, setidaknya ketujuh orang tersebut tetap dikenang sebagai kepala negara.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Galih Wisnu Brata
"memahami karena menjalani"
0SHARES